Gegara Masif Terbitkan Obligasi, China Kekuarangan Likuiditas
JAKARTA, Investortrust.id – Kebijakan terbaru pemerintah China untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, ternyata berujung pada kekurangan likuiditas yang masif, dan menciptakan kekacauan dalam pasar keuangan, demikian dilaporkan Bloomberg pada Sabtu (11/11/2023).
Kebijakannya yang terbaru bisa dikatakan jarang dilakukan banyak negara. Beijing menyetujui penyesuaian anggaran pertengahan tahun bulan lalu dengan penjualan obligasi berdenominasi yuan hingga senilai US$137 miliar. Tindakan ini sejatinya dimaksudkan untuk meringankan beban utang pada pemerintah daerah dan memberikan stimulus di tengah gejolak ekonomi.
Baca Juga
Khawatir Berkurangnya Permintaan AS dan China, Harga Minyak Merosot Hampir 3%
Namun, banjir penjualan obligasi, termasuk oleh pemerintah daerah, menyerap sejumlah besar likuiditas. Akibatnya industri pemberi pinjaman domestik kesulitan mendapatkan uang tunai. Pada pekan lalu, bank-bank juga ikut berbondong-bondong menerbitkanutang jangka pendek. Bloomberg mencatat Industri perbankan telah melipatgandakan penjualan instrumen sertifikat deposit yang dapat dinegosiasikan atau negotiable certificates of deposit, mencapai lebih dari 1 triliun yuan, atau sekitar US$137 miliar.
Sementara itu Reuters melaporkan, bahkan bank milik pemerintah China, Industrial & Commercial Bank of China menjual surat berharga bertenor enam bulan dengan tingkat imbal hasil tertinggi tahun ini. Dan pekan lalu, beberapa bank kecil terpaksa meminjam uang dengan tingkat bunga jangka pendek sebesar 50% akibat tekanan likuiditas. Kenaikan kupon juga terjadi ketika bank-bank harus menyeimbangkan balance sheetmereka sebelum akhir bulan.
Baca Juga
Lebih Buruk dari Perkiraan, Ekspor China Oktober Merosot 6,4%
Untuk menyiasati situasi tersebut, bank sentral People's Bank of China memberikan sinyal akan menopang likuiditas melalui sejumlah pendekatan moneter. Sejumlah langkah yang disiapkan salah satunya pengurangan syaratcadangan pemberi pinjaman, dan penambahan uang tunai melalui operasi pasar terbuka.
Kekhawatiran tentang minimnya likuiditas menambah daftar panjang masalah yang melanda pasar keuangan China tahun ini. Pertumbuhan yang rendah, kejatuhan pasar properti, utang yang besar, dan keluarnya dana asing telah menjadi tema utama sejak Beijing mencabut status lockdown pascapandemi setahun lalu.
