Adopsi AI pada UMKN Berpotensi Sumbang Rp 910 Triliun ke Ekonomi Nasional
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Adopsi kecerdasan buatan (AI) oleh usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berpotensi menambah nilai ekonomi Indonesia hingga Rp 910 triliun. Nilai tersebut setara dengan 3,8% produk domestik bruto (PDB) nasional.
Peluang itu terungkap dalam AI Economic Opportunity Report 2026 yang dirilis Public First. Laporan tersebut menunjukkan pemerataan penggunaan AI juga berpotensi menciptakan sekitar 510 ribu lapangan kerja baru di Indonesia.
Saat ini, baru 14,5% UKM yang memanfaatkan AI. Angka itu masih tertinggal jauh dibanding perusahaan besar yang tingkat adopsinya telah mencapai 62,5%.
Vice President of Government Affairs & Public Policy, Centers of Excellence Google, Markham Erickson mengatakan, AI berpotensi menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru. Teknologi tersebut dinilai mampu melahirkan produk, layanan, hingga industri baru.
“Jika lebih banyak UKM mengadopsi AI, Indonesia berpotensi menciptakan nilai ekonomi tambahan hingga Rp 910 triliun atau setara 3,8% PDB nasional. Adopsi AI juga diperkirakan dapat menciptakan sekitar setengah juta lapangan kerja baru di seluruh Indonesia,” ujar Markham di Jakarta, Kamis (23/7/2026).
Baca Juga
Wamenekraf Sebut Investasi Talenta AI Jadi Kunci Ekonomi Kreatif Tembus Pasar Global
Ia menilai transformasi tersebut bukan lagi sekadar potensi masa depan. Dampaknya mulai terlihat melalui meningkatnya pemanfaatan AI di berbagai sektor ekonomi.
Markham mengungkapkan Gemini kini menjadi AI assistant yang paling banyak dicari di Indonesia. Sebanyak 84% pengguna di Tanah Air juga menggunakan Gemini dalam Bahasa Indonesia.
“Ketika AI benar-benar memahami bahasa dan budaya setempat, tidak ada makna yang hilang dalam prosesnya. Masyarakat pun dapat bertukar ide, berkreasi, dan mengembangkan bisnis mereka,” ungkapnya.
Sementara itu, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif (Wamenekraf), Irene Umar mendorong masyarakat Indonesia menjadi pelaku utama dalam pengembangan AI. Menurutnya, Indonesia tidak boleh hanya menjadi pengguna teknologi.
“Google membukakan pintu bagi kita dengan data dan laporannya dari tahun ke tahun secara konsisten. Pemerintah, komunitas, dan platform perlu bersama-sama menemukan solusi agar Indonesia dapat menentukan arena permainan yang baru,” tutupnya.
