Maruarar Sirait Ungkap Kisah Gagal Jadi Menteri: Jokowi dan JK Jadi Saksi
JAKARTA, investortrust.id - Politikus Maruarar Sirait mengungkap kisah ketika gagal dilantik Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai menteri Kabinet Kerja pada 2014 silam. Saat itu, kata Ara, sapaan Maruarar Sirait, Jokowi dan Wapres ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK) menjadi saksi kisahnya.
Demikian disampaikan Ara dalam acara One on One Bersama Maruarar Sirait yang disiarkan TVOne, Jumat (26/1/2024).
Ara memulainya kisahnya saat sang ayah, almarhum Sabam Sirait jatuh di rumahnya di kawasan Bintaro. Sabam yang ketika itu sudah berusia 77 tahun mengalami patah tulang belakang. Keluarga memutuskan untuk membawa Sabam ke Singapura karena rumah sakit di Jakarta tidak bisa menangani. Meski sudah lanjut usia, Sabam berhasil melewati operasi saat itu.
Baca Juga
Keluar dari PDIP, Maruarar Sirait Ungkap Pengikut Instagram-nya Bertambah
Pada Sabtu (25/10/2014) malam, Ara mendapat pesan singkat dari protokol istana. Pihak protokol meminta Ara mengambil baju putih yang menjadi dress code para calon menteri. Rencananya, para calon menteri akan bertemu Presiden Jokowi dan JK pada siang hari, pengumuman kabinet pada sore hari, dan pelantikan pada hari Senin.
Ara yang saat itu masih di Singapura, pulang bersama keluarga ke Jakarta pada Minggu (26/1/2024) pagi. Setelah sarapan di rumah, Ara berencana menemui Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri sebelum ke Istana Kepresidenan.
"Waktu itu saya datang ke Jakarta. Pagi-pagi saya datang ke Jakarta. Minggu pagi, istri saya dan anak-anak saya dari Singapura. Kemudian saya ke rumah, makan. Kami selalu memulai langkah kami dengan doa karena kami percaya kita hanya bisa berusaha tetapi tuhan yang menentukan. Kemudian saya pamit ke istri dan anak," tuturnya.
Ara kemudian menuju kediaman Megawati di Jalan Teuku Umar, Jakarta Pusat. Sebagai ketua DPP PDIP bidang pemuda, ketua umum Taruna Merah Putih, dan anggota DPR dari Fraksi PDIP, Ara mengaku memiliki kewajiban menemui Megawati sebelum bertemu Jokowi di istana. Namun, setelah menunggu beberapa jam, Ara gagal bertemu Megawati.
"Saya tunggu ada berapa jam tetapi Ibu Mega enggak bisa ketemu. kemudian Pak Jokowi telepon, 'di mana Mas Ara?' Saya jawab, di Teuku Umar, kemudian 'apakah Ibu Mega bisa ketemu?' tidak. 'Ya sudah Mas Ara ke istana," tutur Ara menirukan percakapannya dengan Jokowi saat itu.
Ara mengaku tak mengetahui alasan Megawati tak menemuinya. Ara kemudian bergegas ke Istana Kepresidenan. Ara bertemu Jokowi dan JK. Kepada Ara, JK mengaku dirinya dan Jokowi ingin melantik Ara sebagai menteri. Namun, jika Ara dilantik, terdapat sejumlah menteri yang akan ditarik keluar kabinet.
"Masih ada kok saksinya Pak Jokowi panggil saya. Saya duduk di tengah, Pak jokowi, Pak jk. Pak JK ada juga boleh dikonfirmasi Pak JK. Pak JK yang menyampaikan kepada saya, 'kalau kamu dilantik akan ada beberapa menteri yang akan ditarik keluar kabinet'," tutur Ara.
Ara meyakini JK merupakan orang yang bisa dipercaya dan pernyataannya kredibel.
"Jadi (JK) orang yang saya hormati yang saya percaya omongannya kredibel. Bisa dipercaya. saksinya kita bertiga saja," katanya.
Saat itu, Ara mempertanyakan alasan Jokowi dan JK tidak berkoordinasi terlebih dahulu mengenai keputusan mereka melantiknya sebagai menteri. Jokowi dan JK menilai Ara merupakan orang yang berjasa membantu memenangkan Pilpres 2014. Selain itu, Ara merupakan ketua DPP PDIP, ketua umum Taruna Merah Putih dan anggota DPR. Untuk itu, Jokowi dan JK berinisiatif menunjuk Ara sebagai menteri.
Sebagai manusia, Ara mengaku kecewa karena gagal dilantik sebagai menteri saat itu. Untuk itu, Ara meminta izin kepada Jokowi dan JK untuk pulang ke rumah.
"Saya bilang, 'izinkan saya pulang, saya akan menghapus air mata keluarga saya yang pasti kecewa. Tidak apa-apa, ini akan menguatkan kami.' Saya tahu besi itu ditempa dengan sesuatu yang berat makanya jadi kuat. Kami yakin, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Itu adalah pepatah lama yang kami pegang. Dan semua adalah rencana Tuhan," katanya.
Baca Juga
Maruarar Sirait Ungkap Alasannya Dukung Prabowo-Gibran di Pilpres 2024
Ara mengaku kekecewaan yang dirasakannya tak berlangsung lama. Ara justru merasa berterima kasih karena kegagalannya menjadi menteri justru membawa hal positif.
"Saya pada waktunya akan berterima kasih kepada yang tidak menjadikan dan tidak mengizinkan saya sebagai menteri karena dengan begitu lebih banyak waktu saya untuk memperhatikan keluarga, orang tua saya, dan saya juga berkegiatan sosial, saya juga lebih fokus membangun usaha-usaha kami. Jadi semua adalah jalan Tuhan. Jadi ya sudah. Kecewa, sebagai manusia bohong kalau tidak kecewa, tetapi jangan lama-lama," katanya.
Ara menekankan keputusannya saat ini untuk keluar dari PDIP tidak ada kaitannya dengan peristiwa tersebut. Hal ini dibuktikan Ara dengan terus berkontribusi kepada PDIP pada Pemilu 2019.
"2019 tetap saya lakukan di PDIP bekerja dan berkontribusi. Kalau cuma ada, tetapi tidur-tidur saja ya buat apa. Ada kan harus bermakna, harus berarti, harus bermanfaat. Saya diajarkan orang tua saya, jabatan penting tetapi jauh lebih penting kepercayaan dan kamu bisa bermanfaat. Buat apa punya jabatan atau punya status tetapi tidak berdampak positif. itu ajaran yang saya pegang dari Pak Sabam yang mengajarkan politik itu suci," paparnya.
