Rupiah Menguat di Tengah Pekan, Ekonom Bank Permata Ungkap Pendorongnya
Reporter | Farhan Nugraha
Editor |
JAKARTA, investortrust.id - Kurs rupiah ditutup menguat dalam perdagangan tengah pekan ini, Rabu (06/03/2024). Rupiah bergerak dalam range Rp 15.700-15.705 per USD pada perdagangan sore ini, kemudian ditutup menguat ke level Rp 15.700 per USD.
Menurut Ekonom Bank Permata Josua Pardede, menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sejalan dengan pelemahan indikator ekonomi AS malam lalu waktu setempat. "Pelemahan tersebut mendorong ekspektasi penurunan suku bunga The Fed lebih cepat. Ekspektasi itu kemudian meningkatkan sentimen risk-on di kawasan Asia hari ini. Rupiah menguat 0,44% ke level 15,700 per USD," ujar Josua kepada Investortrust, Jakarta, Rabu (06/03/2024).
Baca Juga
Faktor Dalam Negeri
Dari aspek dalam negeri, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo sebelumnya memberikan apresiasi terhadap gelaran pemilihan presiden (pilpres) yang berpotensi dapat diselesaikan hanya dalam satu putaran. Lebih jauh menurut Perry, pilpres satu putaran dapat mengerek pertumbuhan ekonomi nasional ke level 5,1% di 2024.
“Dengan pilpres yang hanya satu putaran, kami perkirakan ekonomi tahun ini tumbuh setidaknya 5,1%” ujar Perry.
Meskipun optimisme tersebut disambut baik oleh pelaku pasar, namun Josua menyebutkan para investor masih tetap akan menunggu pengumuman resmi dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) terkait dengan hasil pemilu 2024. Menurut Josua, kontribusi positif pelaksanaan pemilu akan benar-benar dirasakan pada awal semester II-2024.
"Faktor (pilpres satu putaran) tersebut akan berdampak positf pada semester II-2024. Sebagian investor dan pasar juga masih menantikan rekapitulasi akhir KPU," ucap Josua.
Sementara terkait perdagangan esok hari (07/03/2024), mata uang Garuda diperediksi fluktuatif dan ditutup pada posisi melemah. Hal ini akan dipengaruhi rilis data AS soal ketenagakerjaan.
"Rupiah berpotensi melemah esok hari. Ini sejalan dengan proyeksi data ADP Employment Change, yang diprediksi naik ke level 150.000, dari sebelumnya 107.000, yang mengindikasikan pengetatan pasar tenaga kerja AS," sebutnya.
Ia menambahkan data pembukaan tenaga kerja JOLTS diprediksi turun ke level 8,85 juta dari 9,03 juta.
"Data ini berpotensi mendorong penguatan USD secara terbatas. Rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp 15.675-15.775 per USD (besok)," tandasnya.
