Proyek HPAL Vale (INCO) US$ 2 Miliar Dinilai Dorong Hilirisasi dan Ekonomi Daerah
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Hilirisasi nikel dinilai mampu menciptakan nilai tambah industri pertambangan sekaligus memperkuat ekonomi lokal melalui peningkatan aktivitas industri, penyerapan tenaga kerja, dan kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan operasional. Salah satu proyek yang menjadi perhatian adalah pembangunan fasilitas High Pressure Acid Leaching (HPAL) Sambalagi dengan investasi US$ 2 miliar di Morowali, Sulawesi Tengah, yang dikembangkan PT Vale Indonesia Tbk (INCO).
Proyek HPAL Sambalagi diamanatkan kepada PT Vale Indonesia Tbk, yang merupakan anggota Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID. Fasilitas tersebut menjadi bagian dari Indonesia Growth Project (IGP) Morowali yang ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) untuk mempercepat hilirisasi mineral di Indonesia.
Baca Juga
Vale (INCO) Percepat Hilirisasi Nikel, Proyek HPAL US$ 2 Miliar Masuk Fase Krusial
Pengamat lingkungan Irwan Ridwan mengatakan proyek hilirisasi, seperti HPAL pada dasarnya tidak hanya berorientasi pada peningkatan kapasitas pengolahan mineral, tetapi dirancang untuk memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Manfaat tersebut umumnya telah menjadi bagian dari pembahasan sejak tahap pra-studi kelayakan atau pre-feasibility study (Pra-FS) hingga studi kelayakan atau feasibility study (FS).
“Seharusnya akan memberi pengaruh (positif) terhadap ekonomi lokal dan (peningkatan) kualitas sosial masyarakat dan ini sdh dibahas dalam Pra-FS dan FS suatu proyek investasi,” ungkap Irwan dikutip Selasa (28/7/2026).
Ia berharap komitmen meningkatkan kesejahteraan masyarakat tidak berhenti pada dokumen perencanaan investasi, melainkan benar-benar diwujudkan ketika proyek mulai beroperasi.
Investasi US$ 2 Miliar Perkuat Ekosistem EV
Proyek HPAL Sambalagi memiliki nilai investasi sekitar US$ 2 miliar. Fasilitas ini diharapkan memperkuat rantai pasok industri kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) melalui pengolahan bijih nikel menjadi bahan baku bernilai tambah tinggi untuk industri baterai.
Sebagai bagian dari Grup MIND ID, proyek tersebut diproyeksikan menciptakan efek berganda (multiplier effect) terhadap perekonomian nasional, mulai peningkatan investasi, penciptaan lapangan kerja, hingga pengembangan usaha masyarakat di sekitar wilayah operasional di Sulawesi.
Wakil Gubernur Sulawesi Tengah Reny Arniwaty Lamadjido mengatakan pembangunan kawasan industri seharusnya tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui pendekatan yang inklusif.
“Kolaborasi yang memberi ruang bagi UMKM lokal serta keterbukaan terhadap fasilitas publik menjadi model pembangunan kawasan industri yang inklusif dan berkelanjutan bagi Sulawesi Tengah,” kata Reny.
Baca Juga
Vale Indonesia (INCO) Bukukan Laba Bersih US$ 76,1 Juta di 2025, Naik 32%
Menurutnya, keterlibatan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta penyediaan fasilitas publik merupakan langkah penting agar manfaat investasi dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat di daerah.
Dampak positif pengembangan industri pengolahan mineral mulai tercermin pada kinerja ekonomi Sulawesi Tengah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Produk domestik regional bruto (PDRB) provinsi tersebut tumbuh 8,32% secara tahunan (year-on-year) pada Triwulan I-2026. Dari sisi produksi, sektor industri pengolahan menjadi kontributor utama dengan pertumbuhan mencapai 15,09%. Capaian tersebut menunjukkan aktivitas hilirisasi mulai memberikan dorongan terhadap struktur ekonomi daerah, sekaligus memperkuat posisi Sulawesi Tengah sebagai salah satu pusat industri pengolahan nikel nasional.
