LSI Tak Heran Elektabilitas Prabowo-Gibran Belum Tembus 50%
JAKARTA, investortrust.id - Elektabilitas capres-cawapres nomor urut 2, Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka hingga kini belum menembus angka 50%+1 untuk memastikan meraih kemenangan di Pilpres 2024 dalam satu putaran. Padahal, elektabilitas Prabowo-Gibran terus menanjak beberapa waktu terakhir, bahkan sempat melompat 10% pada Desember 2023.
Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia (LSI) Djayadi Hanan mengaku tidak kaget dengan fenomena tersebut.
"Kenapa belum sampai segitu (50%+1)? saya tidak menganggap itu aneh," kata Djayadi Hanan dalam diskusi Konvergensi bertajuk "Pilpres Satu Putaran, Mungkinkah" di kantor investortrust.id, Jakarta, Senin (29/1/2024).
Baca Juga
Mungkinkan Prabowo-Gibran Menang Pilpres Satu Putaran? ini Hitung-hitungan LSI
Djayadi memaparkan analisisnya terkait elektabilitas Prabowo-Gibran yang belum menembus angka 50%+1. Pertama, kata Djayadi, saat ini terdapat tiga capres-cawapres yang berlaga. Tidak mudah untuk memperoleh elektabilitas 50% jika calon tidak istimewa atau lawannya tidak terlalu buruk. Kedua, tidak ada petahana atau incumbent yang bertarung di Pilpres 2024.
"Waktu 2009, Pak SBY menang 60% karena Pak SBY seorang incumbent yang angka kepuasan kinerjanya pada 2009 sebelum pemilu itu 85%, makanya dia melenggang. Sekarang tiga pasang calon tidak ada yang incumbent," katanya.
Ketiga, ketiga capres merupakan tokoh yang dikenal publik sejak lama. Dengan demikian, tidak ada faktor kejutan terkait kepribadian mereka. Keempat, basis pemilih Anies Baswedan, Prabowo, dan Ganjar Pranowo saling tumpang tindih satu dengan yang lain. Djayadi mencontohkan, sebagian basis pemilih Anies adalah pemilih Prabowo pada 2019, yakni mereka yang tidak puas dengan kinerja Jokowi. Angkanya berada di angka 20%.
Dengan demikian, basis pemilih Prabowo menjadi berkurang. Saat ini, basis pemilih Prabowo adalah memilih karena sosok Prabowo bukan karena anti-Jokowi. Mereka saat ini tercermin sebagai pemilih Gerindra dengan angka sekitar 20%.
Kemudian, pemilih Ganjar terdiri dari pemilih PDIP dengan angka 19-25%. Pemilih Ganjar selebihnya adalah pemilih Jokowi yang bukan pemilih PDIP dengan angka sekitar 30%.
"Dengan saling tumpang tindihnya pemilih seperti itu, maka ketika terjadi perpindahan suara antarcalon maka sulit bagi mereka mendapatkan 50%," katanya.
Dipaparkan, pergerakan suara capres-cawapres ini dapat dijelaskan dengan melihat tren elektabilitas. Sebelum pendaftaran capres-cawapres, Prabowo dan Gibran bersaing ketat. Namun, setelah putusan MK dan Gibran menjadi cawapres, elektabilitas Prabowo melonjak hingga 10% menjadi sekitar 45%.
Baca Juga
Peneliti LSI Denny JA: Prabowo-Gibran Bisa Menang Satu Putaran, Ini Syaratnya!
Melonjaknya elektabilitas Prabowo itu berasal dari para pemilih Jokowi yang sebelumnya ragu. Akibat perpindahan pemilih Jokowi ke Prabowo ini, elektabilitas Ganjar mulai turun. Di sisi lain, elektabilias Anies naik karena mendapat limpahan pemilih Prabowo yang anti-Jokowi.
"Begitu Jokowi jelas berpindah ke Prabowo, maka suaranya yang non-PDIP sebagian besar pindah ke Prabowo, tetapi di kubu Prabowo sendiri, begitu Jokowi masuk dan Gibran ada di situ, pemilih Prabowo yang anti-Jokowi pindah juga? Ke mana? Pindah ke Anies. itu yang menjelaskan mengapa suara Anies naik seiring dengan naiknya Prabowo meski tidak sesignifikan Prabowo. Akan halnya Ganjar sekarang dia dipilih oleh pemilih loyal PDIP," paparnya.
