Hilirisasi Freeport Dipuji DPR, Penerimaan Negara Berpotensi Tembus Rp 120 Triliun
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Komisi XII DPR mengapresiasi langkah Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID bersama PT Freeport Indonesia (PTFI), perusahaan tambang tembaga dan emas terbesar di Indonesia, mempercepat hilirisasi mineral melalui pembangunan smelter dan Precious Metal Refinery (PMR) di Gresik. Investasi tersebut menjadi fondasi peningkatan nilai tambah mineral di dalam negeri sekaligus mendorong penerimaan negara hingga Rp 120 triliun per tahun ketika produksi kembali normal.
Apresiasi itu disampaikan dalam rapat dengar pendapat (RDP) Komisi XII DPR bersama PT Freeport Indonesia dan PT Amman Mineral Internasional di Jakarta, Selasa (14/7/2026). Anggota dewan menilai investasi hilirisasi yang dilakukan Freeport memperkuat rantai pasok industri pengolahan mineral nasional, meningkatkan penerimaan negara, serta memperbesar manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Anggota Komisi XII DPR Arif Riyanto Uopdana mengapresiasi berbagai langkah strategis yang dijalankan Freeport, mulai peningkatan kepemilikan nasional hingga komitmen investasi jangka panjang yang memberikan kepastian terhadap keberlanjutan operasi perusahaan.
Baca Juga
Smelter Freeport Gresik Kembali Beroperasi September, Produksi Dipacu Bertahap Hingga Akhir 2026
"Saya apresiasi karena kemarin telah terjadi kesepakatan untuk investasi kembali sebesar 12% bersama Pemerintah Indonesia. Ini juga menjadi terobosan baru terkait keberlanjutan usaha PT Freeport Indonesia, di mana izin usahanya diperpanjang sesuai usia cadangan," kata Arif.
Ia menilai Freeport konsisten menjalankan program tanggung jawab sosial perusahaan, terutama bagi masyarakat di Kabupaten Mimika, Papua Tengah, maupun wilayah Papua secara umum.
Apresiasi serupa disampaikan Anggota Komisi XII DPR dari Fraksi Partai Golkar Alfons Manibui. Menurut dia, Freeport telah memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian nasional sekaligus membawa manfaat nyata bagi pembangunan daerah dan masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan.
"Kami juga harus mengakui Freeport telah banyak memberikan manfaat bagi pemerintah daerah dan terutama masyarakat yang berada di sekitar wilayah operasional perusahaan," ujar Alfons.
Menurut Alfons, kontribusi tersebut menjadi modal penting agar Freeport terus berkembang sebagai salah satu aset strategis nasional yang mampu menopang pertumbuhan ekonomi sekaligus mempercepat pembangunan di Tanah Papua.
Smelter Perkuat Hilirisasi Mineral
Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas mengatakan pembangunan smelter di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik merupakan bagian dari agenda hilirisasi mineral nasional yang dijalankan pemerintah bersama MIND ID.
Smelter baru itu memiliki kapasitas pengolahan 1,7 juta ton konsentrat tembaga per tahun. Bersamaan dengan penambahan kapasitas PT Smelting Gresik sebesar 300 ribu ton konsentrat per tahun, total tambahan kapasitas pengolahan mencapai 2 juta ton. Dengan kapasitas PT Smelting yang telah beroperasi sebesar 1 juta ton, Freeport kini mampu memurnikan sekitar 3 juta ton konsentrat tembaga di dalam negeri setiap tahun.
"Dengan beroperasinya smelter dan Precious Metal Refinery di Gresik, seluruh rantai nilai tembaga dari konsentrat, katoda tembaga, hingga logam mulia, seperti emas dan perak kini dapat diproses di dalam negeri. Ini merupakan lompatan besar bagi hilirisasi mineral Indonesia," kata Tony.
Selain smelter, Freeport membangun Precious Metal Refinery, fasilitas pemurnian logam mulia, dengan kapasitas 6.000 ton lumpur anoda per tahun. Fasilitas tersebut memurnikan emas, perak, dan logam kelompok platinum menggunakan teknologi hydrometallurgy, sementara proses peleburan memanfaatkan teknologi double flash smelting and converting.
