WEF 2024 : Mengembalikan Kepercayaan di Tengah Dunia yang Terpecah
JAKARTA, Investortrust.id – Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum /WEF) ke-54 digelar pekan ini, mulai Senin 15 Januari hingga Jumat 19 Januari 2024. Tempatnya, di resor pegunungan yang sejuk di Davos, Swiss.
Sementara itu, di Timur Tengah situasi sedang panas-panasnya. Amerika Serikat dan Inggris baru saja menggempur kelompok Houthi di daratan Yaman. Hal itu dilakukan sebagai balasan atas serangan Houthi di jalur pelayaran internasional di Laut Merah.
Baca Juga
Sejumlah Tokoh Penting akan Hadiri WEF 2024 di Davos, Siapa Saja?
Di Jalur Gaza, perang Israel-Hamas masih berkecamuk.
Di belahan Eropa, konflik Rusia-Ukrainra belum berhenti.
Tak hanya itu. Potensi ketegangan geopolitik tersebar di berbagai kawasan, antara lain di Laut China Selatan (China-Filipina), semenanjung Korea (Korse-Korut), dan Selat Tiongkok (China-Taiwan)..
Tak bisa dipungkiri, selain mengganggu keamanan dan perdamanian, ketegangan geopolitik itu menjadi faktor penghambat dari pertumbuhan ekonomi. Karena itu, tak mengherankan bila WEF 2024 menyoroti ketegangan geopolitik sebagai salah satu bahasan utama.
Ada empat tema utama yang dibahas dalam WEF 2024. Pertama, mencapai keamanan dan kerjasama di dunia yang terpecah belah. Kedua, menciptakan pertumbuhan dan lapangan pekerjaan untuk era baru. Ketiga, tema kecerdasan buatan sebagai pendorong bagi ekonomi dan masyarakat, serta strategi jangka panjang untuk iklim, alam, dan energi.
Pertumbuhan Ekonomi Global
WEF dalam Global Risks Report 2024 yang dirilis 12 Januari 2024 menyebut ketahanan ekonomi dunia masih kuat di tengah kekhawatiran munculnya resesi akibat tren kebijakan moneter global yang sangat agresif pada 2023. Perekonomian global telah menunjukkan ketahanan yang mengejutkan dalam menghadapi pengetatan kebijakan moneter global yang paling agresif dalam beberapa dekade terakhir
Meskipun perekonomian global dinilai tangguh dalam menghadapi risiko resesi pada tahun 2023, meningkatnya ketegangan geopolitik akan menghadirkan tantangan baru dalam jangka pendek. Akibatnya, sebagian besar perekonomian akan tumbuh lebih lambat pada tahun 2024 dan 2025 dibandingkan dekade sebelumnya. .
Bank Dunia, dalam laporan bertajuk “Prospek Ekonomi Global” yang dirilis pada 9 Januari 2024, memperkirakan, pertumbuhan global melambat selama tiga tahun berturut-turut. Pada tahun 2022, pertumbuhan ekonomi 3,1%, tahun 2023 diperkirakan merosot menjadi 2,6%, dan tahun 2024 turun menjadi 2,4%.
Pertumbuhan diperkirakan baru meningkat sedikit menjadi 2,7% pada tahun 2025. Namun, percepatan selama periode lima tahun akan tetap berada di bawah rata-rata tahun 2010-an.
Wakil kepala ekonom Bank Dunia dan direktur Prospects Group Ayhan Kose menyebut sejumlah faktor yang menghambat pertumbuhan ekonomi global. Salah satunya, faktor geopolitik.
Ada perang di Eropa Timur, invasi Rusia ke Ukraina. Ada konflik serius di Timur Tengah. Meningkatnya konflik-konflik ini dapat berdampak signifikan terhadap harga energi yang dapat berdampak pada inflasi serta pertumbuhan ekonomi,
Pelemahan ekonomi terjadi di tengah kondisi global yang semakin terpecah saat ini. Dipicu oleh konflik perang dagang dan pecahnya geoekonomi antara Amerika Serikat, Uni Eropa, dan China.
