Meski Kondisi Global Melambat, Ekonomi AS Tetap Perkasa Karena Ini
JAKARTA, investortrust.id - Vice President Wealth Management BCA Richie Norbert Tandias mengungkapkan, di tengah kondisi perlambatan ekonomi global, kondisi Amerika Serikat (AS) justru perkasa. Salah satunya karena surat utang (treasury) AS terlihat menarik dengan menawarkan yield tinggi dan statusnya sebagai risk free aset.
“Kalau US treasury 10 tahun dikasih 5%, itu risk free aset. Jadi kalau dilihat AS di tahun lalu digaung-gaungkan ada dedolarisasi atau AS sudah mau bangkrut, tapi tidak semudah itu,” ujarnya secara daring, Jumat (7/6/2024).
Menurut Richie, ketika ekonomi dunia tengah melambat, ternyata AS tetap bisa berhutang dan membiayai perekonomiannya. Karena setiap orang perlu dolar untuk masuk ke pasar obligasi AS. “Dan akhirnya AS dapat funding yang cukup bagus,” katanya.
Baca Juga
Ada Ekspektasi Penurunan Suku Bunga AS, Bagaimana Gerak Harga Emas?
Selain itu, dari sisi kontribusi ekonomi AS terhadap produk domestik bruto (PDB) atau gross domestic product (GDP) secara global pun trennya terus meningkat. “Market share atau porsinya terus bertambah, dari 10-13 tahun lalu di 20%, sekarang sudah di 26% kata Richie.
Lagi-lagi, lanjut Richie, hal ini didorong oleh permintaan dan kebutuhan global akan mata uang dolar yang terus meningkat dari waktu ke waktu.
Baca Juga
Laju Bitcoin Sedikit Menguat Jelang Akhir Pekan, Tunggu Kepastian Data Ekonomi AS
Oleh karena itu, The Fed diperkirakan akan tetap mempertahankan tingkat suku bunga, setidaknya menunggu hingga pemilihan umum (Pemilu) presiden di AS selesai, sehingga bisa melihat kemana arah kepemimpinan presiden yang baru ke depannya.
“Walau secara teori, bank sentral itu tidak tunduk terhadap presiden karena kedua badan ini berbeda, tapi pada praktiknya kita tahu akan terpengaruh satu sama lain baik secara langsung maupun tidak," ucap Richie.
