Ekonomi RI Diprediksi Stabil di 5% Sepanjang 2024
JAKARTA, investortrust.id - Pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi akan stabil di kisaran 5% sepanjang tahun 2024. Prediksi tersebut menguat usai Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan kinerja pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal I-2024 yang mencapai 5,11% (yoy).
Ekonom Senior DBS Group Research Radhika Rao mengatakan angka pertumbuhan 5,11% di kuartal I-2024 sesuai dengan prediksi sejumlah pihak. Secara indeks, konsumsi masyarakat berada pada kisaran 10% di atas periode sebelum pandemi, dan lebih lambat dari kenaikan 13% dalam pertumbuhan utama.
"Dengan kemungkinan kuartal II akan mendapat imbas manfaat dari kenaikan musiman, kami mempertahankan prediksi setahun penuh sebesar 5% untuk tahun ini," kata Radhika dalam keterangan tertulisnya, Selasa (7/5/2024).
Menurut Radhika pertumbuhan yang stabil sekaligus memberikan ruang bagi Bank Indonesia (BI) untuk mengelola stabilitas harga dan posisi rupiah dalam perdagangan nilai tukar (kurs). Usai Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI periode 23-24 April 2024 lalu memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate menjadi 6,25%, Radhika menyebut kenaikan suku bunga lanjutan masih dapat terjadi.
Ia memprakirakan BI akan masih agresif melakukan sejumlah intervensi pasar seperti pembelian obligasi, penarikan arus masuk hingga meminta BUMN untuk menahan pembelian indeks dolar Amerika Serikat (AS) dalam jumlah besar. Interventi BI berimbas menekan stok cadangan devisa sebesar US$ 6 miliar pada kuartal I-2024, setelah naik US$ 9 miliar di tahun 2023.
"Kami memprakirakan BI akan menunda penurunan suku bunga hingga 2025," ucap Radhika.
Baca Juga
Jerman Puji Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Salah Satu Tertinggi di ASEAN
Konsumsi akhir menjadi kontributor utama pertumbuhan PDB, yang naik signifikan 6,6% (yoy) dari angka rata-rata 4,7% di tahun 2023. Sementara konsumsi rumah tangga stabil di angka 4,9% (yoy), permintaan pemerintah naik tajam 20% (yoy) ditambah dengan lembaga nirlaba yang melayani Pengeluaran Konsumsi Akhir Rumah Tangga (NPISHs FCE) naik 24,3% pada akhir pengeluaran.
Pertumbuhan investasi melambat menjadi 3,8% (yoy) dari rata-rata 5% tahun lalu, sementara ekspor bersih berubah negatif. Kontribusi konsumsi naik 400 basis poin, terkuat dalam lebih dari satu dekade, sementara investasi dan perdagangan turun. Permintaan pra-perayaan, skema sosial, penyesuaian gaji pegawai negeri, bonus ke-13 dan pengeluaran kampanye menyambut pemilu kemungkinan berada di belakang nilai pertumbuhan.
"Frontloading investasi gagal memberikan dorongan material ke segmen ini, sementara ekspor barang melambat," sebut Radhika.
