Tidak Sunset, Menperin Agus Gumiwang Optimistis Industri Tekstil Jadi Sektor Sunrise di 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id -- Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional tidak sedang mengalami fase penurunan atau sunset. Sebaliknya, ia meyakini industri strategis ini sedang berada dalam tahap kebangkitan dengan prospek masa depan yang sangat cerah, sehingga ia istilahkan idustri tekstil sejtainya tengah dalam periode sunrise.
Penegasan tersebut disampaikan Menperin pada pembukaan Pameran Indo Intertex Inatex 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (15/4/2026), untuk mematahkan narasi negatif yang sering ia dengar sejak menjabat tujuh tahun lalu pada era kepemimpinan Presiden Joko Widodo.
Agus Gumiwang menilai narasi industri TPT sebagai sektor sunset sengaja diciptakan oleh pihak-pihak tertentu dengan tujuan agar produk tekstil impor dapat membanjiri pasar dalam negeri. Meski tidak menyebutkan secara spesifik asal narasi tersebut, ia memastikan bahwa data terkini menunjukkan kondisi yang jauh berbeda dari anggapan publik selama ini.
Baca Juga
Bahan Baku Tekstil Naik 40% Imbas Konflik Timur Tengah, Harga Pakaian Bakal Tambah Mahal?
"Alhamdulillah menurut data yang kami terima, bahwa kita sudah bisa mulai memutarbalikkan narasi yang menyatakan bahwa sektor TPT di Indonesia ini merupakan sektor yang sunset, bahkan kita secara optimistis harus benar-benar mengatakan it's a sunrise," ucap Agus Gumiwang
Sebagai politikus Partai Golkar, Agus memandang industri TPT sebagai mitra vital pemerintah dalam menggerakkan roda ekonomi nasional melampaui sekadar fungsi manufaktur.
Di tengah ketidakpastian geopolitik dan geoekonomi global, fundamental ekonomi Indonesia terbukti tetap kokoh. Pada tahun 2025, ekonomi nasional tumbuh sebesar 5,11%, sementara sektor industri pengolahan mencatatkan pertumbuhan yang lebih tinggi mencapai 5,30%.
Secara spesifik, performa sektor TPT sepanjang 2025 menunjukkan angka yang impresif dengan pertumbuhan sebesar 3,55% secara tahunan (year on year). Nilai ekspor yang dihasilkan mencapai US$ 12,08 miliar dengan catatan surplus sebesar US$ 3,45 miliar.
Selain kontribusi devisa, sektor ini memegang peranan krusial dalam struktur ketenagakerjaan nasional karena menyerap hingga 19,48% dari total tenaga kerja di sektor industri pengolahan.
Menperin menekankan bahwa keberlanjutan tren positif ini sangat bergantung pada penguatan kolaborasi dan sinergi antara regulator dan para pelaku usaha. "Intinya pertemuan-pertemuan seperti ini harus mengarah kepada pemuatan kolaborasi, sinergi antara pemerintah dan pelaku usaha. Pelaku usaha tidak bisa jalan sendiri, pemerintah tidak bisa jalan sendiri, kita harus bareng, kita harus bareng," terangnya.

