Melegakan, Rupiah Rebound ke Rp 15.909/USD
JAKARTA, investortrust.id – Setelah beberapa hari terus tertekan mendekati level psikologis Rp 16.000 per USD, akhirnya rupiah berbalik rebound melawan greenback. Mata uang Garuda bergerak menguat terhadap dolar Amerika Serikat pada Kamis pagi(4/4/2024).
Nilai tukar rupiah tercatat menguat terhadap dolar AS ke Rp 15.909 per USD hingga pukul 09.47WIB Kamis ini. Berdasarkan data Yahoo Finance, rupiah rebound 0,03% dibanding kemarin.
Baca Juga
Sedangkan berdasarkan kurs Jidsor yang dirilis Bank Indonesia, kemarin sore, rupiah sudah ditutup bounce back ke posisi Rp 15.923 per USD. Ini menguat 10 poin dibandingkan perdagangan sebelumnya yakni Rp 15.934 per USD.
Eropa Perkasa
Sementara itu, nilai tukar rupiah tercatat melemah terhadap euro pada pagi ini, menjadi Rp 17.242 per euro. Rupiah melemah 0,03% dibanding kemarin.
“Beralih (perhatian) ke Eropa, inflasinya periode Maret 2024 turun ke 2,4%, penurunan ini lebih besar dari perkiraan pasar 2,5%. Ini semakin memperkuat keyakinan bahwa bank sentral Eropa, ECB, akan menurunkan suku bunga di benua itu pada Juni 2024,” ucap analis Cheril Tanuwijaya membeberkan hasil analisis Tim Riset InvestasiKu, Jakarta, Kamis (4/4/2024).
Ia juga menjelaskan, bursa saham Eropa, merespons positif data inflasi ini. Hal ini tecermin pada penguatan indeks UKX Inggris, DAX Jerman, dan CAC40 Prancis masing-masing sebesar 0,03%, 0,50%, dan 0,29%.
Pelaku pasar juga mencermati komentar pejabat tinggi bank sentral AS, The Fed. “Data ISM menunjukkan baik harga maupun aktivitas bisnis penyedia jasa di AS periode Maret 2024 mencatatkan pelemahan. Sedangkan dari sisi pasar tenaga kerja masih menunjukkan ketangguhan, yang ditunjukkan oleh kenaikan jumlah lapangan pekerjaan JOLTS periode Februari lalu dan penambahan pekerjaan nonpertanian ADP AS naik lebih tinggi dari perkiraan ke level 184 ribu pekerjaan. Gubernur The Fed Jerome Powell mengatakan bahwa perekonomian AS masih dalam jalur soft landing, yang sesuai dengan tujuan The Fed,” paparnya.
Powell juga mengatakan pemangkasan suku bunga acuan The Fed di tahun 2024 masih tetap ada dalam agenda bank sentral negara dengan perekonomian terbesar di dunia itu. Meski demikian, besarannya mencermati perkembangan data ekonominya.
”Merespon hal ini, harga emas menguat hingga mencetak rekor tertinggi di level US$ 2.300 T oz,” tandas Cheril.
Baca Juga
