OECD: India, Indonesia, dan China Tetap Jadi Penopang Ekonomi Dunia 2024-2025
JAKARTA, investortrust.id - Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) memperkirakan pertumbuhan domestic bruto (PDB) global mencapai 2,9% pada 2024 dan 3% pada 2025. Sedangkan Asia diprediksi menjadi penyumbang utama.
OECD Economic Outlook dalam Interim Report February 2024 menyebutkan India, Indonesia, dan China menjadi tiga negara teratas yang diproyeksikan dengan pertumbuhan PDB tertinggi pada 2024 dan 2025.
India diproyeksi bakal bertumbuh sebesar 6,2% pada 2024 dan 6,5% pada 2025. Sementara itu, China akan melanjutkan pertumbuhan PDB di tengah perlambatan domestik dengan 4,7% pada 2024 dan 4,2% pada 2025.
Baca Juga
Survei JP Morgan: Data Inflasi dan Pilpres AS Penentu Pasar Global 2024
OECD juga mengoreksi proyeksi pertumbuhan PDB Indonesia pada 2024 sebesar 5,1% dan pada 2025 diproyeksi sebesar 5,2%. Target tersebut lebih rendah, dibadningkan rilis November 2023 lalu, Indonesia direpdiksi tumbuh pada 2024 dan 2025 sebesar 5,2%. Konsumsi rumah tangga, meskipun moderat, akan menjadi mesin bagi perekonomian Indonesia.
Pengetatan moneter dan masih lambatnya perdagangan global akan membebani APBN. Meski demikian, pembangunan rumah secara aktif diprediksi akan meningkat, khususnya didorong pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara.
OECD awalnya juga memprediksi pengetatan kebijakan moneter selama dua tahun akan menurunkan inflasi. OECD memproyeksikan inflasi Indonesia pada 2024 dan 2025 pada kisaran 2,5%.
Target Inflasi
Sekretaris Jenderal OECD Mathias Cormann mengatakan, inflasi akan kembali ke target sasaran bank sentral pada akhir 2025. Meski demikian, Mathias menyarankan agar bank sentral berhati-hati dalam menurunkan suku bunga acuannya pada tahun ini.
Mathias mengatakan secara paralel, pemerintah negara-negara perlu bekerja sama untuk menghidupkan kembali perdagangan, meningkatkan ketahanan rantai pasokan, dan mengatasi tantangan bersama, khususnya perubahan iklim. Isu konflik di Laut Merah Yaman, menjadi catatan mengingat area tersebut menjadi jalur perdagangan lintas negara.
Baca Juga
Dana Asing Mengalir Deras, Pertanda Pilpres Satu Putaran? Simak Saham Pilihan Ini
“Kebijakan moneter harus tetap hati-hati, meskipun bank sentral dapat mulai menurunkan suku bunga tahun ini, asalkan inflasi terus mereda. Kebijakan fiskal harus membangun kembali ruang fiskal, melalui upaya yang lebih kuat untuk menahan pertumbuhan belanja,” kata Mathias dikutip Investortrust.id dari laman resmi OECD, Selasa (06/02/2024).
Sementara itu, Ekonom OECD Clare Lombardelli mengatakan pendekatan jangka panjang diperlukan untuk memperkuat fondasi perekonomian yang lebih berkelanjutan dan sejahtera.
“Para pembuat kebijakan perlu mengambil tindakan saat ini untuk memastikan keuangan publik yang sehat sambil mempertahankan dan mendorong langkah-langkah untuk meningkatkan produktivitas dan membekali perekonomian untuk masa depan,” kata Clare.