Melalui fasilitas tersebut, Freeport mampu menghasilkan sekitar 600 ribu ton katoda tembaga setiap tahun. Bersama produksi PT Smelting, total produksi katoda tembaga nasional mencapai sekitar 800 ribu ton per tahun.
PMR juga menghasilkan sekitar 50 ton emas, 200 ton perak, 30 kilogram platinum, 375 kilogram paladium, 285 ton selenium, 220 ton bismut, dan 2.200 ton timbal setiap tahun. Seluruh produksi emas direncanakan diserap PT Aneka Tambang Tbk (Antam), sedangkan perak dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan domestik dan ekspor.
Selain logam utama, fasilitas tersebut menghasilkan sekitar 1,5 juta ton asam sulfat, 1,3 juta ton copper slag, dan 150 ribu ton gipsum setiap tahun yang sebagian besar dimanfaatkan untuk kebutuhan industri dalam negeri.
Produksi Bertahap Pulih
Tony menjelaskan operasional smelter sempat terganggu setelah terjadi kebakaran pada fasilitas Gas Cleaning Plant pada Oktober 2024. Perbaikan berhasil diselesaikan sehingga smelter kembali beroperasi pada Mei 2025. Namun, operasional kembali terdampak akibat longsoran di tambang Grasberg Block Cave yang menghentikan pasokan konsentrat.
Saat ini Freeport memanfaatkan masa penghentian operasi untuk melakukan inspeksi menyeluruh dan penyempurnaan fasilitas sebelum smelter kembali menerima pasokan konsentrat dari Papua mulai September tahun ini.
"Fokus kami saat ini adalah memastikan proses pemulihan tambang berjalan aman sehingga pasokan konsentrat kembali normal. Ketika sisi hulu pulih dan smelter beroperasi penuh, manfaat hilirisasi akan semakin optimal, baik dalam bentuk peningkatan produksi logam, penguatan industri dalam negeri, maupun peningkatan penerimaan negara," ujar Tony.
Menurut dia, produksi tambang pada 2026 diperkirakan masih berada di kisaran 65% kapasitas akibat proses pemulihan pascalongsor. Kapasitas tersebut ditargetkan meningkat menjadi sekitar 75% pada semester pertama 2027 sebelum kembali mencapai 100% menjelang akhir tahun.
"Kami melakukan proses ramp up secara bertahap karena keselamatan operasi menjadi prioritas utama. Ketika produksi kembali normal pada akhir 2027, seluruh fasilitas hilirisasi akan dapat beroperasi secara optimal sesuai kapasitas yang telah dibangun," katanya.
Sejalan dengan pemulihan tersebut, produksi logam diproyeksikan meningkat secara bertahap. Pada 2026, Freeport menargetkan produksi sekitar 800 juta pound tembaga dan 700 ribu ounce emas atau sekitar 21 ton. Produksi diperkirakan naik menjadi 1,2 miliar pound tembaga dan 1 juta ounce emas atau sekitar 31 ton pada 2027, kemudian meningkat lagi menjadi 1,6 miliar pound tembaga dan 1,4 juta ounce emas atau sekitar 43 ton pada 2028.
Baca Juga
Freeport Proyeksikan Setoran ke Negara Tembus Rp 120 Triliun
Mulai 2029, produksi akan ditopang tambang bawah tanah Kucing Liar yang dipersiapkan menggantikan tambang Deep Mill Level Zone (DMLZ). Tambang tersebut diharapkan menjaga kapasitas produksi sekitar 220 ribu ton bijih per hari sekaligus menjamin pasokan bahan baku bagi industri pengolahan tembaga nasional dalam jangka panjang.
Dengan asumsi harga tembaga sebesar US$ 6 per pound dan harga emas US$ 4.500 per ounce, penerimaan negara pada 2026 diperkirakan mencapai US$ 2,6 miliar.
Seiring pulihnya produksi, penerimaan negara diproyeksikan meningkat menjadi US$ 4,7 miliar,yang terdiri atas sekitar US$ 1,9 miliar penerimaan pajak, US$ 1,9 miliar dividen melalui MIND ID, serta sekitar US$ 800 juta penerimaan negara bukan pajak (PNBP), termasuk royalti. Ketika kapasitas produksi telah kembali normal, kontribusi Freeport kepada negara diperkirakan melampaui US$ 7 miliar atau sekitar Rp 120 triliun per tahun.