Menurut WEF, pertumbuhan ekonomi di Uni Eropa telah stagnan, sebesar 0,6% tahun lalu, dengan perkiraan khusus ekonomi Jerman kontraksi sebesar 0,3% pada 2023. Disebabkan oleh suku bunga yang masih terus tinggi karena inflasi belum sesuai sasaran bank sentral di level 2% akibat tekanan pasokan yang dipicu fenomena El Nino atau cuaca panas berlebih khusus untuk pasokan pangan.
Prospek perekonomian China juga buruk. Sebagai penopang eonomi kedua terbesar dunia, hasil survei WEF dalam Global Risks Report menunjukkan bahwa perekonomian China masih akan melemah pada tahun ini. Disebabkan permintaan domestik yang melemah, dan tekanan pada pasar properti.
Amerika Serikat, prospeknya juga masih menunjukkan ketidakpastian, meskipun pertumbuhan ekonomi negara itu diperkirakan mampu mencapai 2,4% pada 2024. Seiring dengan perkiraan penurunan suku bunga bank sentral The Federal Reserve atau The Fed pada paruh pertama tahun ini dan kebijakan fiskal yang masih longgar dengan defisit US$ 1,7 triliun pada 2024.
Hasil pemilihan presiden AS pada bulan November akan menciptakan ketidakpastian tambahan terhadap prospek perekonomian negara adidaya itu, tergantung pada pilihan kebijakan pemerintahan berikutnya.
Negara-negara Berkembang
Secara regional, pertumbuhan tahun ini diperkirakan akan melemah paling besar di Amerika Utara, Eropa dan Asia Tengah, serta Asia-Pasifik – terutama karena melambatnya ekspansi di Tiongkok. Sedikit perbaikan diperkirakan akan terjadi di Amerika Latin dan Karibia, dengan tingkat yang rendah, sementara peningkatan yang lebih besar diperkirakan akan terjadi di Timur Tengah dan Afrika.
Namun, negara-negara berkembang akan menjadi negara yang paling terkena dampaknya dalam jangka menengah karena lesunya perdagangan global dan kondisi keuangan yang ketat sangat membebani pertumbuhan.
Pertumbuhan jangka pendek akan tetap lemah, membuat banyak negara berkembang – terutama negara-negara termiskin – terjebak dalam perangkap utang yang sangat besar dan lemahnya akses terhadap pangan.
Negara-negara berkembang kini diperkirakan hanya tumbuh sebesar 3,9% pada tahun 2024, lebih dari 1 poin persentase di bawah rata-rata dekade sebelumnya. Pada akhir tahun ini, masyarakat di sekitar 1 dari setiap 4 negara berkembang dan sekitar 40% negara berpenghasilan rendah masih akan menjadi lebih miskin dibandingkan saat menjelang pandemi Covid-19 pada tahun 2019.
Bank Dunia menyatakan data tersebut menunjukkan bahwa dunia gagal dalam mencapai tujuannya menjadikan tahun 2020-an sebagai “dekade transformatif” dalam menanggulangi kemiskinan ekstrem, penyakit menular utama, dan perubahan iklim. Ada peluang untuk membalikkan keadaan jika pemerintah bertindak cepat untuk meningkatkan investasi dan memperkuat kerangka kebijakan fiskal.
Ledakan investasi mempunyai potensi untuk mentransformasi negara-negara berkembang dan membantu mereka mempercepat transisi energi dan mencapai berbagai tujuan pembangunan.
Baca Juga
WEF Digelar di Davos Besok, Ini Tema yang akan Jadi Diskursus Global
Dari Kiri ke Kanan: Wakil Perdana Menteri Pertama, Menteri Ekonomi Ukraina, Yuliia Svyrydenko, Menteri Pertahanan Ukraina, Rustem Umerov, Kepala Administrasi Kepresidenan Ukraina, Andriy Yermak dimoderasi oleh Direktur Pelaksana, World Economic Forum, Mirek Dušek, berbicara dalam Konferensi Pers: Delegasi Ukraina tentang Hasil Pertemuan Penasihat Keamanan Nasional pada Pertemuan Tahunan Forum Ekonomi Dunia 2024 di Davos-Klosters, Swiss, (14/01/2024). Foto: World Economic Forum/Pascal Bitz.
