Pengamat Ekonomi: Ekonomi Indonesia Kuartal-I 2024 Hadapi Sejumlah Tantangan Ini
JAKARTA, investortrust.id – Pengamat Ekonomi Makro Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia Teuku Riefky menyebut perekonomian Indonesia mulai kuartal I hingga akhir 2024 akan menghadapi berbagai tantangan.
Tantangan datang dari berbagai lini, tak hanya dari perekonomian global. “Jadi memang kuartal-I 2024 dan keseluruhan 2024 tantangannya cukup beragam,” kata Riefky melalui pesan singkat kepada investortrust.id, Selasa (20/02/2024).
Riefky mengatakan tantangan yang perlu diperhatikan dari kondisi global, yaitu pemilu di banyak negara. Dia memperkirakan kondisi politik dalam negeri ini dapat berpengaruh terhadap ekonomi global. “Jadi ini mungkin yang berpengaruh bagi eskalasi geopolitik, demand, dan pertumbuhan ekonomi global,” ujar dia.
Baca Juga
Dari dalam negeri, kata Riefky memprediksi, perekonomian Indonesia masih menunjukkan peningkatan pertumbuhan pada kuartal-I 2024. Pertumbuhan ditopang oleh sisi konsumsi yang meningkat karena adanya libur akhir pekan yang panjang.
Teuku Riefky
“Faktor musiman Ramadan dan lebaran dan juga adanya pemilu ini mendorong konsumsi di masyarakat,” ujar dia.
Meski demikian, dari sisi investasi, Riefky memperkirakan para investor masih wait and see. Sementara itu, di sisi global, permintaan juga melambat. “Dari sisi domestik pemilu yang baru settle, jadi memang banyak investor yang wait and see,” kata dia.
Adapun dari sisi impor, saat ini masih terjadi penurunan neraca perdagangan. Ini dipengaruhi kondisi perekonomian global. “Ini perlu diperhatikan dari sisi perdagangan global,” ucap dia.
Dalam rilis Komite Stabilitas dan Sistem Keuangan (KSSK) Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengutip proyeksi pertumbuhan ekonomi global dari Bank Dunia atau World Bank dalam Global Economic Prospects. Dia menyebut ekonomi global terus melambat sejak 2022.
"Bank Dunia memperkirakan ekonomi global tumbuh melambat, dari 3 persen pada 2022 menjadi hanya 2,6 persen pada 2023, dan akan kembali melemah 2,4 persen pada 2024," ujar Sri Mulyani di Jakarta, Selasa (30/01/2024).
Baca Juga
Selain ekonomi global yang melemah, Sri Mulyani menyampaikan laju ekonomi antar negara-negara dengan ekonomi besar mengalami perbedaan pertumbuhan. Dia mencontohkan, ekonomi AS tumbuh kuat pada 2023, namun menghadapi tekanan fiskal khususnya beban pembayaran bunga utang dan rasio utang menjadi risiko utama. Sementara, kondisi ekonomi Eropa masih melemah.
"Demikian juga ekonomi China masih melambat, karena krisis sektor properti. Pengadilan Hong Kong juga baru menyampaikan bahwa perusahaan properti raksasa, Evergrande dinyatakan bangkrut," ujar dia.
Selain itu, China juga mengalami tekanan utang, terutama dari pemerintah daerah tingkat provinsi. Ini menjadi faktor lain yang menyebabkan ekonomi China masih melambat.
