Industri Semen RI Kelebihaan Kapasitas, Kemenperin Minta Jangan Ada Pabrik Baru
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengungkapkan produksi semen sedang mengalami kelebihan kapasitas atau over capacity. Karena itu, Kemenperin meminta jangan ada lagi pembangunan pabrik semen baru.
Pasalnya, Kemenperin mencatat produksi semen Indonesia hingga 2023 ini adalah sebanyak 120 juta metrik ton. Sementara itu, pemanfaatan atau utilitas industri semen pada 2023 lalu hanya di angka 58%, dan kebutuhan di dalam negeri sebesar 66,8 juta ton.
Berkaitan dengan kondisi industri semen tersebut, Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengatur mengenai pembatasan pembangunan atau investasi semen diatur dalam kebijakan usulan daftar prioritas investasi dalam sistem Online Single Submission (OSS).
"Namun BKPM sudah mengatur mengenai pembatasan investasi atau pembangunan industri semen tersebut dalam sistem OSS," ucap Direktur Industri Semen, Keramik dan Pengolahan Bahan Galian Non-Logam Kemenperin, Putu Nadi Astuti pada konferensi pers di Gedung Kemenperin, Jakarta Selatan, Selasa (4/6/2024).
"Jadi dalam sistem OSS tersebut dilakukan penguncian terhadap permohonan pembangunan pabrik semen, kecuali untuk wilayah Papua, Papua Barat, Maluku, dan Maluku Utara," tambahnya.
Lebih lanjut, Putu mengungkapkan perkembangan dari kapasitas produksi semen di tahun 2020 hingga 2023 ada sedikit penambahan kapasitas. Hal tersebut terjadi sebelum adanya moratorium atau penguncian pembangunan dan investasi pabrik baru.
"Nah ini kemungkinan disebabkan karena barang kali ada pembangunan pabrik semen yang mulai sebelum moratorium, dan berakhir di 2022/2023. Sehingga pencatatan kapasitasnya itu dilakukan di tahun 2023/2024," tandas Putu.
Sebelumnya, Ketua Asosiasi Semen Indonesia (ASI) Lilik Unggul Raharjo menjelaskan, kondisi semen yang berkapasitas berlebih ini pun membuat sejumlah pabrik semen di Indonesia terpaksa menganggur atau tidak beroperasi secara penuh dalam waktu setahun.
“Jadi banyak pabrik yang terpaksa idle (tidak beroperasi), jadi tidak sepenuhnya jalan dalam setahun, jalan berapa lama doang. Jadi makanya kita kalau oversupply itu, kalau ada pabrik semen baru lagi ya utilitas semakin rendah. Kalau utilitasnya semakin rendah, biayanya semakin tinggi,” ungkap Lilik.
