Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Kuartal III-2023 di Atas Rata-Rata
JAKARTA, investortrust.id— Yang tak mencermati data ekonomi dunia umumnya mencibir. Mengapa ekonomi negara dengan sumber daya alam besar seperti Indonesia hanya mampu bertumbuh di bawah 5%? Seperti diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS), Selasa (07/11/2023), laju pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal ketiga 2023, yoy, sebesar 4,94%. Menurun dari kuartal sebelumnya, 5,17%.
Dunia memang sedang kesulitan. Belum sepenuhnya pulih dari pukulan pandemi Covid-19, yang mendera dunia tahun 2020-2021, ekonomi global yang sempat bangkit pada kuartal keempat 2021 dihajar oleh sejumlah masalah, yakni kemarau panjang akibat El Nino, masalah geopolitik —Perang Rusia vs Ukraina yang dimulai Februari 2022—, hiperinflasi, dan suku bunga tinggi.
Masalah geopolitik kian menyulitkan ekonomi dunia sejak Hamas membombardir Israel 7 Oktober 2023. Pembalasan Israel lewat serangan masif dan mematikan berpotensi menyulut konflik yang lebih luas, bahkan Perang Dunia III. Ada sentimen agama yang mudah terpantik dan memperluas medan pertempuran. Kita bisa membayangkan, di saat ekonomi dunia dilanda krisis, bahkan resesi ekonomi, ada pihak yang menginisiasi perang terbuka.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal ketiga 2023 jauh di bawah periode yang sama tahun 2022 yang melaju 5,7%. Kita bisa memahami ekspektasi publik akan pertumbuhan ekonomi. Setelah pandemi yang menimbulkan korban jiwa dan melumpuhkan perekonomian, mestinya ekonomi melaju kencang. Apalagi Indonesia tengah menikmati bonus demografi. Sekitar 195 juta atau 71% dari 278 juta penduduk Indonesia berada di usia produktif, 15 hingga 64 tahun.
Belajar dari sejarah, semua negara maju menorehkan laju pertumbuhan ekonomi di atas 7% selama era bonus demografi. Mestinya Indonesia yang sedang menikmati bonus demografi juga meraih laju pertumbuhan tinggi pula. Apalagi angka pengangguran dan penduduk miskin di Indonesia masih cukup tinggi. Pada Agustus 2023, pengangguran terbuka di Indonesia 7,86 juta atau 5,3% dari total angkatan kerja dan pada Maret 2023, penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan 25,9 juta atau 9,4% dari total penduduk.
Sudah sejak 2014, laju pertumbuhan ekonomi Indonesia tak pernah di atas 5,5%. Terakhir, pada 2013, ekonomi bertumbuh 5,8%. Seiring dengan booming komoditas dan kebijakan quantitative easing (QE) yang dijalankan Bank Sentral AS, pertumbuhan ekonomi melaju kencang. Setelah diterpa krisis finansial 2009 akibat subprime mortgage, ekonomi Indonesia selama tiga tahun berturut-turut melaju kencang, yakni 6,1% tahun 2010, sebesar 6,5% tahun 2011, dan 6,2% tahun 2012.
Ketika Bank Sentral AS mengakhiri QE dan harga komoditas di pasar global menurun, laju pertumbuhan ekonomi pun menurun. Pada tahun 2013, pertumbuhan ekonomi Indonesia di bawah 6%, dan pada tahun 2014 dan 2015 masing-masing hanya bertumbuh 5,02% dan 5,04%. Selain mengakhiri QE dan tapering off atau pengurangan stimulus, The Federal Reserve (Fed) juga mulai menaikkan suku bunga acuan atau fed fund rate (FFR).
Selama empat tahun, 2016-2019, pertumbuhan ekonomi Indonesia jatuh di bawah 5,1%. Kenaikan FFR dan perang dagang AS vs China memperburuk ekonomi dunia. Kondisi ekonomi semakin parah ketika pandemi datang menerjang penduduk dunia awal 2020. Pada tahun 2020, ekonomi Indonesia kontraksi atau minus 2,07%.
