Harga Beras Indonesia Terus Melambung 19%, Pasokan Ekspor Anjlok
JAKARTA, investortrust.id - Berkurangnya pasokan beras di pasar ekspor dan kekeringan panjang di Indonesia akibat El Nino terus melambungkan harga pangan pokok ini di Tanah Air. Berbeda dengan klaim pemerintah yang menyatakan harga sudah turun, para pedagang mengatakan harganya masih naik tinggi. Berdasarkan data Badan Pangan Nasional, harga rata-rata beras medium nasional menyentuh Rp 13.190/kg pekan lalu, melonjak Rp 2.120 atau 19% lebih year on year dibanding Oktober 2022 yang sebesar Rp 11.070/kg.
Kualitas beras yang dijual juga menurun seiring menipisnya panen di sentra produksi beras Nusantara. Bahkan, tidak seperti biasanya, beras kemasan yang dibeli Investortrust.id di salah satu jaringan minimarket terkenal di Kabupaten Bogor pun ada yang berkutu banyak.
Baca Juga
Kejar Target Produksi Beras 35 Juta Ton, Kementan Punya Strategi Ini
Sementara itu, berdasar keterangan tertulis dari Bapanas, Papua menjadi provinsi dengan rata-rata harga beras medium termahal per Oktober 2023. Rata-rata harga di provinsi Indonesia timur ini menyentuh Rp 15.450/kg. Sedangkan sentra produksi beras Jawa Timur menjadi provinsi dengan rata-rata harga beras medium terendah yakni Rp 11.990/kg.
Pasokan Ekspor Turun
Di pasar global, ekspor beras diperkirakan turun setidaknya 4% pada tahun 2023, akibat pembatasan ekspor yang dilakukan India dan dampak El Nino menekan pasokan. Mencari pengganti pasokan ekspor yang biasa disediakan India merupakan tantangan pelik, karena negara dengan penduduk terbanyak di dunia itu menyumbang hampir 40% ekspor beras global. Berdasarkan proyeksi Persatuan Bangsa-Bangsa (PPB), populasi India mencapai hampir 1,49 miliar orang tahun ini, melampaui Cina dan masih akan bertambah.
Untuk memerangi tingginya inflasi dan harga pangan di dalam negerinya, pemerintah India secara bertahap meningkatkan pembatasan ekspor beras. Pada Juli 2023, negara itu memperluas larangan dari semula pembatasan ekspor beras pecah menjadi untuk semua beras putih nonbasmati juga.
Baca Juga
Jokowi: Program Bantuan Beras Bisa Dilanjutkan di 2024 Jika Anggaran Cukup
Berdasarkan proyeksi United States Department of Agriculture (USDA), ekspor global beras tahun ini diperkirakan turun ke sekitar 52,17 juta ton. Pasokan ekspor beras pun diperkirakan akan terus menyusut tahun depan. Pasokan ini bisa tambah anjlok 3% pada 2024. Amerika Serikat tercatat merupakan eksportir beras terbesar kelima dunia, setelah India, Thailand, Vietnam, dan Pakistan.
Sepanjang tahun ini, fenomena cuaca El Nino menyebabkan lemahnya musim hujan di Asia Selatan dan Tenggara. Curah hujan lebih sedikit dibandingkan biasanya dan awal musim hujan terlambat 1 bulan atau bahkan lebih. Myanmar tercatat sempat memberlakukan larangan ekspor beras sementara, selama 45 hari.
RI Importir Besar Beras
Sementara itu, meski Indonesia merupakan negara agraris dan berada di daerah beriklim tropis dengan curah hujan yang tinggi dan tanahnya luas, negeri ini bertengger di jajaran atas pengimpor beras. RI menjadi importir beras ketiga terbesar di dunia.
Berdasarkan data USDA, Indonesia mengimpor beras sekitar 2,8 juta ton setahun. Sementara BPS mencatat, terdapat 14,25 juta petani gurem atau sekitar 55,35% dari total rumah tangga pertanian yang menggunakan lahan. Petani ini banyak yang miskin karena lahannya sangat sempit hanya sekitar 0,89 hektare atau jauh dari skala ekonomi usaha pertanian minimal 2 ha, sementara realisasi reforma agraria yang juga bersasaran melakukan redistribusi tanah masih sangat tersendat.
Redistribusi tanah dalam pelaksanaan reforma agraria yang dilakukan pemerintah seret, tercatat baru direalisasikan seluas 1,69 juta ha. Angka itu sekitar 37,51% dari target seluas 4,5 juta ha. (CR-01)
