Ilham Habibie Minta Transisi Energi Hadirkan Keadilan
JAKARTA, Investortrust.id - Ketua Dewan Pembina The Habibie Center, Ilham Habibie menegaskan transisi energi harus menghadirkan keadilan bagi semua elemen bangsa Indonesia. Ilham menginginkan semua pihak menjadi pemenang.
Hal itu disampaikan Ilham Habibie saat membuka high level talk bertajuk "Rembuk Ide Transisi Energi Berkeadilan: Menelaah Gagasan dan Komitmen Calon Pemimpin Indonesia" di Hotel Le Meridien, Jakarta Pusat, Kamis (23/11/2023). Menurutnya, keadilan dalam transisi energi harus diperhatikan karena masih banyak daerah di Indonesia yang masih bergantung pada sumber energi tak terbarukan.
"Kita punya industri sangat besar, kalau langsung beralih ke non batu bara maka akan banyak daerah yang pendapat asli daerah (PAD)-nya menderita. Sehingga harus ada keadilan, jangan terlalu banyak loser, semua harus jadi winner," katanya.
Baca Juga
Gelar Rembuk Ide Transisi Energi Berkeadilan, The Habibie Center Hadirkan Langsung 3 Capres 2024
Di sisi lain, Ilham menjelaskan transisi energi selaras dengan perubahan iklim. Ilham mengatakan Indonesia memiliki peran penting bagi dunia dalam upaya menekan tantangan iklim.
Salah satunya karena Indonesia memiliki salah satu dari 3 hutan tropis terbesar di dunia setelah Brazil dan Kongo. Selain itu Indonesia juga memiliki lahan gambut dan hutan mangrove yang luas sebagai negara kepulauan.
"Indonesia memiliki biodiversity yang besar sekali. Justru Indonesia akan sangat menderita kalau tidak bisa menangani (perubahan iklim) dengan baik. Apalagi Indonesia merupakan negara kepulauan. Bayangkan berapa banyak masyarakat, kota, dan desa yang terdampak dan harus mengubah strukturnya. Ancaman yang kita hadapi nyata sekali," tuturnya.
Baca Juga
Habibie Democracy Forum: Tidak Ada Demokrasi yang Kuat Tanpa Kebebasan Pers
Ilham Habibie pun memaparkan 40% lebih pencemaran udara di Jakarta disumbang oleh lalu lintas. Kemudian 38% dari pembangkit listrik bertenaga batu bara. Oleh sebab itu, elektrifikasi menjadi salah satu solusi dekarbonisasi.
"Tapi itu saja tidak cukup. Kita harus memanfaatkan teknologi. Seperti penangkapan karbondioksida melalui carbon capture storage," tandasnya. (CR-14)
