Pasokan Rumah Australia Berpotensi Kurang 262.000 Unit hingga 2029
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Keterbatasan lahan dan tekanan pasokan hunian di kawasan metropolitan Sydney, Australia, mendorong pengembangan alternatif rumah tapak melalui konsep townhouse generasi baru. Hunian ini menawarkan efisiensi penggunaan lahan dengan tetap mengutamakan ruang, privasi, dan kenyamanan penghuni.
Laporan State of the Housing System 2025 yang dirilis National Housing Supply and Affordability Council (NHSAC) memproyeksikan pembangunan 938.000 rumah baru hingga 2029. Jumlah tersebut berada di bawah target pemerintah Australia sebesar 1,2 juta rumah, sehingga berpotensi menimbulkan kesenjangan pasokan sekitar 262.000 unit.
Keterbatasan lahan, biaya konstruksi, ketersediaan tenaga kerja terampil, produktivitas sektor konstruksi, serta proses perizinan menjadi sejumlah tantangan dalam memenuhi kebutuhan hunian.
Di tengah kondisi tersebut, kategori missing middle housing, termasuk townhouse, menjadi salah satu alternatif untuk mengisi kesenjangan antara rumah tapak konvensional dan apartemen bertingkat tinggi.
CEO Capital Value International Group (CVIG) Chandra Leonardi mengatakan, keterbatasan lahan turut mengubah pertimbangan konsumen dalam menentukan kualitas hunian premium.
Menurutnya, pembeli tidak lagi hanya mempertimbangkan luas tanah, tetapi juga ruang yang tersedia, privasi, aksesibilitas, efisiensi bangunan, dan potensi nilai properti dalam jangka panjang.
“Pembeli tidak hanya mencari berapa luas tanah yang mereka miliki, tetapi apa yang bisa mereka dapatkan dari properti tersebut,” ujar Chandra dalam siaran pers, Senin (12/10/2026).
Baca Juga
Fokus Fundamental Bisnis dan Kualitas Layanan, PP Properti (PPRO) Diganjar Dua Penghargaan Ini
Dia menilai, townhouse berpeluang memenuhi kebutuhan tersebut melalui pemanfaatan lahan yang lebih efisien tanpa sepenuhnya meninggalkan karakter rumah tapak.
Sejalan dengan perubahan tersebut, CVIG mengembangkan Highgrove, proyek luxury townhouse di kawasan Roselands, New South Wales (NSW), Australia.
Proyek yang dirancang oleh M.A.R.S Architecture & Interior Design Australia dengan konsep Contemporary Modern ini memiliki luas area strata sekitar 240 meter persegi hingga 340 meter persegi per unit.
Highgrove juga berada di area cul-de-sac atau jalan buntu, dengan intensitas lalu lintas yang lebih rendah dibandingkan jalan utama. Lokasinya yang berada di area berkontur tinggi atau elevated menawarkan perspektif terbuka ke arah cakrawala Sydney.
Setiap unit dilengkapi double garage untuk mendukung kebutuhan parkir dan akses kendaraan penghuni.
Chandra mengatakan, pengembangan Highgrove didasarkan pada upaya mempertahankan karakter hunian rumah tapak dalam format yang lebih efisien terhadap penggunaan lahan.
Menurut dia, townhouse tidak harus menjadi pilihan kompromi bagi konsumen yang menginginkan ruang dan privasi. Desain bangunan dan pengaturan ruang menjadi faktor penting dalam membentuk pengalaman tinggal.
Baca Juga
KAI Properti Capai 98,95%, Pekerjaan di 188 Titik Pelintasan Berjalan
Standar Efisiensi Energi
Selain aspek ruang dan privasi, Highgrove mengintegrasikan sejumlah fitur efisiensi energi dan pengelolaan lingkungan.
Proyek ini menerapkan Energy Efficiency Rating 7-Star, dengan pendekatan desain pasif, pemanfaatan pencahayaan alami, skylight, lampu hemat energi, serta sistem pemanas berefisiensi tinggi.
Highgrove juga dilengkapi sistem pengelolaan air hujan melalui On-Site Detention (OSD) Tank yang ditempatkan di bawah area driveway. Sistem tersebut dirancang untuk membantu mengendalikan limpasan air hujan dari area kompleks.
Chandra mengatakan, efisiensi energi dan keberlanjutan semakin relevan bagi pemilik hunian maupun investor karena berkaitan dengan kenyamanan, biaya operasional, serta pertimbangan nilai aset dalam jangka panjang.
Di tengah tekanan pasokan perumahan Sydney, pengembangan townhouse dengan penekanan pada ruang, privasi, dan efisiensi energi menjadi salah satu pendekatan yang ditawarkan pengembang untuk menjawab perubahan kebutuhan pasar properti.
