Prabowo: Era Neoliberalisme Berakhir, Koperasi Jadi Motor Kebangkitan Ekonomi Rakyat
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Presiden Prabowo Subianto menegaskan, era neo liberalism telah berakhir dan pemerintah akan mengembalikan arah pembangunan ekonomi Indonesia ke jalur ekonomi kerakyatan dengan menjadikan koperasi sebagai salah satu pilar utama.
Menurut Presiden Prabowo, dominasi paham ekonomi neoliberal selama tiga dekade terakhir telah menjauhkan Indonesia dari cita-cita para pendiri bangsa sebagaimana diamanatkan dalam UUD 1945.
Pesan itu disampaikan Prabowo saat memberikan pidato pada Puncak Peringatan Hari Koperasi ke-79 Tahun 2026 di Indonesia Arena, Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Minggu (12/7/2026).
"Di masa 30 tahun terakhir ini kita melihat ekonomi Indonesia dikuasai oleh paham ekonomi neoliberal yang sesungguhnya bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945. Cukup lama kita berjuang untuk mengembalikan arah pembangunan ekonomi ke arah yang dirancang oleh para pendiri bangsa, yaitu ekonomi kekeluargaan dan ekonomi kerakyatan," kata Prabowo.
Baca Juga
Prabowo: 30 Tahun Terakhir, Ekonomi Indonesia Dikuasai Paham Ekonomi Neoliberal
Presiden mengungkapkan, pengalaman selama puluhan tahun menunjukkan bahwa kapitalisme neoliberal tidak mampu menghadirkan kesejahteraan yang merata bagi masyarakat. Karena itu, pemerintah kini memilih memperkuat ekonomi berbasis gotong royong melalui koperasi, tanpa mengesampingkan peran swasta, BUMN, maupun usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
"Saya tidak percaya paham kapitalisme neoliberal akan membawa kesejahteraan bagi rakyat banyak. Koperasi adalah alatnya orang lemah, alatnya orang miskin. Tetapi kalau bersatu, seperti sapu lidi, itu menjadi kekuatan. Mandat yang diberikan rakyat akan saya gunakan sepenuhnya untuk memperjuangkan kemakmuran Masyarakat,” tegas dia.
Sejak awal menjabat sebagai Presiden, Prabowo mengaku terkejut melihat besarnya potensi kekayaan Indonesia, tetapi sekaligus prihatin karena banyak kekayaan nasional yang selama ini mengalir ke luar negeri.
"Saya sadar betapa kayanya bangsa Indonesia. Tetapi saya juga sedih melihat betapa besar kekayaan Indonesia dicuri, betapa besar kekayaan kita dibawa ke luar negeri. Karena itu saya bertekad memimpin pemerintahan ini bekerja sekuat tenaga demi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat Indonesia," tandas dia.
Kepala Negara juga menekankan, kebangkitan ekonomi nasional harus dimulai dari desa. Ia ingin perputaran uang lebih banyak terjadi di daerah sehingga manfaat pertumbuhan ekonomi benar-benar dirasakan masyarakat.
"Ekonomi kita akan bangkit dari desa, kecamatan, dan kabupaten. Uangnya akan tinggal di desa, kecamatan, dan kabupaten. Kalau selama ini kekayaan rakyat Indonesia disedot, sekarang kita kembalikan. Ekonomi harus turun ke rakyat," ujar dia.
Meski menempatkan koperasi sebagai sokoguru perekonomian, Prabowo menegaskan, pemerintah tidak memusuhi pelaku usaha besar. Indonesia membutuhkan seluruh kekuatan ekonomi agar mampu tumbuh lebih cepat.
"Kita tidak anti-perusahaan besar. Indonesia membutuhkan koperasi, UMKM, swasta, BUMN, dan BUMD. Kita membutuhkan semuanya. Itulah yang saya maksud Indonesia Incorporated," tegas dia.
Baca Juga
Pada akhir pidatonya, Prabowo mengajak seluruh elemen bangsa meninggalkan budaya saling mencela dan memperkuat semangat persatuan untuk membangun ekonomi nasional.
"Mari kita bersatu, mari kita gotong royong, mari kita bekerja sama. Yang kuat bantu yang lemah. Jangan ikut budaya caci maki, budaya dengki, dan budaya curiga. Tidak ada keberhasilan dengan pertikaian," kata Presiden.
Prabowo juga kembali mengkritik teori trickle-down effect yang selama ini menjadi salah satu dasar pemikiran ekonomi neoliberal. Anggapan bahwa kekayaan kelompok elite pada akhirnya akan menetes kepada masyarakat luas tidak pernah terbukti.
"Ada paham yang mengatakan biarlah yang kaya hanya 1%, nanti kekayaannya akan menetes ke bawah. Saya tanya, kalian percaya tidak akan menetes ke bawah?!" ujar Prabowo disambut riuh peserta yang memenuhi Indonesia Arena.
