Dubes China Buka-Bukaan tentang Perkembangan Restrukturisasi Utang Whoosh
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Duta Besar Republik Rakyat China untuk Indonesia, Wang Lutong memapakarkan perkembangan pembahasan restrukturisasi utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh, yang dikembangkan oleh konsorsium PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC). Konsorsium ini merupakan perusahaan patungan antara konsorsium BUMN Indonesia PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia dengan porsi saham 60%, dan konsorsium perusahaan kereta api China, Beijing Yawan HSR Co. Ltd. dengan porsi saham 40%
Disampaikan Wang Lutong, proses negosiasi utang masih terus berlanjut.
“Kami terus menjalin komunikasi yang intensif dengan pihak-pihak terkait dan juga kementerian di sini (Indonesia). Semua berjalan dengan baik,” kata Wang, usai menghadiri China-Indonesia Think Tank and Media Forum, di Jakarta, Rabu (24/6/2026).
Meski demikian, Wang enggan rincian dari hasil negosiasi yang masih berlanjut tersebut.
“Tidak memungkinan bagi kami untuk mengungkapkan rincian apapun selama proses pembahasan masih berlangsung. Namun, semuanya berjalan sesuai jalur yang benar dan menuju arah yang positif,”ujar dia.
Wang menyebut Whoosh menjadi salah satu tonggak kerja sama ekonomi Indonesia-China. Diakuinya saat ini masih terdapat tunggakan dana yang harus dibayarkan kepada China Development Bank.
Baca Juga
Rosan Sebut Sudah Ada Solusi soal Restrukturisasi Utang Whoosh
Dikutip dari laman resmi Kereta Cepat Indonesia China atau KCIC, proyek Whoosh dibangun dengan pinjaman modal luar negeri yang berasal dari China Development Bank. Porsi pinjaman asing itu mencapai 75%.
Dalam pelaporan Pinjaman Komersial Luar Negeri (PKLN) komitmen pinjaman luar negeri untuk proyek Whoosh adalah US$ 2,73 miliar.
Selain berasal dari pinjaman luar negeri, ekuitas pemegang saham KCJB membayar 25% modal lainnya. Rinciannya 60% dari konsorsium BUMN Indonesia di antaranya PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) dan 40% dari Konsorsium BUMN China, Beijing Yawan HSR Co Ltd.
Pada 22 April 2026 lalu, Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa mengeklaim bahwa proses restrukturisasi utang proyek Whoosh telah rampung, dan tinggal menunggu pengumuman resmi dari pemerintah.
Sehari setelahnya, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani menyebut bahwa proses restrukturisasi Whoosh telah mencapai kata sepakat. Pemerintah akan menerjunkan tim khusus untuk negosiasi lebih lanjut dengan China untuk menuntaskan kesepakatan.
"Akan ditindaklanjuti oleh tim untuk bicara dengan pihak China-nya. Tapi solusinya sudah ada dan kemarin kita juga sudah sounding. Insyaallah sih ini bisa selesai lah," kata Rosan.
Saat ditanya mengenai rincian skema restrukturisasi yang akan diambil, Rosan masih enggan membeberkan secara detil. Ia menyebutkan bahwa saat ini tim teknis masih melakukan tahap penyesuaian akhir terhadap skema tersebut.
"Skemanya ini sedang disiapkan, tetapi memang nanti disampaikan langsung oleh Pak Menko Infra. Lebih enaknya karena beliau yang memimpin, tetapi sudah ada arahnya," ujar dia.
Sekadar informasi, total investasi pembangunan Kereta Cepat Whoosh mencapai US$7,2 miliar atau sekitar Rp116,5 triliun hingga Rp120 triliun. Nilai tersebut membengkak dari estimasi awal sekitar US$5,5 miliar akibat penyesuaian desain, pembebasan lahan, dan pandemi Covid

