Target Saham MEDC Rp 2.200, Potensi Cuan dari AMMN US$ 4,6 Miliar
JAKARTA, investortrust.id – Tren kenaikan harga minyak membawa angin segar bagi saham-saham minyak dan gas (migas), termasuk saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC).
Saat ini harga minyak mentah global terpantau naik menjadi US$ 91/bbl. Ada potensi kenaikan lebih tinggi seiring kemungkinan pengurangan pasokan lebih lanjut dari OPEC+ dan penurunan persediaan minyak Amerika Serikat (AS).
Tim Riset Samuel Sekuritas mengasumsikan rata-rata harga minyak tahun 2023 akan mencapai US$ 85/bbl.
Baca Juga
Investasi Reksa Dana: Kenali Risikonya dan Nikmati Manfaatnya
‘’Untuk itu kami menaikkan perkiraan laba bersih MEDC di 2023/2024 menjadi US$ 348 juta/ US$ 304 juta, terutama karena lonjakan harga komoditas dan potensi peningkatan pasokan listrik,’’ tulis Analis Samuel Sekuritas Muhammad Farras Farhan dan Laurencia Hiemas, dalam riset terbaru yang dirilis, Kamis (13/9/2023).
Terkait bisnis listrik yang disebut Samuel akan berkontribusi pada peningkaran laba MEDC, diketaui bahwa Energy Market Authority (EMA) Singapura telah memberikan persetujuan bersyarat kepada Medco Power Global (anak usaha MEDC) bersama dengan mitra konsorsiumnya PacificLight Renewables Pte Ltd dan Gallant Venture Ltd, untuk memasok tenaga listrik ramah lingkungan sebesar 600 MW dari proyek PLTSnya.
Proyek ini (saat ini dalam tahap studi kelayakan) memiliki total kapasitas 1.500 MW (900 MW untuk konsumsi domestik), dan ada rencana untuk meningkatkan kapasitasnya hingga 1.5 kali lipat, dengan perkiraan tanggal operasional pada tahun 2028.
Baca Juga
Kembali ke bisnis minyak, selain didongkrak oleh harga rata-rata mintak dunia yang naik, kinerja MEDC didorong oleh penjualan kepemilikan efektif working interestnya (31.88%) di Blok 12W (ChimSao), sebuah ladang produksi minyak di Vietnam yang dioperasikan oleh Harbour Energy, pada akhir tahun 2023.
Selain itu, pada bulan Agustus 2023, MEDC telah menandatangani CSPA untuk akuisisi 20% non-operating participating interest di aset produksi yang berlokasi di Timur Tengah (operator saat ini akan mempertahankan kepemilikan mayoritas dan kendali operasional), dan transaksi tersebut diharapkan selesai pada akhir tahun 2023.
‘’Mencermati berbagai sentimen tadi kami merekomendasikan buy untuk MEDC dengan target price Rp 2.200 (sebelumnya Rp 1.600). Target ini mencerminkan 5,3x EV/EBITDA FY24F. Kami menerapkan diskon 50% dalam valuasi kami, karena potensi keuntungan dari AMMN masih belum dibukukan,’’ ujarnya.
Baca Juga
Penguatan Berlanjut, Market Cap Amman Mineral (AMMN) Bayangi Bayan (BYAN)
Kendati begitu Tim Samuel mengingatkan potensi risiko investasi atas target beli tadi di mana harga harga migas dan volume produksi lebih rendah dari perkiraan.
Disebutkan pula, bahwa saham MEDC bisa saja naik di atas target price, mengingat perhitungan tadi belum memperhitungkan keuntungan gain MEDC atas kenaikan harga saham PT Amman Mineral Internasional (AMMN). Pada emiten ini, MEDC menguasai 21,09% saham.
Diketahui harga saham AMMN sudah melonjak +230.48% sejak IPO menjadi IDR 5.800 per 12 September 2023.
‘’Kami memperkirakan MEDC mengakuisisi kepemilikannya di AMMN dengan harga US$ 511 juta, dan pasca kenaikan harga saham AMMN, kami memperkirakan MEDC akan membukukan unrealized gain sebesar US$ 4,6 miliar pada kuartal III-23, yang mendongkrak laba bersih full-year MEDC menjadi US$ 4,9 miliar,” pungkasnya.
