Menhub Wanti-Wanti Proyek Trem Bali: Jangan Cuma di Atas Kertas
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Perhubungan (Menhub), Dudy Purwagandhi mendukung rencana pengembangan transportasi berbasis rel dari kawasan Canggu menuju Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali (DPS). Namun, Dudy meminta proyek tersebut segera direalisasikan dan tidak hanya berhenti dalam kajian atau dokumen.
"Kita sih mendukung apapun itu sepanjang untuk melayani masyarakat maupun wisatawan di Bali. Yang paling penting kan mengurangi kemacetan," kata Dudy saat mediabriefing di Jakarta, Kamis (10/9/2026).
Baca Juga
'Water Taxi' Ngurah Rai-Canggu Ditargetkan Beroperasi Semester I 2027
Dudy menilai, moda transportasi yang digunakan dalam proyek tersebut tidak menjadi persoalan selama dapat melayani masyarakat dan wisatawan serta mengurangi kemacetan di Bali.
"Mau pakai balon udara, mau pakai kereta kayak LRT, apa pun kita selalu mendukung. Itu aja, sih," ujarnya.
Menurut Dudy, hal yang menjadi perhatian utama adalah kecepatan realisasi proyek transportasi tersebut.
"Yang paling penting buat saya juga adalah harus cepat. Jangan di atas kertas saja," tegasnya.
Sementara itu, Direktur Jenderal (Dirjen) Perkeretaapian Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Allan Tandiono mengungkapkan, moda yang tengah dikaji untuk rute tersebut berbentuk seperti trem.
"Kayak trem, dan menyusuri pantai," bebernya.
Dudy kemudian menggambarkan konsep trem tersebut dengan moda transportasi yang pernah digunakan pada masa kolonial.
"Ya kayak dulu, zaman Belanda yang di sampingnya ada orang naik sepeda," imbuhnya.
Terkait aspek keselamatan karena trem akan berdampingan dengan kendaraan roda dua dan roda empat, Allan mengatakan, trem tersebut akan beroperasi dengan kecepatan rendah.
"Trem pelan kayak di Solo," katanya.
Sekadar gambaran, trem di wilayah Solo memiliki kecepatan kurang lebih 10-20 kilometer per jam (km/jam) di koridor Jalan Slamet Riyadi. Trem bernama Batara Kresna ini akan menempuh kecepatan 30-40 km/jam ketika keluar wilayah perkotaan menuju Wonogiri.
Sebelumnya, PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI mengkaji pengembangan transportasi berbasis rel dari Canggu menuju Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Kajian tersebut dilakukan menyusul tingkat kemacetan di jalur Canggu-Bandara Ngurah Rai yang mencapai hampir 15 km.
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba menyatakan, penjajakan pengembangan transportasi berbasis rel di Bali mencakup sejumlah pilihan moda, mulai dari Light Rail Transit (LRT) hingga trem listrik.
"Khusus untuk Bali, MoU isinya adalah mempersiapkan, itu Canggu ke bandara (I Gusti Ngurah Rai). Karena tingkat kemacetannya sudah sangat luar biasa, itu sekitar hampir 15 kilometer," ungkap Anne saat konferensi pers di Stasiun BNI City, Jakarta, Jumat (4/9/2026).
Dikatakan Anne, pilihan moda tersebut masih akan dikaji lebih lanjut dengan mempertimbangkan kebutuhan dan karakteristik wilayah Bali.
"Dan kemarin itu penjajakannya adalah berbasis rel, sebutnya kemarin ada LRT, ada trem dan yang lain. Tetapi ini akan dikaji sesuai dengan kebutuhan di sana karena sosiologinya kan beda," katanya.
Anne juga menuturkan, pembangunan jalur rel di Bali tidak dapat serta-merta menggunakan konstruksi layang atau elevated railway. Hal tersebut berkaitan dengan keberadaan pura di Bali.
"Tidak bisa di atas (elevated railway, red) karena mereka punya Pura. Jadi ini yang lagi kita kaji dan juga pembebasan lahan yang harus dikerjasamakan dengan pemerintah daerah setempat," jelasnya.
Dari sisi investasi, KAI juga masih akan melihat pihak yang akan menjadi investor dalam pengembangan transportasi berbasis rel tersebut.
"Dan mengenai investasinya pun pasti kita harus melihat siapa yang akan menjadi investor, tetapi KAI siap untuk bekerja sama," tutur Anne.
Mengutip laman resmi Pemerintah Provinsi Bali, kepadatan penduduk Kota Denpasar dan Kabupaten Badung masing-masing memiliki laju pertumbuhan penduduk sebesar 2,60% dan 2,36%. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan laju pertumbuhan penduduk nasional sebesar 1,08%.
Jumlah penumpang Bandara Ngurah Rai tercatat 24,2 juta penumpang per tahun pada 2019. Jumlah tersebut diproyeksikan meningkat 6% setiap tahun dalam skema moderat dan mencapai kapasitas maksimum antara 2025-2031.
Peningkatan tersebut diperkirakan menimbulkan kemacetan di sejumlah titik sehingga diperlukan transportasi massal untuk mengakomodasi pergerakan masyarakat.
Baca Juga
KAI Kaji LRT hingga Trem Bali Buntut Macet Horor 15 Km di Canggu-Bandara
Dalam studi pra-feasibility study (Pra-FS) yang dilaksanakan PT Industri Kereta Api (INKA), pada 2030 jumlah orang di Bali diproyeksikan mencapai 33 juta atau meningkat 230%. Sementara jumlah kendaraan diproyeksikan mencapai 8,4 juta atau meningkat 220%.
Pergerakan orang tertinggi diproyeksikan berada di empat kota/kabupaten, yakni Denpasar, Badung, Tabanan, dan Gianyar.
PT INKA juga menyiapkan konsep Tram Kuta sebagai salah satu solusi transportasi publik di kawasan Kuta. Tram tersebut direncanakan memiliki panjang trase 12 km, tujuh trainset dengan masing-masing trainset terdiri dari tiga kereta, 11 stasiun, dan satu depo.
Tram Kuta direncanakan memiliki headway 5-10 menit dengan kecepatan sekitar 30 km/jam dengan menggunakan konsep autonomous atau otonom.
