Pertamina Gandeng ERIA Perkuat Strategi Transisi Energi ASEAN
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - PT Pertamina (Persero) dan Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA) resmi menjalin kolaborasi strategis untuk memperkuat pengembangan jalur transisi energi berkelanjutan di kawasan ASEAN dan Asia Timur. Kesepakatan itu ditandai melalui penandatanganan nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) dalam rangkaian ajang IPA Convex 2026 di Jakarta pekan lalu.
Penandatanganan dilakukan Direktur Strategi, Portfolio dan Pengembangan Usaha Pertamina Emma Sri Martini bersama Chief Operating Officer ERIA Takayuki Yamanaka. Kerja sama tersebut mengusung tema “Research Collaboration and Joint Study on the Development of Sustainable Energy Transition Pathways”.
Emma mengatakan Pertamina terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan global untuk mendukung target kemandirian energi nasional sekaligus mempercepat transisi energi. Kemitraan dengan lembaga pemikir internasional menjadi bagian penting dalam memperkuat kapasitas dan arah strategis perusahaan.
Baca Juga
Pertamina Goes to Campus 2026 Resmi Dimulai, ITB Jadi Titik Awal
“Kemandirian energi dan transisi energi merupakan dua strategi yang dijalankan oleh Pertamina secara bersamaan. Kedua hal ini memperkuat satu dengan yang lainnya. Ini juga merupakan implementasi Dual Growth Strategy Pertamina,” ujar Emma dikutip Senin (25/5/2026).
Ia menjelaskan Pertamina saat ini menjalankan dua pilar utama bisnis, yakni mengoptimalkan bisnis eksisting berbasis energi fosil dan mempercepat pengembangan portofolio rendah karbon.
Dalam kerja sama tersebut, kedua pihak akan fokus pada dua area utama, yakni analisis kebijakan dan ekonomi energi serta pengembangan kapasitas dan pertukaran pengetahuan. Implementasi program akan dijalankan melalui Pertamina Energy Institute sebagai lembaga think tank strategis milik Pertamina.
Emma menyebut kolaborasi dengan ERIA akan memberikan dukungan berupa kajian kebijakan berbasis riset, analisis ekonomi energi yang komprehensif, hingga penguatan kapasitas institusional yang mendukung strategi bisnis jangka panjang perusahaan.
“Melalui kemitraan dengan ERIA, Pertamina akan memperoleh dukungan berupa kajian kebijakan berbasis riset, analisis ekonomi energi yang komprehensif, serta penguatan kapasitas institusional yang selaras dengan pengembangan portofolio bisnis dan strategi jangka panjang perusahaan,” katanya.
Menurut Emma, kerja sama tersebut juga diharapkan mampu memperkuat posisi strategis Pertamina di tingkat regional di tengah dinamika transisi energi global yang berkembang cepat. “Dengan berkolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan termasuk didalamnya lembaga pemikir level internasional akan meningkatkan kapasitas para pihak,” tuturnya.
Baca Juga
Pertamina Pastikan Tak Ada Larangan Beli Pertalite Berdasarkan Merek Kendaraan pada 1 Juni 2026
Selain penandatanganan MoU dengan ERIA, Pertamina Group juga menandatangani sejumlah kerja sama lain di sektor penangkapan dan penyimpanan karbon atau carbon capture storage (CCS). Beberapa di antaranya mencakup joint study agreement CCS Amonia antara Pertamina, PT Pertamina Hulu Energi, PT Perusahaan Gas Negara Tbk dan PT Pupuk Indonesia.
Selain itu, terdapat pula penandatanganan Head of Agreement CCS Asri Basin antara Pertamina Hulu Energi dan ExxonMobil serta MoU CCS di wilayah kerja Pertamina antara Pertamina, Pertamina Hulu Energi, dan ERIA.
ERIA merupakan lembaga think tank internasional yang didirikan pada 2007 dengan fokus pada kajian ekonomi dan kebijakan di kawasan ASEAN dan Asia Timur. Organisasi tersebut mendapat dukungan penuh dari Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang atau Ministry of Economy, Trade and Industry (METI), serta dikenal luas dalam analisis kebijakan energi regional.

