Investasi Rp 2,4 Triliun, Tiga Perusahaan Produksi Mobil Listrik 34.000 Unit/Tahun
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Perindustrian mendata, hingga saat ini, ada tiga perusahaan menggelontorkan total investasi Rp 2,4 triliun untuk memproduksi mobil listrik di Indonesia, dengan total kapasitas produksi 34.000 unit per tahun. Selain itu, terdapat lima perusahaan memproduksi bis listrik, dengan total kapasitas produksi2.480 unit per tahun dan total investasi Rp 0,36 triliun.
"Selanjutnya, sebanyak 48 perusahaan memproduksi sepeda motor listrik dengan kapasitas produksi sekitar 1,43 juta unit per tahun. Total investasi sekitar Rp 0,82 triliun,” kata Plt Sekretaris Jenderal Kemenperin Putu Juli Ardika dalam keterangan pers yang dirilis Kemenperin di Jakarta, Kamis (18/10/2023).
Ia menjelaskan, Kementerian Perindustrian berkomitmen untuk turut mempercepat pengembangan ekosistem industri kendaraan listrik di Tanah Air. Oleh karenanya, pada 2030, industri otomotif di dalam negeri ditargetkan dapat memproduksi sepeda motor listrik roda dua dan tiga sebanyak 9 juta unit, serta mobil listrik dan bis listrik sebanyak 600 ribu unit.
"Dengan target itu, diharapkan dapat berkontribusi terhadap pengurangan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) sebesar 21,65 juta barel, atau setara pengurangan emisi CO2 sebanyak 7,9 juta ton secara total. Perkembangan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia semakin tumbuh, dengan kapasitas yang jauh melampaui perkembangan pasar. Hal ini juga didorong berbagai kebijakan strategis pemerintah, termasuk memberikan kepastian usaha, penyusunan roadmap, dan pengoptimalan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN),” katanya.
Baca Juga
Insentif Mobil Listrik Tinggal 3 Bulan, Hyundai Geber Penjualan IONIQ 5
2 Pabrik Baterai
Putu menambahkan, dalam mempercepat pengembangan ekosistem kendaraan listrik, Indonesia saat ini telah memiliki dua pabrik baterai. Pabrik tersebut adalah PT HLI Green Power dan PT International Chemical Industry (ABC).
PT HLI Green Power merupakan perusahaan hasil kolaborasi antara Hyundai Grup dan LG untuk memproduksi sel baterai. Kapasitas tahap pertama mencapai 10 GWh dan nilai investasi menembus USD 1,1 miliar.
“Pabrik baterai mobil listrik tersebut direncanakan akan selesai dibangun pada 2023, dan bisa berproduksi komersial untuk menyuplai kebutuhan pabrik mobil listrik di tahun 2024. Industri sel baterai ini nantinya menyuplai kebutuhan bagi sekitar 150.000-170.000 kendaraan listrik,” ungkapnya.
Baca Juga
PT International Chemical Industry tercatat memiliki kapasitas produksi 100 MWh per tahun atau setara 9 juta butir cell. Sedangkan target total kapasitas produksi 256 MWh per tahun (setara 25 juta butir cell).
“Untuk sepeda motor listrik, sudah ada tiga SNI yang mengatur ketentuan standardisasi battery pack untuk KBLBB (kendaraan bermotor listrik berbasis baterai). Ini dibagi menjadi dua kategori, yaitu SNI untuk baterai secara umum (OnBoard dan swap) dan SNI untuk baterai swap,” imbuhnya.
Sesuai Perpres No 55 Tahun 2019, pemerintah juga memberikan berbagai insentif kepada konsumen maupun industri manufaktur. Insentif kepada konsumen, antara lain, berupa PPnBM 0% dan Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP), Bea Balik Nama (BBN) dan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) KBLBB 0% dari dasar pengenaan pajak, suku bunga yang rendah dan uang muka 0%, diskon tambah daya listrik, pelat nomor khusus, serta bantuan pembelian kendaraan listrik roda dua sebesar Rp 7 juta.
"Adapun insentif kepada industri manufaktur diharapkan akan memicu produksi berbagai jenis KBLBB di Tanah Air. Insentif ini mencakup tax holiday, mini tax holiday, dan tax allowance. Selain itu, fasilitas bea masuk (master list), BMDTP, dan super tax deduction,” tandasnya.
