Salip Volume Transaksi Kartu Kredit, Jumlah Kontrak Paylater Meningkat 76,77%
JAKARTA, investortrust.id - Seiring dengan semakin berkembangnya zaman, transaksi pembayaran digital makin diminati masyarakat. Termasuk di industri beli sekarang bayar nanti (buy now pay later/BNPL) atau paylater. Bahkan jumlah kontrak paylater meningkat signifikan dalam tiga tahun belakangan atau dari 2020 hingga 2023 dan sukses menyalip volume transaksi kartu kredit perbankan.
Hal tersebut seperti diungkapkan Senior Policy Associate, Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech), Ferdian Ari Kurniawan, dalam sebuah diskusi virtual, belum lama ini.
“Rata-rata pertumbuhan tahunan atau compounded annual growth rate (CAGR) dari jumlah kontrak BNPL selama periode 2019-2023 mencapai 76,77%, sedangkan kartu kredit itu CAGR-nya hanya 4,86%,” katanya.
Ferdian menyebut, pertumbuhan tertinggi industri BNPL terjadi pada 2021. Di mana jumlah kontraknya tumbuh 407% dibandingkan tahun 2020. Di lain sisi, seiring dengan kemudahan transaksi yang diberikan, adapula risiko yang menghantui BNPL, yakni terkait gagal bayar atau non performing financing (NPF).
Baca Juga
Agar Keseimbangan Industri Paylater Terjaga, OJK Lakukan Sejumlah Hal Ini
“Data hingga 2023 ini menunjukan bahwa tren risiko kredit layanan paylater ini lebih tinggi jika dibandingkan industri pembiayaan (multifinance) secara umum,” ujarnya.
Jika di breakdown, NPF BNPL di tahun lalu tercatat 3,31% atau lebih tinggi jika dibandingkan NPF multifinance secara industri yang berada di level 2,44%. Meski begitu capaian NPF BNPL di tahun lalu trennya menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, khususnya pada 2021 di mana NPF paylater berada di level tertingginya yakni 4,90%.
“Semoga saja ke depan akan semakin baik mitigasi risikonya dan minimal bisa sama atau lebih rendah atau industri pembayaran seiring dengan kemajuan teknologi,” terang Ferdian.
