Indonesia Dinilai Tetap Menarik di Tengah Dinamika Perdagangan Global
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – UBS mencatat rekor partisipasi dalam penyelenggaraan Asian Investment Conference (AIC) 2026 yang digelar di Singapura dan Hong Kong pada 25-29 Mei 2026. Forum investasi tahunan tersebut dihadiri lebih dari 6.000 investor, pembuat kebijakan, dan pemimpin bisnis dari berbagai negara untuk membahas prospek ekonomi global, kebijakan, serta peluang investasi jangka panjang.
Dalam konferensi tersebut, Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara, memaparkan prospek investasi Indonesia di tengah dinamika perdagangan dan ketidakpastian geopolitik global.
Suahasil mengatakan, perekonomian Indonesia tetap ditopang oleh faktor domestik yang kuat, mulai dari konsumsi rumah tangga, investasi, hingga sektor manufaktur dan jasa. Menurutnya, disiplin fiskal tetap menjadi fondasi utama dalam menjaga kredibilitas kebijakan ekonomi nasional.
"Batas maksimal defisit sebesar 3% bukan hanya aturan fiskal, melainkan sinyal komitmen Indonesia terhadap pengelolaan ekonomi yang bijaksana dan berkelanjutan," ujar Suahasil dalam keterangan tertulis, Rabu (3/6/2026).
Baca Juga
Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Daerah Disebut Bisa Tercapai Lewat Sinergi Lintas Sektor
Ia menambahkan, pasar obligasi pemerintah Indonesia tetap menunjukkan ketahanan di tengah volatilitas global berkat kredibilitas kebijakan serta dukungan basis investor domestik yang kuat. Selain itu, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akan terus berperan sebagai shock absorber untuk menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas makroekonomi.
Sementara itu, Head of UBS Indonesia Research, UBS Investment Bank, Joshua Tanja, mengatakan AIC 2026 memfasilitasi lebih dari 3.000 pertemuan antara investor dengan perusahaan publik maupun swasta dari berbagai negara.
Baca Juga
Sektor Perumahan Dinilai Jadi Pilar Strategis Dorong Pertumbuhan Ekonomi 8%
Menurut Joshua, Indonesia masih memiliki prospek pertumbuhan yang stabil, didukung oleh permintaan domestik yang kuat, kebijakan fiskal dan moneter yang prudent, serta berlanjutnya momentum di sektor manufaktur dan jasa.
"Untuk Indonesia, UBS optimis prospek pertumbuhan akan tetap stabil, didukung oleh permintaan domestik yang tangguh, kebijakan fiskal dan moneter yang bijaksana, serta momentum yang berkelanjutan di sektor manufaktur dan jasa," kata Joshua.
Asian Investment Conference 2026 menghadirkan sejumlah tokoh ekonomi, politik, dan bisnis global. Beberapa agenda utama meliputi pembahasan dampak teknologi terhadap pertumbuhan ekonomi global, prospek kebijakan moneter, perkembangan geopolitik, transformasi ekonomi Jepang, serta arah pertumbuhan ekonomi Tiongkok di tengah perubahan lanskap perdagangan internasional.
