Laba BNI Naik 2% Capai Rp 5,3 Triliun di Kuartal I 2024
PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) pada kuartal I 2024 mencatatkan laba bersih konsolidasi sebesar Rp 5,3 triliun atau tumbuh 2% secara tahunan atau year on year (YoY). Sementara secara kuartalan mengalami kenaikan 3,3%.
Direktur Utama BNI Royke Tumilaar mengatakan, perseroan terus melanjutkan transformasi perusahaan yang sudah berjalan selama tiga tahun agar mampu memberikan tingkat profitabilitas yang kuat dan sehat dalam jangka panjang.
"Fundamental BNI semakin sehat dan kuat berkat program transformasi yang menjadi langkah besar kami untuk terus tumbuh dan berkembang, serta beradaptasi terhadap tantangan di tingkat nasional dan global," kata Royke dalam paparan kinerja BNI kuartal I 2024 secara virtual, Senin (29/4/2024).
Ia mengatakan, BNI berada di jalur yang tepat untuk mencapai aspirasi profitabilitas return on equity (ROE) hingga level 20% pada 2028 mendatang. Hal ini didasari oleh pertumbuhan aset yang stabil dan berkelanjutan dari segmen prospektif berisiko rendah serta kualitas aset yang semakin sehat.
"Dengan program transformasi ini, kami konsisten melakukan peningkatan kapabilitas SDM dan optimalisasi teknologi sebagai faktor enablers yang krusial. Kami yakin hal ini akan terus mendorong peningkatan produktivitas bisnis, efisiensi operasional, serta kontribusi perusahaan anak," ujar Royke.
Baca Juga
BNI Dukung UMKM Tembus Pasar Global Lewat Pameran Indonesia di Singapura
BNI lanjut Royke terus melakukan perbaikan struktural melalui transformasi yang telah dijalankan dari awal tahun 2020. Beberapa hal yang telah BNI lakukan dalam empat tahun terakhir meliputi penguatan struktur pemodalan, perbaikan internal bisnis proses, hingga penguatan struktur organisasi yang telah memberikan dampak signifikan pada pertumbuhan bisnis BNI.
Kenaikan laba bersih bank pelat merah dengan kode emiten BBNI pada kuartal I 2024 didorong oleh beban provisi yang turun menjadi Rp 1,7 triliun atau turun 19% YoY.
Di sisi lain, net interest income (NII) tercatat turun menjadi Rp 9,4 triliun atau minus 9,8% YoY. Hal itu akibat membengkaknya beban bunga sebesar 47,5% YoY.
Sementara pre provision operating profit (PPOP) turun menjadi Rp 8,2 triliun atau turun 5,4% YoY.
Baca Juga
BI Rate Jadi 6,25%, Ini Deretan Bunga Deposito BCA, Mandiri, BNI, BRI
Sejalan dengan laba, dari segi operasional, kredit yang disalurkan BNI tercatat tumbuh 9,6% YoY. Persentase itu sejalan dengan guidance manajemen di level 9%–11% dan target industri dari Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan yang sebesar 9%–12%.
Direktur Finance BNI Novita Widya Anggraini menjelaskan, pertumbuhan kredit tersebut ditopang oleh pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang mencapai Rp 780,23 triliun atau tumbuh 4,9% dibandingkan periode yang sama tahun 2023. Hal itu seiring dengan peningkatan transaksi berbasis dana murah, di mana kontribusi Current Account Savings Account (CASA) masih mendominasi sebesar Rp 543,50 triliun atau 69,7% dari total DPK. CASA BNI tersebut naik 6,0% dibandingkan kuartal I 2023.
"Kami menyadari adanya tren kenaikan suku bunga yang berdampak pada kenaikan biaya dana pada kuartal I-2024, sehingga terjadi penurunan margin. Namun demikian margin bunga bersih (NIM) masih dapat dijaga pada level 4%," kata Novita.
Lebih lanjut Novita mengatakan, pada kuartal pertama tahun ini, kualitas aset BNI juga tercatat semakin membaik yang terlihat dari penurunan rasio Non Performing Loan (NPL) dan rasio Loan at Risk (LaR).
Rasio NPL gross pada akhir kuartal I 2024 turun ke level 2,0%, jauh lebih rendah daripada kuartal I 2023 yang tercatat 2,8%. Berikutnya, rasio Loan at Risk turun ke level 13,3% dari tahun sebelumnya pada level 16,3%.
