Ekonomi Tumbuh Melambat, Ekonom BRI: Dibutuhkan Kewaspadaan
JAKARTA, investortrust.id - Ekonomi Indonesia di tahun lalu mampu tumbuh 5,04%, pertumbuhan ini melambat jika dibanding 2022 yang mampu tumbuh 5,3%. Menurut Chief Economist BRI Anton Hendranata, dibutuhkan kehati-hatian dalam menanggapi hal ini, karena pertumbuhan ekonomi nasional masih ditopang oleh permintaan domestik.
“Kita harus waspada karena pertumbuhan Indonesia mengandalkan permintaan domestik. Kalau dilihat dari data terakhir, permintaan domestiknya mengalami tekanan. Di kuartal keempat 2023 pertumbuhan konsumsi rumah tangganya di bawah 5% yaitu hanya 4,5%, dari kuartal ketiga yang bisa tumbuh 5,1%,” ujarnya dalam acara International Wealth Management Conference, Rabu (24/4/2024).
Selain permintaan domestik, lanjut Anton, pertumbuhan ekonomi nasional juga ditopang oleh investasi. Di sisi yang bersamaan, investasi juga mengalami perlambatan di tahun lalu. Ia memperkirakan kedua hal ini akan tetap berlanjut, khususnya permintaan domestik yang akan tetap melemah.
“Kalau melihat dari Kalau melihat dari leading economic indicator, kemungkinan besar pertumbuhan ekonomi indonesia pada 2024 memang akan melambat,” katanya.
Baca Juga
Ekonomi Dunia Tidak Pasti, Presdir BCA Life Sarankan ‘Wealth Manager’ Lakukan Ini
Kemudian, pihaknya juga memiliki perhitungan sendiri dengan menggunakan 35 variabel. Hasilnya, tren perlambatan juga masih akan berlanjut di tahun ini. Oleh karena itu, di tahun ini pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan akan tumbuh di kisaran 4,9%.
“Dasarnya adalah indikator daya beli masyarakat Indonesia cenderung mengalami tekanan dan perlambatan. Tren perubahan keyakinan konsumen di Indonesia cenderung mengalami penurunan. Hal ini karena ada perubahan persepsi pendapatan dan ketersediaan lapangan kerja yang unggul, bahkan kontraktif,” jelas Anton.
Dikatakan, tren perubahan pembelian barang tahan lama juga mengalami penurunan. Jika dilihat tingkat konsumsi konsumen yang juga cenderung menurun itu tercermin dari proporsi konsumsi terhadap pendapatan yang mengalami penurunan di awal 2022.
Baca Juga
BKF: Surplus Neraca Perdagangan Tunjukkan Ketahanan Perekonomian Indonesia
“Indikator lain dari perlambatan daya beli masyarakat juga tercermin dari tingkat inflasi yang melambat signifikan. Jadi ini harus hati-hati sebenarnya,” jelasnya.
Sementara, menurutnya, kalau dari sisi government mengklaim kondisi ini merupakan sebuah keberhasilan karena mampu menjaga inflasi. Padahal, kalau dari data inflasi inti, Indonesia jauh di bawah Amerika Serikat (AS).
