Dampak Sanksi Ekonomi, Rusia Bekukan Aset Goldman Sachs 36 Juta Dolar AS
JAKARTA, investotrust.id - Perang Rusia-Ukraina sedikit banyak telah membawa dampak buruk terhadap perusahaan-perusahaan Barat yang dianggap “tidak bersahabat” dengan Rusia.
Sikap Rusia itu tidak dapat dilepaskan dengan sanksi Barat yang diberlakukan terhadap Negeri Beruang Putih itu. Akibat invasi Rusia ke Ukraina, negara-negara Barat menghukum Rusia dengana menerapkan sanksi ekonomi. Dan, menghadapi sanksi Barat itu, Rusia pun bergeming dan membalas dengan berbagai cara.
Goldman Sachs menjadi salah satu perusahaan yang terkena dampak. Sebagaimana dilansir Financial Times, Senin (14/8/2023), Pengadilan Moskow membekukan sementara aset Goldman Sachs. Nilainya sekitar US$ 36 juta atau setara Rp 549 miliar (Kurs Rp15.265 per US$).
Pembekuan aset itu dilakukan setelah bank milik negara Otkritie, yang berada di bawah sanksi Barat, mengajukan gugatan terhadap Goldman Sachs.
Otkritie menuduh Goldman menolak untuk memenuhi Rbs 615 juta ($6,4 juta) kewajiban utang berdasarkan perjanjian derivatif antara kedua bank, sesuai dokumen pengadilan yang diterbitkan awal bulan ini,
Goldman menunjuk pada sanksi yang dijatuhkan terhadap bank Rusia oleh AS dan negara Barat lainnya. Otkritie mengklaim bahwa Goldman Sachs ingin meninggalkan Rusia, yang akan membuat penagihan utang menjadi tidak mungkin, dan meminta agar pengadilan menyita aset bank AS itu untuk sementara sampai kasusnya diselesaikan.
Goldman adalah bookrunner untuk listing perusahaan di Moskow pada 2017. Pengadilan memerintahkan penyitaan sementara saham yang lebih kecil di perusahaan Rusia lainnya yang dimiliki oleh Goldman Sachs III SICAV yang terdaftar di Luksemburg. Aset ini termasuk saham di pemberi pinjaman Rusia terkemuka Sberbank dan VTB, yang sekarang memiliki Otkritie, serta Gazprom, Lukoil, maskapai penerbangan terbesar Rusia Aeroflot — semuanya di bawah sanksi dari barat — dan salah satu peritel top negara itu, Magnit. Dana Goldman telah menurunkan harga aset ini menjadi nol, menurut laporan tahunan 2022-nya. Namun, berdasarkan harga saham terbaru perusahaan, nilai pasar mereka melebihi $9,3 juta.
Goldman, yang hadir di Rusia sejak 1998, telah mengumumkan rencana pada Maret 2022 untuk menutup bisnisnya di Rusia. Pernyataan itu diumumkan segera setelah Moskow memerintahkan invasi penuh ke Ukraina. Namun, harapan untuk keluar dengan cepat buyar karena Vladimir Putin tahun lalu mengatakan pemilik asing dari negara-negara yang "tidak bersahabat" tidak dapat menyelesaikan kesepakatan tanpa persetujuannya.
