Infid: Gabung OECD, Indonesia Jangan Hanya Jadi Sumber Bahan Baku Mentah
JAKARTA, investortrust.id - International NGO Forum on Indonesian Development (Infid) mengingatkan bergabungnya Indonesia ke Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) jangan sampai disalahgunakan, hanya sebagai sumber bahan baku mentah.
“Mencermati interdependensi ekonomi, jangan sampai Indonesia menjadi negara sumber bahan baku mentah,” kata Program Officer SDG’s Infid Angellika Fortuna, di Jakarta, Selasa (23/7/2024).
Baca Juga
Setara dengan Perusahaan Swasta, Erick Thohir: Tata Kelola BUMN Diakui OECD
Angellika mengatakan pemerintah perlu hati-hati dalam mengolah potensi sumber daya alam dan tantangannya. Dia mengatakan untuk menjawabnya diperlukan pembangunan sumber daya manusia yang mumpuni.
“Pembangunan human capital, transfer teknologi, peningkatan nilai tambah produksi, dan diversifikasi ke sektor perekonomian yang lebih berkelanjutan menjadi tantangan,” ujar dia.
Angellika menyampaikan, di tengah peluang aksesi OECD, Indonesia juga seharusnya perlu menyelesaikan masalah intern mengenai anggaran riset.
Banjir Platform E-commerce Asing
Anggaran riset juga berkaitan dengan sektor teknologi yang dikembangkan di Indonesia. “Kita melihat juga liberalisasi di infrastruktur digital. Indonesia dibanjiri platform e-commerce asing dan kerawanan data pribadi,” ujar dia.
Selain dua masalah tersebut, kata Angellika, aksesi ke OECD juga harus mempertimbangkan dampak UMKM kita di hadapan negara-negara maju. Pertanyaannya yaitu apakah OECD dapat meningkatkan UMKM RI naik kelas.
“UMKM nasibnya bagaimana, jika harus bersaing di platform seperti Amazon, Alibaba dan lain-lain?” kata dia.
Baca Juga
Core Proyeksikan Ekonomi RI Kuartal II 2024 Melambat, Tumbuh 4,9%-5%
Meski memiliki tantangan, lanjut Angellika, Infid melihat potensi peningkatan investasi dengan bergabungnya Indonesia ke OECD. Dengan bergabung OECD, pemerintah RI dapat meningkatkan sumber daya manusia dan transfer teknologi untuk literasi teknologi, nilai tambah hasil produksi, dan diversifikasi ekonomi secara berkelanjutan.
“Selain itu, dapat mengintegrasikan pemerataan infrastruktur digital dalam pengembangan UMKM dan menentukan prioritas sektor UMKM untuk fasilitas pembiayaan,” ujar dia.
