AHY Ungkap Pembangunan 14.000 Km Rel Kereta Butuh Rp 1.200 Triliun
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko IPK), Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengungkapkan, kebutuhan anggaran untuk pengembangan dan reaktivasi jaringan kereta api nasional sepanjang 14.000 kilometer (km) mencapai Rp 1.200 triliun.
Demikian disampaikannya seusai rapat koordinasi pengembangan jaringan kereta api nasional yang melibatkan sejumlah kementerian/lembaga (K/L), serta Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terkait di Stasiun Tanah Abang, Jakarta Pusat, Rabu (22/4/2026).
Baca Juga
Berita Duka! Eks Kiper Arsenal Alex Manninger Meninggal Kecelakaan Kereta
“Jika kita ingin menambah katakanlah tadi 14.000 kilometer ini sekian tahun ke depan, maka biayanya itu diperkirakan sekitar Rp 1.200 triliun,” kata AHY.
AHY menjelaskan, dengan asumsi pengembangan dilakukan selama 20 tahun hingga 2045, kebutuhan anggaran per tahun berkisar Rp 60 triliun hingga Rp 65 triliun. Angka tersebut masih bersifat awal dan akan disempurnakan sesuai kondisi geografis serta kebutuhan masing-masing wilayah.
Menurut AHY, pengembangan jaringan kereta api menjadi bagian dari program prioritas pemerintah dalam pilar infrastruktur dan pembangunan kewilayahan, termasuk pengembangan jaringan di Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi (SKS).
AHY menilai sektor perkeretaapian masih mengalami kekurangan investasi dibandingkan sektor jalan. Pada 2026, alokasi anggaran untuk pembangunan dan perbaikan jalan nasional sekitar Rp 46 triliun, sementara anggaran untuk rel kereta api sekitar Rp 5 triliun. “Jadi ada gap (investasi) di situ,” ujarnya.
Ia menekankan, kereta api memiliki peran strategis untuk mobilitas penumpang dan logistik antarwilayah, serta dinilai lebih ramah lingkungan. Transportasi darat yang didominasi kendaraan pribadi, kata AHY, menyumbang sekitar 89% emisi karbon, sedangkan kereta api kurang dari 1%.
Lebih jauh, AHY menyoroti ketimpangan pembangunan jaringan kereta api antara Pulau Jawa dan wilayah lain. Dari total sekitar 12.000 km jaringan rel yang ada, sekitar 10.000 km berada di Pulau Jawa. Dari jumlah tersebut, sekitar 7.000 km masih aktif beroperasi, sementara sisanya tidak aktif.
Di luar Jawa, jaringan kereta api masih terbatas. Sumatra telah memiliki rel tetapi belum sepenuhnya terhubung, Kalimantan belum memiliki jaringan kereta api, dan Sulawesi baru memiliki sekitar 100 km rel kereta. “Nah dengan demikian arahan Bapak Presiden untuk mengembangkan jaringan kereta di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi ini menjadi strategis,” ucap AHY.
Dia menambahkan, pembiayaan pengembangan jaringan kereta api akan didorong melalui berbagai skema, antara lain Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU), serta investasi swasta dan luar negeri. Pengembangan tersebut diharapkan mendorong kemandirian industri perkeretaapian nasional melalui penguatan ekosistem industri dalam negeri.
Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara mengungkap pembangunan rel perkeretaapian nasional akan bertambah sepanjang 12.100 km hingga 2030. Informasi tersebut diumumkan melalui akun Instagram resmi @danantara.indonesia, pada Minggu (16/11/2025).
“Rel bukan sekadar infrastruktur, tetapi ruang pelayanan publik berskala raksasa, karenanya pemerintah menargetkan perluasan layanan kereta api di seluruh Indonesia terwujud pada 2030,” tulis @danantara.indonesia, dikutip Rabu (19/11/2025).
Adapun rencana kebutuhan rel perkeretaapian hingga 2030 terdiri atas jaringan Jawa–Bali sepanjang 6.800 km, Sumatra 2.900 km, Kalimantan 1.400 km, serta Sulawesi dan Papua yang masing-masing membutuhkan 500 km.
Lebih jauh, kebutuhan kereta penumpang hingga 2030 tercatat 2.805 lokomotif dan gerbong (cars) sebanyak 27.960 unit. Sedangkan untuk kereta logistik, dibutuhkan 1.995 lokomotif baru dan 39.655 gerbong.
Menurut Danantara, ekosistem perkeretaapian nasional terus berkembang seiring modernisasi jaringan, peningkatan standar keselamatan, dan peremajaan armada. “Upaya ini memperkuat konektivitas nasional sekaligus menghadirkan mobilitas yang lebih efisien dan ramah lingkungan,” tulis keterangan tersebut.
PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI dan PT Industri Kereta Api (Persero) atau Inka menjadi bagian dari ekosistem Danantara dalam perluasan layanan serta pengembangan teknologi transportasi nasional. “Sinergi keduanya memperkuat kapasitas sistem perkeretaapian di berbagai wilayah,” tulis akun @danantara.indonesia.
Baca Juga
KAI 'Upgrade' KA Bangunkarta dan Singasari dengan Kereta SSNG
Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia Dony Oskaria bersama direksi KAI dan Inka juga telah komitmen untuk memperkokoh kerja sama antar-perseroan untuk mewujudkan ekosistem perkeretaapian yang tangguh .
Secara terpisah, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengungkap total kebutuhan anggaran untuk mendukung pembangunan ekosistem perkeretaapian Indonesia hingga 2030 bakal mencapai Rp 853 triliun.
“Jadi, kalau kita melihat ini ada beberapa target, ada penumpang, kemudian layanan terintegrasi, mengembangkan jalur kereta api di Sumatra dan Sulawesi, kemudian pengembangan jalur ganda, elektrifikasi, dan mengoperasikan kereta cepat di Pulau Jawa,” terang Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api (DJKA) Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Arif Anwar kepada wartawan di kantor pusat Kemenhub, Jakarta, Kamis (31/7/2025) lalu.

