Produksi Listrik PLTU 'Captive' Indonesia Tembus 50% di Atas PLTU 'On-Grid'
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Produksi listrik pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) captive berbahan bakar batu bara di Indonesia pada 2025 diperkirakan sekitar 50% lebih tinggi dibandingkan produksi PLTU yang terhubung ke jaringan listrik nasional (on-grid). Temuan tersebut berdasarkan analisis lembaga riset energi global Ember.
Ember menggunakan pendekatan berbasis output industri yang dilayani setiap pembangkit untuk memperkirakan produksi listrik captive, bukan semata-mata berdasarkan kapasitas terpasang. Pembangkit captive dibangun perusahaan industri untuk memenuhi kebutuhan listrik fasilitasnya sendiri dan umumnya berada di kawasan yang belum terjangkau jaringan utama PLN.
Baca Juga
Atasi Lonjakan Listrik Pusat Data dan AI, Wärtsilä Tawarkan Pembangkit Fleksibel
Berdasarkan analisis tersebut, total pasokan listrik captive Indonesia mencapai lebih 161 terawatt hour (TWh) pada 2025. Angka ini sekitar 12% lebih tinggi dibandingkan data dalam Handbook of Energy and Economic Statistics of Indonesia (HEESI) 2025 Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), yang mencatat listrik captive berbasis batu bara sebesar 134 TWh.
“Pembangkit listrik captive memainkan peran penting dalam pembangunan industri di Indonesia. HEESI terbaru telah menghadirkan pendekatan top-down untuk memotret operasi sektor khusus ini. Analisis kami menawarkan perspektif bottom-up dengan fokus yang lebih besar pada aktivitas industri untuk melengkapi data HEESI,” kata Analis Data Ember, Giang Vu, dalam laporannya, dikutip Kamis (24/9/2026).
Industri pengolahan nikel menjadi pengguna terbesar listrik captive dengan konsumsi lebih dari 81 TWh pada 2025. Lebih dari 94% pasokan listrik untuk industri tersebut berasal dari batu bara. Setelah nikel, konsumsi listrik captive terbesar berasal dari industri pulp dan kertas sebesar 22 TWh serta kawasan industri multisektor sebesar 14 TWh.
Penggunaan batu bara captive juga mulai terlihat pada industri aluminium. Selama ini, smelter PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) di Kuala Tanjung memperoleh pasokan listrik dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Sungai Asahan yang telah beroperasi sejak 1982. Pada 2025, pasokan listrik tenaga air tersebut mencapai lebih dari 4 TWh.
Namun, data Ember menunjukkan lebih dari 1,3 gigawatt (GW) PLTU captive telah melayani smelter aluminium dan alumina hingga 2025. Kondisi tersebut membuat porsi energi air dalam pasokan listrik industri aluminium berpotensi terus menurun seiring bertambahnya smelter baru yang menggunakan pembangkit berbahan bakar batu bara.
“Perincian pengguna akhir penting bagi akurasi sekaligus bagi pemahaman. Pembangkit captive melayani industri dengan profil operasi yang sangat berbeda-beda. Karena itu, menerapkan satu asumsi faktor kapasitas untuk seluruh industri akan secara sistematis melebihkan dan mengecilkan angka pembangkitan serta emisi di masing-masing subsektor,” tulis laporan Ember.
Baca Juga
Belum Teken Kerja Sama ASEAN 'Power Grid', Bahlil: Harga Listrik Belum 'Win-win'
Dengan pendekatan berbasis aktivitas industri, Ember memperkirakan pembangkit captive berbahan bakar fosil menghasilkan emisi sekitar 135 juta ton CO2 pada 2025, meningkat dari sekitar 120 juta ton pada 2024. Angka tersebut setara dengan sekitar 48% emisi pembangkit listrik yang terhubung ke jaringan di Indonesia.
Ember juga menyoroti pentingnya peningkatan kepatuhan pelaporan dari operator pembangkit. Meskipun Permen ESDM No. 22/2019 mewajibkan pelaporan emisi melalui platform Apple-Gatrik dan Ampere-Gatrik digunakan untuk mengumpulkan data operasional pemegang izin, tingkat kelengkapan data masih bervariasi. Laporan Ditjen Ketenagalistrikan (Gatrik) 2025 mencatat adanya data emisi dan operasional yang belum lengkap, sementara isu kepatuhan pelaporan kembali dibahas bersama pemegang izin pada Mei 2026.
