Gobel kepada Mahasiswa: Kualitas Lebih Utama dari Ijazah
GORONTALO, investortrust.id – Wakil Ketua DPR Koordinator Bidang Industri dan Pembangunan (Korinbang) Rachmat Gobel meminta para mahasiswa untuk lebih fokus pada peningkatan kualitas diri. Hal itu disampaikan Rachmat Gobel di hadapan mahasiswa dan mahasiswi Politeknik Gorontalo (Poligon).
“Ijazah itu cuma selembar kertas, yang utama adalah kualitas diri. Jadi bagi mahasiswa dari universitas swasta tak perlu berkecil hati,” kata Gobel dalam keterangannya, Minggu (19/11/2023).
Baca Juga
Gobel: Bermula dari Keprihatinan Global Warming, Gorontalo Kini Ekspor Cokelat
Poligon yang berada di bawah naungan Yayasan Pengembangan Sumberdaya Manusia Gorontalo berdiri di masa mendikbud dijabat Wardiman Djojonegoro. Politeknik. Poligon sudah berusaha meningkatkan statusnya menjadi politeknik negeri, tetapi gagal. Hal ini salah satunya karena kampus Poligon berdiri di atas tanah pemda dan hingga kini belum dilepas menjadi milik yayasan.
Untuk itu, mereka meminta bantuan Rachmat Gobel membantu politeknik ini menjadi lebih maju.
“Ijazah dari politeknik negeri atau swasta itu sama saja, yang penting kualitasnya. Yang menentukan bukan selembar ijazah, tetapi diri kita sendiri. Apa karya kita, apa kontribusi kita,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Gobel bercerita ketika diterima di Universitas Chuo, Jepang. Gobel menuturkan saat itu dirinya menjadi satu-satunya mahasiswa asing yang diterima yang belum paham huruf kanji.
"Ada 70 orang asing, dan yang ke-71 adalah saya,” katanya.
Namun, pada peringatan Universitas Chuo yang ke-120, Gobel justru menjadi orang asing pertama yang mendapat gelar doktor honoris causa.
“Saya berkali-kali menolak. Namun, setelah satu tahun dilobi, akhirnya saya terima. Mereka memberikan gelar doktor honoris causa satu kali dalam 10 tahun. Sehingga pada peringatan ke-120 itu saya adalah orang yang ke-12. Tak setiap saat mereka memberikan gelar doktor kehormatan. Penilaiannya ketat,” katanya.
Gobel mengatakan, mahasiswa harus giat belajar dan mengasah keterampilan serta membangun karakter diri yang unggul. Disiplin dan kerja keras dibentuk dengan membiasakan diri.
"Saya dilatih ayah saya disiplin dan kerja keras sejak kecil. Saya mulai dengan mencuci kamar kecil, menyapu, dan mengepel pabrik,” katanya.
Untuk itu, Gobel meminta pihak politeknik untuk mendidik mahasiswanya bukan hanya dari sisi pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga karakter dan kepribadiannya.
“Didik mereka dengan disiplin dan kebersihan. Mulai dari yang sederhana dan yang kelihatannya kecil tapi sebetulnya sangat penting,” katanya.
Dalam kesempatan ini, Gobel menerangkan, kualitas manusia menjadi pondasi sebelum seseorang diajarkan untuk bisa membuat barang. Hal ini mengingat karya yang berkualitas hanya lahir dari manusia yang berkualitas. Selain itu, katanya, keuntungan sebuah usaha apa pun lahir dari hasil usaha karyawan terendah.
“Pekerjaan di level bawah itulah yang melahirkan keuntungan yang optimal. Tak ada keuntungan tanpa diawali dari pekerjaan kecil,” katanya.
Baca Juga
Gobel Inginkan Belt and Road Initiative Mampu Beri Keuntungan Dua Pihak
Tak hanya itu, Gobel menekankan besaran gaji tidak ditentukan dari mana ijazah seseorang, melainkan ditentukan kualitas orang tersebut. Untuk itu, Gobel mengajak Politeknik Gorontalo untuk meningkatkan kualitasnya untuk menjadi perguruan tinggi papan atas.
“Politeknik ini sangat dibutuhkan bagi kemajuan Gorontalo. Saya sedang menginvestasikan dana Rp 1,4 triliun di Gorontalo. Ini investasi yang sangat besar dan akan membutuhkan dukungan tenaga kerja yang besar dan berkualitas. Jangan sampai orang luar Gorontalo yang menikmatinya. Jangan sampai orang lain yang menikmatinya. Saya melakukan ini untuk memajukan wilayah Gorontalo dan menyejahterakan masyarakat Gorontalo,” katanya.
Untuk mendukung kemajuan Poligon, Gobel memberikan beasiswa untuk 100 orang mahasiswa. Jika berhasil, maka tahap berikutnya akan ditambah menjadi untuk 150 orang mahasiswa. Sehingga pada suatu saat, katanya, tiap desa di Provinsi Gorontalo akan mendapat satu beasiswa untuk kuliah di Poligon. Beasiswa tersebut diserahkan oleh Mohammad Arif Gobel dan Rama Datau yang merupakan anak laki-laki dan keponakan Gobel.
"Beasiswa ini diambil dari uang mereka sendiri. Bukan dari saya,” katanya.