Di Atas Rata-Rata
Turunnya laju pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal ketiga 2023, demikian BPS, disebabkan oleh tiga faktor, yakni melambatnya ekonomi global, menurunnya harga komoditas ekspor, dan perubahan iklim yang ekstrem. Data International Monetary Fund (IMF), 10 Oktober 2023 menunjukkan, laju pertumbuhan ekonomi global 2023 diperkirakan sebesar 3,0%, turun dari 3,5% tahun 2022. Selama 19 tahun, 2000-2019, laju pertumbuhan ekonomi dunia rata-rata 3,8%.
Penurunan pertumbuhan ekonomi paling tinggi, demikian IMF, terjadi di negara maju, yakni 1,5%, turun dari 2,6% tahun 2022. Laju pertumbuhan ekonomi emering market countries atau negara pasar berkembang pada tahun 2023 diperkirakan sebesar 4,0%, turun dari 4,1% tahun 2022. Pertumbuhan ekonomi China yang biasanya di atas 7,0% hanya meningkat 5,0% pada tahun 2023. Laju pertumbuhan ekonomi India diperkirakan masih lumayan bagus, yakni 6,3%.
Jika dibandingkan dengan negara lain, laju pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal ketiga 2023 hanya kalah dari India, Uzbekistan, dan Vietnam, yang masing-masing, bertumbuh 6,5%, 5,8%, dan 5,3%. Pada periode yang sama, laju pertumbuhan ekonomi China 4,9%, sama dengan Indonesia. AS bertumbuh 2,9%, Jepang 1,4%, Korea Selatan 1,4%, Thailand 2,2%, dan Malaysia 3,3%. Angka pertumbuhan ekonomi India kuartal ketiga 2023 adalah perkiraan. Hingga tulisan ini diturunkan, India belum mengumumkan angka pertumbuhan ekonomi kuartal ketiga 2023.
Hanya satu negara kecil di Amerika Selatan, yakni Guyana, yang mencatat laju pertumbuhan spektakuler akibat minyak mentah. Selama beberapa tahun, sejak minyak mentah mulai diproduksi pertumbuhan ekonomi negara ini melampaui rata-rata pertumbuhan global.
Tahun ini, laju pertumbuhan negara dengan penduduk kurang dari 800.000 itu akan mencapai 38%. Bank Dunia dan IMF memperkirakan, pada tahun 2024, ekonomi Guyana akan bertumbuh 25,2%. Rata-rata pertumbuhan ekonomi Amerika Latin dan Karibia sekitar 3,5% tahun 2022 dan 1,7% pada tahun 2023.
Sektor Pertanian
Berdasarkan lapangan usaha, laju pertumbuhan sektor pertanian pada kuartal ketiga 2023 sebesar 1,46%, turun dari 2,20% periode yang sama 2022. Penurunan laju pertumbuhan ekonomi sektor pertanian —mencakup juga subsektor perkebunan, peternakan, kehutanan, dan kelautan— berdampak serius terhadap perekonomian. Sebanyak 39,5 juta atau 28,2% penduduk Indonesia bekerja di sektor pertanian. Sedang kontribusi sektor ini terhadap produk domestik bruto (PDB) tinggal 13,57%.
Penurunan laju pertumbuhan sektor pertanian tak pelak disebabkan oleh perubahan iklim yang ekstrem. Kemarau panjang menyebabkan produksi padi dan komoditas pertanian lainnya menurun. Inflasi mulai merambat naik. Pada Oktober 2023, inflasi yoy, sebesar 2,56%. Indeks kelompok makanan, minuman dan tembakau naik 5,41%. Harga beras meningkat cukup tajam di sejumlah wilayah.
