MRT Jadi Koridor Wisata Jakarta
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Jakarta tidak lagi hanya menjadi tempat transit atau pintu masuk wisatawan sebelum melanjutkan perjalanan ke berbagai destinasi di Indonesia. Ibu kota kini telah berkembang menjadi tujuan wisata tersendiri, terutama bagi wisatawan Asia Tenggara yang datang untuk menikmati pusat perbelanjaan, kuliner, gaya hidup, transportasi modern, hingga pengalaman urban.
Founder Tomorrow Retail Group Kenny Koesoemo mengatakan, dalam satu setengah tahun terakhir terlihat peningkatan jumlah wisatawan Asia Tenggara, khususnya dari Malaysia, yang berkunjung ke Jakarta bukan hanya untuk mengikuti agenda wisata konvensional. Mereka datang untuk berbelanja, menikmati makanan, mengunjungi pusat gaya hidup, dan merasakan langsung dinamika kota metropolitan.
“Kami melihat pola kunjungan dan perilaku konsumen secara langsung. Semakin banyak pengunjung dari Asia Tenggara, khususnya Malaysia, datang ke Jakarta untuk berbelanja, menikmati kuliner, gaya hidup, dan pengalaman perkotaan,” ujar Kenny dalam Kadin Diplomatic Economic Breakfast di Jakarta, Jumat (11/9/2026).
Baca Juga
MRT Jakarta Ungkap 'Multiplier Effect' Event Bisa 4-8 Kali Lipat
Acara tersebut dihadiri Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana beserta jajaran pimpinan Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Wakil Ketua Umum Koordinator (WKUK) Kadin Indonesia Bidang Luar Negeri James Riady dan para ketua Kadin daerah, para duta besar, Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah, Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa, jajaran Kadin Indonesia dan Kadin daerah, perwakilan kamar dagang asing, investor, pengusaha, serta praktisi industri pariwisata. Forum itu mencatat kehadiran perwakilan dari 67 negara, terdiri atas 39 duta besar dan 28 anggota korps diplomatik lainnya.
Kenny mengungkapkan, tren tersebut telah memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi sektor ritel. Pada sejumlah koridor perdagangan yang banyak dikunjungi wisatawan, produktivitas bahkan meningkat lebih dari tiga kali lipat dibandingkan kondisi sebelumnya.
Menurut dia, peningkatan itu membuktikan bahwa tren wisata perkotaan bukan sekadar cerita menarik di media sosial, melainkan telah menghasilkan belanja wisatawan, perputaran ekonomi, dan peluang usaha. Para wisatawan mengunjungi pusat perbelanjaan, berburu kuliner, menjelajahi kawasan Blok M, kemudian menggunakan Kereta Cepat Whoosh menuju Bandung karena perjalanan dengan transportasi tersebut telah menjadi bagian dari pengalaman wisata.
“Mereka pergi ke mal, datang ke Blok M, makan, berbelanja, dan menjelajahi kota. Mereka juga semakin banyak menggunakan Whoosh menuju Bandung karena perjalanan itu sendiri menjadi bagian dari pengalaman,” katanya.
Kenny menilai, pariwisata Indonesia selama ini lebih banyak dipersepsikan melalui Bali, pantai, pegunungan, wisata selam, budaya, dan keindahan alam. Seluruh kekuatan tersebut tetap penting, tetapi perkembangan terbaru menunjukkan bahwa wisata perkotaan juga memiliki potensi ekonomi yang sangat besar.
Menariknya, kata dia, lonjakan minat wisatawan terhadap Jakarta tidak terutama digerakkan oleh promosi pariwisata konvensional. Tren tersebut berkembang cepat melalui TikTok, Instagram, dan berbagai video pendek yang menampilkan rekomendasi tempat makan, lokasi berbelanja, kawasan yang perlu dikunjungi, hingga moda transportasi yang patut dicoba.
Satu unggahan mengenai tempat belanja atau kuliner dapat mendorong ribuan orang mengikuti pengalaman yang sama. Karena itu, pariwisata modern tidak lagi hanya bertumpu pada destinasi, tetapi juga pada pengalaman yang mudah ditemukan, dibagikan, dan diulang oleh wisatawan. “Pariwisata saat ini bukan hanya tentang destinasi. Pariwisata adalah pengalaman yang dapat ditemukan, dibagikan, dan diulang oleh masyarakat,” tuturnya.
Berangkat dari perubahan tersebut, Kenny mengusulkan agar jaringan Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta tidak hanya dipandang sebagai sarana transportasi, tetapi juga dikembangkan menjadi koridor pariwisata. Setiap stasiun dapat dirancang sebagai pintu masuk menuju pengalaman urban yang berbeda.
Satu stasiun, misalnya, dapat diarahkan sebagai pusat fesyen, sementara stasiun lainnya menonjolkan kuliner, kebudayaan, industri kreatif, hiburan malam, atau kawasan bersejarah. Koridor pengalaman itu dapat terus dikembangkan hingga Kota Tua sehingga wisatawan bisa menjelajahi Jakarta dari satu stasiun ke stasiun lainnya.
Dengan konsep tersebut, transportasi publik menjadi bagian dari produk wisata, sementara Jakarta menjadi lebih mudah dipahami, dijelajahi, dikemas, dan dipromosikan melalui media sosial. Pengembangan konsep itu juga tidak selalu membutuhkan pembangunan infrastruktur baru dalam skala besar.
Menurut Kenny, sebagian besar kebutuhan justru berada pada aspek kurasi, penataan program, penguatan merek, penyelenggaraan acara, pencahayaan, papan petunjuk, pengembangan ritel dan kuliner, serta promosi digital. Berbagai aset yang dibutuhkan sebenarnya telah tersedia, tetapi belum sepenuhnya terhubung dalam satu pengalaman wisata yang utuh.
“Kadang-kadang peluang itu sebenarnya sudah tersedia. Kita hanya perlu menghubungkan seluruh bagiannya,” ujar Kenny.
Karena itu, tantangan pengembangan pariwisata bukan hanya membangun destinasi baru, melainkan juga membuat kota, sistem transportasi, pusat perbelanjaan, kawasan budaya, dan kekayaan kuliner yang telah ada menjadi lebih mudah ditemukan dan dinikmati wisatawan.
Baca Juga
Jakarta Makin Tertata dengan Inisiasi 9 Kawasan TOD MRT Lebak Bulus-Kota
Kenny optimistis Jakarta dapat menjadi destinasi wisata yang jauh lebih kuat apabila berbagai aset tersebut dikurasi, dihubungkan, dan dipromosikan secara konsisten. Wisata perkotaan juga berpotensi memperbesar belanja wisatawan, menggerakkan sektor ritel dan kuliner, menciptakan lapangan kerja, serta meningkatkan penerimaan devisa.
Di hadapan para duta besar dan anggota komunitas diplomatik, Kenny mengajak mereka menjelajahi kembali Jakarta dengan perspektif baru. Menurut dia, terdapat banyak perkembangan di ibu kota yang belum sepenuhnya dikenal, mulai dari pusat ritel dan kuliner, distrik kreatif, transportasi publik, kawasan bersejarah, hingga beragam destinasi urban baru.
“Barangkali Anda akan menemukan, seperti yang telah dirasakan banyak wisatawan Malaysia, bahwa Jakarta kini telah menjadi sebuah pengalaman wisata. Peluang itu sebenarnya sudah ada di sini. Tugas kita adalah melihatnya, menghubungkannya, dan mempromosikannya dengan lebih baik,” pungkas Kenny.
