Harga Emas 'Reboun'd, Konflik Timur Tengah Jadi Sorotan Pasar
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Harga emas kembali menguat lebih 1% pada perdagangan Kamis (9/7/2026) setelah investor melakukan aksi beli menyusul penurunan tajam sehari sebelumnya. Pasar juga terus mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah dan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) yang diperkirakan masih menjadi faktor utama pergerakan logam mulia dalam jangka pendek.
Harga emas spot naik 1,1% menjadi US$ 4.122,15 per ons, setelah sehari sebelumnya sempat menyentuh level terendah sejak Selasa (1/7/2026). Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman Agustus menguat 1,3% menjadi US$ 4.134,10 per ons.
Baca Juga
Prabowo Ungkap Tim BRIN dan TNI Temukan Cadangan Emas dan Mineral Jumbo di Papua
"Ada aksi beli-beli setelah penurunan kemarin. Dalam jangka pendek, pendorong utama harga emas adalah The Fed," kata Ahli Strategi Pasar Senior StoneX, Bob Haberkorn.
Menurut Haberkorn, arah kebijakan suku bunga Federal Reserve akan menjadi penentu utama pergerakan harga emas dan perak dalam beberapa bulan mendatang.
"Jika The Fed mengambil pendekatan yang lebih lunak terhadap suku bunga, emas dan perak kemungkinan akan naik, dan sebaliknya, jika The Fed memberi sinyal perlunya kenaikan suku bunga lebih lanjut, kedua logam tersebut kemungkinan akan berada di bawah tekanan," tambahnya.
Pasar juga mencermati meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Militer Iran dilaporkan melancarkan serangan terhadap infrastruktur militer Amerika Serikat di sejumlah negara Teluk setelah serangan Washington ke wilayah pesisir selatan dan timur Iran. Eskalasi tersebut meningkatkan tekanan terhadap perjanjian gencatan senjata yang telah berlangsung selama sekitar tiga minggu.
Konflik yang memicu kenaikan harga energi berpotensi mendorong inflasi global. Kondisi itu dapat memperbesar peluang bank sentral mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga lebih lama.
Meski emas dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga biasanya mengurangi daya tarik logam mulia karena emas tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi atau instrumen berbunga lainnya.
Pasar Menunggu Sinyal The Fed
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar memperkirakan terdapat peluang sekitar 64% bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga pada September.
Risalah rapat Federal Reserve bulan Juni juga menunjukkan meningkatnya kekhawatiran para pembuat kebijakan terhadap inflasi. Sejumlah pejabat bank sentral menilai terdapat alasan untuk kembali menaikkan suku bunga sebelum akhirnya memutuskan mempertahankan suku bunga acuan pada pertemuan terakhir.
Baca Juga
Outstanding Pembiayaan Emas Bank Muamalat Tembus Rp 1,9 Triliun di Semester I 2026
Kini perhatian investor beralih pada data inflasi Amerika Serikat yang akan dirilis pekan depan serta kesaksian Ketua Federal Reserve Kevin Warsh di hadapan Kongres. Kedua agenda tersebut diperkirakan akan memberikan petunjuk lebih jelas mengenai arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat.
Di sisi lain, HSBC memangkas proyeksi rata-rata harga emas untuk 2026 menjadi US$ 4.560 per ons dari sebelumnya US$ 4.864. Bank tersebut juga menurunkan estimasi harga rata-rata emas pada 2027 menjadi US$ 4.925 per ons dari proyeksi sebelumnya US$ 5.000.
Sementara itu, penguatan juga terjadi pada logam mulia lainnya. Harga perak spot naik 3% menjadi US$ 1.625,83 per ons, platinum menguat 2,3% menjadi US$ 60,00 per ons, sedangkan paladium melonjak 3,3% menjadi US$ 1.254,28 per ons.