Kenaikan indeks kelompok makanan, minuman, dan tembakau jauh di atas kenaikan indeks kelompok lainnya. Sebutlah kenaikan indeks kelompok pakaian dan alas kaki yang hanya 0,85%, indeks kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 1,16%, indeks kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 1,89 persen%, indeks kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,11%, dan indeks kelompok kesehatan sebesar 2,04%. Demikian pula jika dibandingkan dengan kenaikan indeks kelompok transportasi sebesar 1,20%, indeks kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 1,50%, indeks kelompok pendidikan sebesar 1,99%, indeks kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 2,21%, dan indeks kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 3,67%.
Yang menggembirakan, pertumbuhan sektor manufaktur atau industri pengolahan pada kuartal ketiga 2023 sebesar 5,20%, naik dari 3,16% periode yang sama tahun 2022. Sektor industri pengolahan menjadi sumber pertumbuhan utama ekonomi Indonesia dengan kontribusi 1,06%. Sektor perdagangan mengontribusi 0,66%, transportasi dan pergudangan 0,61%, dan konstruksi 0,60%.
Peningkatan tertinggi pertumbuhan industri pengolahan pada kuartal ketiga 2023 terjadi di Provinsi Maluku Utara dan Provinsi Maluku, yang masing-masing melesat 51,02% dan 30,42%. Dua provinsi lainnya yang mencatat kenaikan pertumbuhan tertinggi di sektor industri pengolahan adalah Sulawesi Tengah 27,99% dan Sulawesi Barat 16,21%.
Kenaikan laju pertumbuhan sektor industri manufaktur di empat provinsi ini dipicu oleh pembangunan smelter nikel. Meski dihujani kritik, industri pengolahan nikel dan sejumlah mineral lainnya sudah membuahkan hasil.
Dengan jumlah penduduk 278 juta dan angkatan kerja yang sudah menembus 147 juta, Indonesia harus membangun industri pengolahan. Bukan hanya industri yang mengolah produk tambang, melainkan juga industri yang mengolah produk pertanian. Kontribusi sektor industri pengolahan terhadap PDB 18,75%. Pada Agustus 2023, demikian survei BPS, pekerja di sektor industri pengolahan 19,34 juta atau 13,83%.
Sektor perdagangan pada kuartal ketiga 2023 bertumbuh 5,05%, tapi menurun dari 5,37% periode yang sama tahun 2022. Peningkatan penjualan mobil dan sepeda motor tahun ini tidak sebesar tahun 2022. Kalangan pelaku bisnis multifinance mengatakan, penurunan kinerja sektor pertanian berdampak langsung pada penjualan sepeda motor. Tahun ini, non performing finance (NPL) atau pembiayaan bermasalah perusahaan multifinance membengkak.
Sektor transportasi dan pergudangan pada kuartal ketiga 2023 mencatat peningkatan tertinggi dibanding sektor lainnya, yakni mencapai 14,74%. Tapi, dibanding kuartal yang sama 2022 yang bertumbuh 25,80% terjadi penurunan.
Sektor konstruksi mulai bangkit dengan laju peertumbuhan 6,39% di kuartal ketiga 2023, naik dari 0,53% periode yang sama 2022. Bukan hanya pemerintah, aktivitas konstruksi swasta juga menunjukkan peningkatan.
Konsumsi Rumah Tangga
Masih menjadi kontributor utama PDB, konsumsi rumah tangga pada kuartal ketiga 2023 tumbuh 5,06%, turun dari 5,39% periode yang sama 2022. Kebijakan tight money policy (TMP) yang diterapkan Bank Indonesia (BI) berdampak pada belanja masyarakat. Sejak Agustus 2022, BI menaikkan suku bunga acuan, BI-7 day reverse repo rate (BI7DRR). Pada 19 Oktober 2023, rapat Dewan Gubernur memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan 25 basis ke level 6%.
