Kisah Rebound Facebook jadi Saham Kedua Terbaik di Jajaran S&P 500
JAKARTA, investortrust.id - Saham Facebook (sebelum berganti menjadi Meta) sempat mengalami periode turbulensi. Pemicunya karena para investor Wall Street mulai tak yakin dengan masa depan bisnisnya yang kian tergerus oleh sejumlah big tech pesaing.
Belum lama ini, sang mentor Mark Zuckerberg, membawa kabar sukacita. Ia mengatakan, kinerja Meta pada kuartal kedua 2023 di atas ekspektasi. Tak berselang lama saham Facebook/Meta kemudian terkerek ke level tertinggi sejak awal tahun 2022.
Selama Juli 2023, saham Meta terkerek 11%, sekaligus mencatat rekor kenaikan dalam sebulan. Kenaikan itu juga menandai periode kenaikan yang konsisten dan lama dibandingkan dengan periode yang sama sejak perusahaan ini melakukan penawaran saham pada tahun 2012.
Meski telah melewati momentum rebound, saham Facebook belum mampu melampaui hargaik tertinggi yang pernah dicapai. CNBC Internaational melaporkan, saham Facebook saat ini masih terpaut 17% dari level tertingginya yang dibukukan pada September 2021.
Gerakan rebound yang dramatis ini ditopang oleh kebijakan efisiensi yang yang ditempuh perusahaan setelah diterapkan manajemen sejak akhir tahun 2022 dan awal tahun 2023. Hal itu ditandai dengan pemangkasan karyawan sekitar 21.000 orang.
Pedmangkasan diiringi pemulihan bisnis iklan online Facebook yang terdata tumbuh dua digit setelah perubahan privasi iOS dari Apple. Sebelumnya, akibat kelesuan ekonomi dunia, nilai penjualan perusahaan turun selama tiga kuartal berturut-turut.
Pada sisi lain, investasi Meta pada teknologi kecerdasan buatan juga memberikan hasil positif. Faktanya lebih banyak orang yang menonton video singkat di Facebook Reels yang mirip dengan aplikasi TikTok. Peluncuran fasilitas baru ini serta kehadiran Threads sebagai pesaing Twitter telah membangun harapan para investor. Meta diprediksi bisa mengelola aplikasi pesan ini menuju sukses besar.
Mark Zuckerberg mengatakan, ia optimistis atas masa depan Threads. Ia menegaskan bahwa aplikasi ini dirancang oleh tim kecil dengan jadwal kerjas yang ketat. Ia pun yakin Threads akan sukses dan dan bisa menciptakan peluang besar bagi bisnis Metas secara langsung.
Mark Zulkenberg. Luncurkan aplikasi baru menantang TikTok dan Twitter.
Meski demikian Mark mengindikasikan bahwa perusahaan ini masih jauh upaya optimal untuk menghasilkan uang dari aplikasi-aplikasi baru yang diluncurkan. Merespons Langkah Meta, para analis pun merekomendasikan “buy” untuk saham ini.
"Melalui peningkatan berkelanjutan, yang ditopang teknologi kecerdasan buatan, serta beberapa inisiatif produk yang bisa dimonetisasi, kami berpandangan bahwa pemulihan bisnis tengah berlangsung di Meta yang mengindikasikan prospek jangka panjang," demikian pandangan analis Canaccord Genuity yang dilansir CNBC.com.
Seiring jalan rebound itu, saham Meta telah menjadi saham terbaik kedua pada jajaran S&P 500 tahun ini, atau hanya kalah dari Nvidia. Sebaliknya tahun lalu Meta mendapat predikat sebagai saham terburuk pada jajaran S&P 500 akibat penurunan harga lebih dari 50%.
Awal dari spiral penurunan tersebut dimulai dengan pengungkapan mengejutkan pada akhir tahun 2021 oleh mantan karyawan Facebook yang kini menjadi whistleblower, Frances Haugen. Bocoran Haugen tentang ribuan halaman dokumen internal menunjukkan bahwa Facebook gagal menangani berbagai masalah yang mempengaruhi keluarga aplikasinya, seperti kontribusi Instagram terhadap masalah kesehatan mental remaja.
Kemarahan publik atas pengungkapan tersebut sekali lagi menempatkan Zuckerberg dalam sorotan para legislator, yang lebih lanjut merusak reputasi Facebook setelah bertahun-tahun kekhawatiran terhadap bagaimana platform tersebut mengatasi informasi yang menyesatkan.
Ketika saham Facebook mulai menurun, Zuckerberg mengganti nama perusahaannya menjadi Meta, dan memberi tahu para investor tentang rencananya untuk menghabiskan miliaran dolar setiap kuartal untuk mengembangkan teknologi realitas virtual dan augmented yang diperlukan untuk menghidupkan dunia metaverse yang akan datang di masa depan.
