Terminal LPG Tanjung Sekong Pertamina Jadi yang Pertama di Dunia Raih GTLC Bintang 2
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - PT Pertamina (Persero), mencatatkan Terminal LPG Tanjung Sekong sebagai terminal LPG pertama di dunia yang meraih Green Terminal Label Certification (GTLC) bintang 2 dari Bureau Veritas (BV). Sertifikasi tersebut diberikan dalam Closing Ceremony Green Terminal Label Certification di Grand Ballroom PT Pertamina International Shipping (PIS). .
"Sertifikasi ini menjadi kebanggaan bagi Pertamina, dan juga bagi Indonesia karena pertama kalinya sebuah terminal LPG mendapatkan sertifikasi Green Terminal Label bintang 2. Ini menunjukkan transformasi Pertamina dalam membangun bisnis yang berkelanjutan bagi masa depan perusahaan maupun lingkungan," ujar Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina Agung Wicaksono dikutip Kamis (6/8/2206).
Terminal LPG Tanjung Sekong dikelola PT Pertamina Energy Terminal (PET), anak usaha PT Pertamina International Shipping. Sertifikasi GTLC diberikan setelah terminal tersebut menjalani rangkaian proses audit yang dimulai sejak kick-off pada 11 Februari 2026. Standar Green Terminal diterapkan pada fasilitas energi yang memiliki karakteristik risiko tinggi, terutama dalam kegiatan penyimpanan dan penanganan LPG.
Baca Juga
Uji Coba CNG Pengganti LPG 3 Kg Dimulai Agustus, Jawa Barat Jadi Lokasi Perdana
Agung mengatakan sebagian besar terminal yang telah memperoleh sertifikasi GTLC sebelumnya merupakan pelabuhan umum atau terminal peti kemas.
“Pencapaian ini membuktikan bahwa Terminal LPG Tanjung Sekong tidak hanya beroperasi secara andal, tetapi menerapkan sistem operasional berkelanjutan yang mencakup aspek energi, lingkungan, digitalisasi, keselamatan, hingga komitmen terhadap pengurangan emisi karbon,” jelas Agung.
Salah satu pengembangan utama dalam program Green Terminal Tanjung Sekong adalah pemanfaatan energi terbarukan melalui energi surya dan rencana penggunaan hidrogen hijau. Pertamina mengembangkan fasilitas produksi hidrogen hijau berbasis panas bumi melalui PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) di Ulubelu, Lampung.
Fasilitas tersebut dirancang memiliki kapasitas produksi hingga sekitar 100 kilogram hidrogen per hari dengan menggunakan teknologi elektrolisis Anion Exchange Membrane atau AEM. Hidrogen tersebut direncanakan digunakan di Terminal LPG Tanjung Sekong untuk mendukung pengembangan ekosistem hidrogen Pertamina dari sektor hulu hingga hilir.
Agung mengatakan penerapan standar green terminal pada fasilitas penyimpanan dan penanganan LPG dapat menjadi referensi bagi pengembangan terminal minyak, gas, LNG, dan LPG lain di lingkungan Pertamina Group. Pertamina menargetkan 6 fasilitas terminal lain memperoleh green terminal label. Beberapa fasilitas yang masuk dalam rencana tersebut, antara lain Terminal LPG Tuban, Fuel Terminal Baubau, Fuel Terminal Kotabaru, dan Integrated Terminal Tanjung Uban.
"Kami ingin mereplikasi konsep green terminal ini ke terminal-terminal lainnya sehingga semakin banyak fasilitas Pertamina yang beroperasi dengan prinsip keberlanjutan. Keunggulan Pertamina sebagai perusahaan energi yang terintegrasi dari sektor hulu hingga hilir menjadi modal utama dalam mempercepat transisi energi. Sehingga ini menjadi sesuatu yang menjadi nilai tambah, keunikan, kekhasan Pertamina sehingga sustainability tadi bisa dicapai, dan dengan kolaborasi antar perusahaan semua bisa dicapai," jelasnya.
Simpan 98.000 MT LPG
Terminal LPG Tanjung Sekong berlokasi di Cilegon, Banten, dan menjadi salah satu fasilitas strategis Pertamina dalam penerimaan, penyimpanan, serta distribusi LPG untuk kebutuhan masyarakat dan industri. Terminal tersebut memiliki kapasitas penyimpanan 98.000 metrik ton atau 196.000 meter kubik. Kapasitas tersebut setara dengan sekitar 35%-40% kebutuhan LPG nasional.
Fasilitas jetty Terminal LPG Tanjung Sekong juga dapat melayani kapal dengan kapasitas sekitar 3.500 hingga 65.000 deadweight tonnage atau DWT, yakni ukuran daya angkut total kapal. Proses sertifikasi GTLC berlangsung melalui beberapa tahapan, mulai dari gap assessment and refreshment workshop, audit awal, hingga audit final pada Juli 2026. Hasil audit final menunjukkan terminal memperoleh skor 78,86% dan mendapatkan predikat bintang 2 dari maksimal bintang 3.
"Audit ini dilakukan oleh BV sebagai Lembaga auditor independen internasional dan membuktikan bahwa standar yang diterapkan sudah berkelas dunia," kata Agung.
Baca Juga
Uji Coba CNG Pengganti LPG 3 Kg Dimulai Agustus, Jawa Barat Jadi Lokasi Perdana
Sementara itu, BV Southeast Asia Industry Director Joko Prakoso mengatakan proses sertifikasi dilakukan melalui verifikasi berbasis data dan bukti lapangan. Penilaian green terminal label mencakup berbagai indikator, termasuk kinerja lingkungan, efisiensi energi, pengurangan emisi gas rumah kaca, keselamatan dan kesehatan kerja atau HSE, tata kelola perusahaan, keunggulan operasional, komitmen pemangku kepentingan, serta keberlanjutan program perusahaan.
"Kami melakukan proses verifikasi secara independen. Penilaiannya harus berdasarkan bukti dan data yang nyata, bukan hanya pernyataan. Setelah seluruh aspek memenuhi persyaratan, kami menyatakan terminal ini layak memperoleh sertifikasi Green Terminal Label bintang 2," jelas Joko.
Menurut Joko, status Terminal LPG Tanjung Sekong sebagai terminal LPG pertama di dunia yang memperoleh sertifikasi tersebut menjadi tolok ukur baru untuk penerapan operasional terminal berkelanjutan. "Kami berharap pencapaian ini dapat menginspirasi penerapan praktik-praktik berkelanjutan yang lebih luas di seluruh sektor energi," harap Joko.

