Ekspor Sawit Indonesia ke AS Hadapi Tantangan Serius, Ini Sebabnya
JAKARTA, Investortrust.id – Pengamat dari International Center for Applied Finance and Economics (InterCAFE) IPB Dedi Budiman Hakim mengatakan, ada dua tantangan dihadapi Indonesia untuk mengekspor produk kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) ke Amerika Serikat (AS).
Meskipun Indonesia masih menjadi pemasok kelapa sawit tertinggi untuk AS, Dedi mengingatkan soal kehadiran dari negara pesaing. Seperti diketahui, saat ini negara seperti Meksiko dan Honduras yang juga mengekspor kelapa sawit ke AS.
"Jadi bayangkan di situ ada pemasok kelapa sawit selain Indonesia dan Malaysia. Ada lagi negara-negara selatan tropisnya. Itu lah tantangan," ucap Dedi dalam diskusi dengan INDEF, Kamis (14/12/2023).
Apalagi, menurut Dedi, negara-negara tersebut dekat dengan Amerika Serikat dan tergabung dengan North American Free Trade Agreement (NAFTA). Sehingga akses untuk mengekspor kelapa sawit akan lebih mudah dibandingkan Indonesia dan Malaysia.
Baca Juga
Menko Airlangga: Biofuel di Indonesia Terus Dikembangkan, Tak Hanya Berbasis CPO
Ia mendorong agar pemerintah Indonesia segera mengajukan proposal perjanjian perdagangan bebas terbatas atau limited free trade agreement (FTA) dengan Amerika Serikat.
"Hanya saja tantangan kita adalah Indonesia itu belum punya FTA khusus dengan AS. Ini juga tantangan, artinya sebetulnya secara regulasi cenderung untuk lebih prefer ke impor dari Honduras, Meksiko dan sebagainya daripada Indonesia," terangnya.
"Oleh karena itu, saya dorong apakah mungkin tidak Indonesia FTA khusus dengan AS, cuma barangkali kita harus paham juga kira-kira sektor mana yang paling memiliki daya saing," tandas Dedi.
Berdasarkan data yang Dedi, pada 2021, AS mengimpor kelapa sawit dari Indonesia sebesar US$ 1,3 miliar, dan Malaysia US$ 232 juta. Kemudian, Honduras US$ 45,6 juta, dan Ekuador senilai US$ 7,16 juta. (CR-9)
Baca Juga
BPS Ingatkan Risiko Penurunan Harga Komoditas CPO, Batu Bara, dan Nikel
