Mandiri Sekuritas: Rata-rata Pertumbuhan EPS Emiten Diprediksi 10% di 2024
JAKARTA, investortrust.id –Mandiri Sekuritas memprediksi rata-rata pertumbuhan laba per saham (earnings per share/EPS) emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) bisa mencapai 10% pada 2024.
Dengan pertumbuhan tersebut diharapkan indeks harga saham gabungan (IHSG) BEI bergerak dalam rentang 7.640 pada level basis dan 8.030 sebagai level bullish.
Head of Equity Analyst and Strategy Mandiri Sekuritas Adrian Joezer memproyeksikan, pertumbuhan didukung atas proyeksi konsumsi stabil dan sedikit membaik tahun ini, seiring peningkatan belanja fiskal dan pemilu.
Baca Juga
Kapitalisasi Pasar Masih Kecil, Saham Blue Chip Diprediksi Topang IHSG 2024
“Meskipun pola berbentuk K dapat bertahan, kesenjangan tersebut mungkin menyempit pada semester I-2024 dan berpotensi melebar lagi pada semester II-2024, kecuali ada dukungan fiskal yang berarti pasca-pemilu,” papar Andrian dalam Jumpa Pers Economic and Market Outlook 2024 di Menara Mandiri, Jakarta, Senin (29/1/2024).
Terkait belanja modal emiten pada paruh pertama 2024, dia mengatakan, cenderung turun selama masa pemilu. Penyerapan dirpediksi kembali melesat pada paruh akhir 2024, seiring berakhirnya pemilu dan pelonggaran kebijakan moneter. “Rencana pemerintah untuk mempercepat penyelesaian proyek-proyek prioritas pada 2024 dapat mendukung belanja infrastruktur,” tegas Andrian.
Baca Juga
Sinarmas Sekuritas: IHSG Berpotensi Menuju Level 7.800-8.200 Tahun Ini
Mandiri Sekuritas juga memperkirakan usai pemilu Januari-Juni 2024, diversifikasi rantai pasokan global dipercaya dapat menarik banyak aliran investasi langsung asing (FDI) ke Indonesia, seperti yang telah terlihat dalam beberapa tahun terakhir.
Tetap Resilen
Dia mengatkaan, IHSG diproyeksikan menguat ke level 7.640 pada akhir 2024, bahkan IHSG BEI diyakini masuk dalam ASEAN-5 dan diproyeksikan tetap tumbuh secara resilien di tengah volatilitas global.
Hal itu berbanding terbalik dari perlambatan pertumbuhan ekonomi global, akibat bank sentral di berbagai negara telah menaikkan tingkat suku bunga sebesar 250-525 basis points (bps) dalam sekitar dua tahun belakangan.
“Di tengah pelemahan pertumbuhan laba bersih perusahaan karena kebijakan moneter yang ketat, potensi penurunan suku bunga akan menopang perbaikan pertumbuhan sejumlah emiten pada semester II-2024,” ujar Adrian.
Baca Juga
Laba Emiten Tumbuh 8%, Manulife Aset Manajemen Ramal IHSG Bisa Tembus 7.800
Mandiri Sekuritas optimistis, akhir dari pengetatan kebijakan moneter Indonesia pada 2024-2025 akan lebih baik. Hal ini didukung kondisi fundamental ekonomi, perbankan, dan perusahaan yang lebih baik dibandingkan periode-periode pengetatan kebijakan moneter sebelumnya.
Adrian menilai, pendaratan mulus dari berakhir pengetatan kebijakan moneter Indonesia belum sepenuhnya terefleksi oleh valuasi pasar saham, yang saat ini di level 12-13x forward PE.
“Tingkat leverage perusahaan yang rendah dan ROIC-WACD (return on invested capital spread-weighted average cost of debt) yang berada di level tertinggi sejak 8-9 tahun terakhir pun, akan membantu mempercepat pemulihan pertumbuhan setelah kebijakan tightening berakhir,” sambung dia.
Hal itu juga diyakini membantu menopang imbal hasil dividen yang tinggi ke depannya. (CR-10)
