Harga Emas Turun 0,5%, Pasar Tunggu Data Inflasi AS
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas turun 0,5% pada Senin (7/9/2026) setelah data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) menunjukkan penguatan dan mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Pelaku pasar kini menunggu data inflasi AS yang akan dirilis pekan ini untuk menentukan arah pergerakan emas selanjutnya.
Harga emas spot turun 0,5% menjadi US$ 4.405,47 per ons pada pukul 02.11 GMT, setelah melemah 1% pada perdagangan Jumat (4/9/2026). Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember turun 0,5% menjadi US$ 4.452,20 per ons.
Data yang dirilis Jumat menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja AS meningkat tajam pada Agustus, sedangkan tingkat pengangguran bertahan di 4,1%. Data tersebut memberikan sinyal bahwa kondisi pasar tenaga kerja mulai membaik setelah menghadapi tekanan dalam beberapa waktu terakhir.
Baca Juga
Harga Emas Antam (ANTM) Naik, Dolar AS dan Imbal Hasil Obligasi AS Melemah
Perkembangan tersebut membuat peluang The Fed menaikkan suku bunga pada pertemuan September tetap terbuka. Pasar selanjutnya mengalihkan perhatian ke sejumlah indikator inflasi yang akan menjadi pertimbangan bank sentral AS dalam menentukan kebijakan moneternya.
Indeks harga produsen atau Producer Price Index (PPI) AS akan dirilis pada Kamis (10/9/2026), sedangkan data indeks harga konsumen atau Consumer Price Index (CPI) akan menyusul pada Jumat (11/9/2026). Kedua indikator tersebut menjadi perhatian karena memberikan gambaran mengenai tekanan harga dalam perekonomian AS.
Kepala Analis Pasar KCM Trade Tim Waterer mengatakan data ketenagakerjaan memberikan kejutan positif yang menekan harga logam mulia. Namun, data tersebut belum menjadi kepastian bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada September.
“Data ketenagakerjaan memberikan kejutan positif yang jelas dan memberi tekanan pada harga logam, tetapi itu bukan jaminan pasti untuk kenaikan suku bunga pada bulan September. Bagian yang benar-benar hilang dari teka-teki ini akan muncul minggu ini dengan data CPI AS,” kata Waterer dilansir CNBC.
Menurut dia, data inflasi akan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed. Jika inflasi kembali tinggi, peluang kenaikan suku bunga dapat semakin menguat dan memberikan tekanan tambahan terhadap harga emas.
“Angka inflasi yang tinggi akan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, menaikkan imbal hasil obligasi lebih lanjut, dan memberikan tekanan lebih berat pada harga emas,” ujar Waterer.
Pasar Pantau Kebijakan The Fed
Berdasarkan alat FedWatch dari CME, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed yang dijadwalkan berlangsung 15-16 September mencapai 58,4%.
Ekspektasi tersebut menjadi sentimen penting bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil, seperti obligasi atau instrumen berbunga. Ketika suku bunga meningkat, aset yang menghasilkan bunga cenderung menjadi lebih menarik dibandingkan emas.
Di sisi lain, emas selama ini dipandang sebagai salah satu aset lindung nilai terhadap inflasi. Namun, hubungan tersebut dapat tertekan ketika kenaikan inflasi mendorong bank sentral menaikkan suku bunga dan imbal hasil obligasi ikut meningkat.
Tekanan terhadap kebijakan moneter AS juga muncul dari Presiden AS Donald Trump. Pada Jumat, Trump mengatakan akan menghentikan perdagangan dengan negara-negara yang mengalami surplus perdagangan dengan Amerika Serikat jika The Fed tidak memangkas suku bunga.
Baca Juga
Harga Emas Antam (ANTM) Naik, Dolar AS dan Imbal Hasil Obligasi AS Melemah
Pernyataan tersebut menambah dinamika di pasar keuangan global ketika investor masih mencermati arah kebijakan moneter AS dan dampaknya terhadap dolar, imbal hasil obligasi, serta komoditas.
Sentimen geopolitik juga tetap menjadi perhatian pasar. Di Timur Tengah, Iran mengatakan akan meningkatkan upaya untuk mengatasi dampak sanksi AS yang telah menekan perekonomiannya. Seorang pejabat senior Iran juga memperingatkan adanya “tanggapan yang menyakitkan” apabila serangan terhadap negara tersebut terus berlangsung.
Di pasar logam mulia lainnya, harga platinum turun 0,2% menjadi US$ 1.805,53 per ons. Harga paladium juga melemah 0,7% menjadi US$ 1.396,08 per ons, sedangkan harga perak spot turun 0,8%.
