Partai Gelora Dorong Pemerintah Kebut Pengembangan Energi Nuklir
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia mendorong pemerintah mempercepat pengembangan energi nuklir sebagai sumber energi alternatif nasional. Langkah ini dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil yang sebagian masih bergantung pada impor.
Dorongan tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal Partai Gelora, Mahfuz Sidik, dalam Kajian Pengembangan Wawasan Geopolitik bertema 'Arsitektur Kerja Sama Kawasan Baru Pasca Perang AS-Israel vs Iran', Jumat (12/6/2026) malam. Menurutnya, energi nuklir perlu dipertimbangkan sebagai bagian dari strategi ketahanan energi jangka panjang.
“Apa perlu kita mengembangkan energi nuklir sebagai satu opsi. Saya kira sangat perlu,” kata Mahfuz dalam keterangannya. Ia menilai nuklir dapat menjadi sumber energi yang relatif murah ketika sudah beroperasi secara penuh.
Mahfuz mengatakan Indonesia memiliki modal untuk mengembangkan energi nuklir. Selain memiliki sumber daya uranium, Indonesia juga memiliki pengalaman riset melalui Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN).
Namun, pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir masih menghadapi pro dan kontra. Salah satu kendala yang kerap muncul adalah besarnya kebutuhan investasi pada tahap awal pembangunan.
Baca Juga
Prabowo Terima Bos BUMN Rusia di Istana, Bahas Kerja Sama Pembangkit Nuklir
Menurut Mahfuz, perdebatan yang berkepanjangan justru membuat Indonesia tertinggal dalam pengembangan teknologi nuklir. Padahal, kondisi geopolitik global saat ini menunjukkan pentingnya memperkuat kemandirian energi nasional.
Ia menyoroti konflik yang terjadi di kawasan Teluk yang berpotensi mengganggu rantai pasok energi dunia. Gangguan di jalur strategis seperti Selat Hormuz dinilai masih akan memengaruhi stabilitas pasokan energi global meski konflik mereda.
Karena itu, Mahfuz menilai Indonesia perlu mengembangkan energi nuklir agar tidak terus bergantung pada pasokan energi dari luar negeri. “Nuklir adalah energi masa depan bagi Indonesia,” ujarnya.
Ia menegaskan pengembangan nuklir harus tetap berada dalam koridor pemanfaatan damai. Menurutnya, pengawasan dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menjadi instrumen penting untuk memastikan teknologi tersebut tidak beralih menjadi program senjata.
Selain isu energi, Mahfuz juga memprediksi pusat ketegangan geopolitik global akan bergeser ke kawasan Indo-Pasifik. Karena itu, Indonesia perlu menyiapkan berbagai skenario dan memperkuat kerja sama internasional agar tidak menjadi korban dari eskalasi konflik yang berpotensi terjadi di jalur perdagangan strategis kawasan.
