Hashim Sebut Teknologi Carbon Capture Bisa Pangkas Emisi hingga 95%, Batu Bara Masih Punya Masa Depan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Iklim Hashim Djojohadikusumo menilai perkembangan teknologi carbon capture and utilization storage (CCS/CCUS) membuka ruang optimisme bagi Indonesia untuk menekan emisi tanpa harus meninggalkan industri energi fosil secara serta-merta.
Hashim mengatakan teknologi menjadi salah satu kunci untuk memperkuat implementasi CCS/CCUS di Indonesia. Menurut dia, sejumlah perkembangan teknologi terbaru bahkan menunjukkan potensi pemanfaatan carbon capture yang lebih luas, termasuk untuk mempertahankan aset industri berbasis fosil.
“Saya ingin menyampaikan beberapa hal yang belum disebutkan hari ini dan yang juga memberikan alasan untuk optimisme. Sekali lagi, jawabannya adalah teknologi. Teknologi akan semakin memperkuat berbagai elemen dalam carbon capture and utilization,” kata Hashim dalam acara The 4th International & Indonesia Carbon Capture and Storage (IICCS) Forum 2026 di Jakarta, Rabu (26/8/2026).
Dia mencontohkan teknologi carbon capture asal Jepang yang diuji coba di Petrokimia Gresik melalui salah satu perusahaan di bawah koordinasi Kementerian Perindustrian. Menurut Hashim, teknologi tersebut mampu menangkap hingga sekitar 90%-95% emisi karbon dari proses yang menggunakan bahan bakar fosil.
“Teknologi tersebut mampu mengurangi emisi karbon hingga 95%. Tepatnya sekitar 90% sampai 95%. Teknologi ini menggunakan bahan bakar fosil, saya diberi tahu yang digunakan adalah gas, tetapi batu bara juga dapat digunakan sebagai input,” ungkap dia.
Selain menekan emisi, eksperimen tersebut menghasilkan produk sampingan berupa soda ash maupun soda kue. Hashim menilai hal ini menjadi peluang ekonomi karena Indonesia masih mengimpor komoditas tersebut. Bahkan, sejumlah perusahaan Jepang disebut telah menyatakan minat untuk menyerap produk soda ash tersebut.
Menurut Hashim, teknologi serupa berpotensi diterapkan lebih luas, tidak hanya pada industri pupuk, tetapi juga pembangkit listrik tenaga batu bara yang dioperasikan PLN maupun perusahaan swasta atau Independent Power Producers (IPP).
Baca Juga
Indonesia Dominasi Dua Pertiga Kapasitas Tambang Batu Bara Dunia yang Habis Izin
“Menurut saya, ini merupakan sesuatu yang patut kita optimistis. Kita sebenarnya dapat memasang perangkat serupa bukan hanya di pabrik atau fasilitas pupuk, tetapi juga di pembangkit listrik tenaga batu bara yang dioperasikan PLN maupun perusahaan swasta,” sebut Hashim.
Dia menilai penerapan teknologi carbon capture dapat memperpanjang masa pemanfaatan industri batu bara nasional sekaligus menekan emisi yang dihasilkan. Dengan demikian, Indonesia tidak harus memilih secara ekstrem antara agenda net zero emissions dan keberlangsungan industri energi fosil.
“Apa artinya? Artinya, industri batu bara kita masih memiliki masa depan yang cukup panjang. Kita dapat mempertahankan pembangkit listrik tenaga batu bara kita. Hal ini tidak bertentangan. Kita ingin menuju net zero emissions, tetapi kita juga ingin mempertahankan industri-industri vital kita, termasuk industri batu bara dan pembangkit listrik berbasis batu bara. Ini bukan sesuatu yang kontradiktif, tetapi saling melengkapi,” kata Hashim.
Hashim menambahkan, pendekatan tersebut juga penting bagi industri minyak dan gas maupun batu bara karena sektor tersebut masih menjadi bagian penting dari perekonomian Indonesia dan memberikan kontribusi besar terhadap penerimaan devisa negara.
