Erick Thohir: BUMN Jangan Borong Dolar!
JAKARTA, investortrust.id – Di tengah gonjang-ganjing pelemahan rupiah, Menteri BUMN, Erick Thohir menginstruksikan kepada perusahaan-perusahaan BUMN agar tidak memborong dolar AS. Aksi borong dolar akan membuat nilai tukar rupiah makin terpuruk.
Erick meminta BUMN yang terdampak bahan baku impor dan BUMN dengan porsi utang luar negeri (dalam dolar AS) yang besar, seperti Pertamina, PLN, BUMN farmasi, dan MIND ID, agar membeli dolar AS secara tepat guna, bijak, dan sesuai prioritas dalam memenuhi kebutuhannya.
"Arahan saya kepada BUMN adalah optimalkan pembelian dolar AS. Artinya terukur dan sesuai kebutuhan, bukan memborong. Intinya jangan sampai berlebihan, kita harus bijaksana menyikapi kenaikan dolar saat ini,” tegas Erick Thohir dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat (19/4/2024).
Baca Juga
Utang Luar Negeri Indonesia Naik 1,4% ke USD 407,3 Miliar, Rupiah Merosot Lagi
Nilai tukar rupiah di pasar spot antarbank Jakarta, Jumat (19/4/2024) pagi melemah 84 poin (0,52%) ke level Rp 16.263 per dolar AS dari sebelumnya Rp 16.179. Depresiasi rupiah terjadi di tengah memuncaknyakonflik antara Iran dan Israel setelah Israel menyerang balik Iran.
Sementara itu, berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), Kamis (18/4/2024), mata uang Garudaberada di posisi Rp 16.177 per dolar AS, menguat dibanding hari sebelumnya di level Rp 16.240.
Mata uang NKRIterus menjauh dari posisi awal Januari 2024 di level Rp 15.473 per dolar AS. Dalam asumsi makro APBN 2024, nilai tukar rupiah dipatok Rp 15.000 per dolar AS. Tren pelemahan rupiah terjadi sejalan dengan derasnya arus modal keluar (capital outflow) di pasar saham dan obligasi.
Erick Thohir menjelaskan, arahan agar BUMN tidak memborong dolar AS juga sejalan dengan apa yang disampaikan Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto dan Wakil Menteri Keuangan, Suahasil Nazara dalam mengantisipasi dampak lanjutan gejolak geopolitik dan ekonomi global.
Menurut Erick, pemerintah telah memiliki instrumen dalam bentuk devisa hasil ekspor yang ingin ditempatkan di dalam negeri. Selain itu, pemerintah menginginkan impor konsumtif ditahan dulu dalam situasi saat ini.
“Untuk itu, pengendalian belanja dan impor BUMN harus dengan prioritas dan sesuai kebutuhan yang paling mendesak,” tandas dia.
Erick Thohir mengingatkan para direksi BUMN agar lebih jeli dan tidak membeli dolar secara berlebihan, apalagi sampai menumpuk greenback.
“Kami mengingatkan para direksi BUMN, utamanya BUMN yang memiliki eksposur impor dan memiliki utang dalam denominasi dolar AS, agar lebih awas dan tidak membeli dolar secara berlebihan, dan menumpuk,” ujar dia.
Baca Juga
BEI: Seluruh Bursa Asia Terkoreksi Dalam Akibat Kabar Israel-Iran, Penurunan IHSG Bukan Terparah!
Tingkat inflasi di AS yang sulit turun, kata Erick Thohir, salah satunya dipicu kenaikan harga energi. Situasi perang saat ini membuat harga energi global sulit turun. “Akibatnya bank sentral di seluruh dunia akan merespons kondisi ini dengan menunda kemungkinan pemangkasan suku bunga acuan,” tutur dia.
Alhasil, menurut Menteri BUMN, saat ini terjadi arus modal keluar (capital outflows) dari negara-negara emerging markets, termasuk Indonesia.
Kondisi itu telah mendongkrak kenaikan imbal hasil (yield) obligasi dan suku bunga pasar dana (funding market), dan akhirnya memicu kenaikan suku bunga kredit. “Saat ini imbal hasil obligasi negara sudah di level 6,98%,” ujar dia.