Konsumsi rumah tangga pernah meningkat hingga 5,51% pada kuartal kedua 2022. Namun, sejak kuartal ketiga 2022, seiring dengan kontraksi moneter, laju peningkatan belanja rumah tangga mengalami penurunan. Namun, kontribusi belanja rumah tangga terhadap PDB masih dominan, yakni 52,62%, naik dari 50,38% kuartal yang sama tahun 2022.
Pertumbuhan ekonomi kuartal ketiga 2023 juga dihela oleh investasi. Pembentukan modal tetap bruto (PMTB) meningkat 5,77% jauh di atas pertumbuhan ekonomi. BPS mendeskripsikan, PMTB adalah pengeluaran untuk barang modal yang mempunyai umur pemakaian lebih dari satu tahun dan tidak merupakan barang konsumsi. PMTB mencakup bangunan tempat tinggal dan bukan tempat tinggal, bangunan lain seperti jalan dan bandara, serta mesin dan peralatan.
Peran PMTB terhadap PDB cukup besar, yakni 29,68%, naik dari 28,55% kuartal yang sama tahun 2022. Pertumbuhan PMTB kuartal ketiga 2023 juga lebih tinggi dari periode yang sama tahun 2022 yang sebesar 4,96%.
Konsumsi rumah tangga dan PMTB menjadi penentu utama sumber pertumbuhan ekonomi kuartal ketiga 2023. Dari pertumbuhan 4,94%, peran konsumsi rumah tangga 2,63% dan PMTB 1,81%.
Dari persentase, kenaikan pertumbuhan lembaga non profit yang melayani rumah tangga (LNPRT) menempati urutan teratas. Tapi, peran LNPRT terhadap PDB kuartal ketiga 2023 hanya 1,21%. LNPRT adalah lembaga yang menyediakan barang dan jasa secara gratis dan kalau pun ada biaya, nilainya tidak berarti secara ekonomi bagi anggota atau rumah tangga.
LNPRT mencakup enam lembaga, yakni organisasi kemasyarakatan, organisasi sosial, organisasi profesi dan serikat buruh, organisasi kebudayaan, olahraga, dan rekreasi, partai politik, dan lembaga keagamaan. LNPRT tidak dikontrol oleh pemerintah.
Dari sisi pengeluaran, faktor utama yang membuat pertumbuhan ekonomi kuartal ketiga 2023 di bawah 5% adalah ekspor, konsumsi pemerintah, dan impor. Nilai ekspor merosot tajam akibat jatuhnya harga komoditas —khususnya crude palm oil (CPO) dan batubara—, sehingga bertumbuh minus 4,25%. Ekspor menempati peringkat keempat dilihat dari kontribusi terhadap PDB. Pada kuartal ketiga 2023, kontribusi ekspor terhadap PDB sebesar 21,26%.
Meski industri manufaktur bertumbuh, impor pada kuartal ketiga 2023 minus 6,18%. Seiring dengan penurunan pertumbuhan impor, kontribusi impor terhadap PDB pun minus 19,57%. Dikhawatirkan, kontribusi impor terhadap PDB tahun depan masih menurun. Impor yang menurun mencerminkan aktivitas pabrik.
Penurunan ekspor berdampak pada menipisnya surplus neraca perdagangan. Pada kuartal ketiga 2023, surplus neraca perdagangan US$ 7,83 miliar, turun dari 14,86 miliar periode yang sama 2022.
Belanja Pemerintah
Belanja pemerintah bertumbuh minus 3,76%. Meski kontribusi terhadap PDB hanya 7,16%, belanja memerintah sangat menentukan pertumbuhan ekonomi. Memasuki kuartal keempat 2023, pemerintah memiliki ruang fiskal yang cukup untuk meningkatkan belanja publik, terutama bila pemerintah hendak memberikan dana perlindungan sosial kepada masyarakat yang terkena dampak El Nino.
Seperti dijelaskan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati, kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2023 cukup terjaga ditandai dengan surplus sebesar Rp 67,7 triliun atau setara 0,32% terhadap PDB 2023. UU APBN memberikan keleluasaan kepada pemerintah untuk meningkatkan belanja publik asalkan defisit tidak melampaui 3% dari PDB.
Dengan asumsi PDB Indonesia tahun 2023 sebesar Rp 20.000 triliun, defisit APBN 2023 boleh mencapai Rp 600 triliun. Pada saat BI menerapkan kebijakan kontraktif untuk menjaga nilai tukar rupiah, pemerintah perlu mengelola anggaran dengan baik agar APBN tetap ekspansif demi menjaga momentum pemulihan ekonomi, mendukung berbagai agenda pembangunan, dan melindungi daya beli masyarakat yang terpukul kemarau dan krisis ekonomi global.
Pada kuartal ketiga 2023, APBN mencatat surplus keseimbangan primer Rp 389,7 triliun dan surplus anggaran sebesar Rp 67,7 triliun atau 0,32% PDB. Rasio utang terhadap PDB terjaga di level 37,95%.
Pendapatan negara pada APBN 2023 melambat, namun masih tumbuh positif 3,1% dengan realisasi Rp 2.035,6 triliun atau 82,6% dari target APBN. Penerimaan Perpajakan Rp 1.583,3 triliun, 78,3% dari target APBN atau tumbuh 2,6% yoy terutama ditopang oleh PPh nonmigas yang bertumbuh 6,7% yoy dan PPN dalam negeri yang bertumbuh 6,4% yoy.
Realisasi belanja negara sampai akhir kuartal ketiga 2023 mencapai Rp 1.967,9 triliun atau 64,3% dari pagu APBN. Angka itu terdiri atas realisasi belanja pemerintah pusat yang mencapai Rp 1.396,9 triliun, 62,2% dari pagu APBN atau tumbuh 2,6% yoy dan dana transfer ke daerah yang mencapai Rp 571,0 triliun atau 70,1% dari pagu APBN.
Peran Pertambangan
Secara spasial, laju pertumbuhan ekonomi tertinggi pada kuartal ketiga 2023 terjadi di Maluku, Maluku Utara, dan Papua, yakni melesat 9,25%, jauh di atas pertumbuhan periode yang sama 2022, sebesar 7,55%. Sumber pertumbuhan di kawasan ini adalah pertambangan dan penggalian, perdagangan, dan konstruksi.
Meski turun, pertumbuhan ekonomi di Sulawesi jauh di atas nasional, yakni 6,44%. Sumber pertumbuhan utama ekonomi kawasan ini adalah industri pengolahan, pertambangan dan penggalian, dan perdagangan.
Pertumbuhan ekonomi di bawah rata-rata nasional terjadi di Jawa, Sumatera, Bali-Nusa Tenggara, dan Kalimantan. Pertumbuhan ekonomi di Jawa 4,83%, turun dari 5,75% periode yang sama 2022. Pertumbuhan ekonomi Sumatera 4,50%, turun dari 4,73% kuartal yang sama 2022. Laju pertumbuhan ekonomi Bali dan Nusa Tenggara 3,43%, turun dari 6,73% periode yang sama 2022. Sedang laju pertumbuhan ekonomi Kalimantan 4,83%, turun dari 5,71% periode yang sama 2023.
Secara nasional, penurunan laju pertumbuhan ekonomi kuartal ketiga 2023 disebabkan oleh kondisi ekonomi global dan perubahan iklim. Seiring dengan jatuhnya harga komoditas, ekspor Indonesia menurun. Selain pertumbuhan ekonomi China yang melambat, secara umum, pertumbuhan ekonomi dunia juga menurun. Wilayah Indonesia yang mengandalkan sektor pertanian mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi signifikan akibat El Nino yang menyebabkan kemarau panjang dan pemanasan global.***
