Capres Tak Serius Garap Anak Muda, Habib Jafar Khawatir Jadi Indonesia Gimik 2045
JAKARTA, Investortrust.id - Pendakwah Habib Husein Ja’far Al Hadar khawatir visi Indonesia Emas 2045 tidak tercapai dan justru menjadi Indonesia gimik. Hal ini lantaran para capres-cawapres maupun caleg di Pemilu 2024 cenderung hanya bermain gimik tanpa substansi. Padahal, dengan kemajuan teknologi saat ini, para capres-cawapres maupun caleg dapat menyampaikan gagasan, ide, visi misi, dan programnya melalui media sosial.
"Sangat mudah bagi kandidat untuk menyampaikan gagasan, dan visi misinya. Ada media sosial yang bisa digunakan oleh dia untuk menyampaikan gagasan itu. Sayangnya itu kemudian direduksi kepada hal-hal yang sifatnya gimik-gimik belaka, sehingga kemudiaj Indonesia Emas 2045 bisa jadi Indonesia gimik karena hal-hal yang tidak penting itu," kata Habib Jafar dalam diskusi "Ruang Politik Sehat" yang digelar Ikatan Alumni (Iluni) UI di Jakarta, Kamis (16/11/2023).
Baca Juga
Habib Jafar mengatakan, generasi muda mendominasi jumlah pemilih pada Pemilu 2024, yakni mencapai 106,3 juta dari total 204,8 juta. Namun, para bakal capres-cawapres dan caleg belum serius menggarap pemilih muda dengan memberikan pendidikan politik yang substantif. Bahkan, para kandidat mereduksi generasi muda hanya dengan gimik.
"Anak muda direduksi sebatas orang-orang yang berpikir hal yang hanya dalam konteks sifatnya tren, artifisial, enggak penting dan sebagainya. Bahkan kreativitas direduksi hanya tentang desain grafis, gimik ini, gimik itu. Ini suatu kecelakaan yang mengerikan bagi saya," tegasnya.
Menurutnya, hal itu seakan mendidik anak muda bahwa politik hanya hal remeh dan tidak penting. Selain itu, politik gimik menyebabkan mewabahnya asumsi, prasangka, dan praduga. Kondisi ini disebabkan para kandidat di Pemilu 2024 gagal memahami anak muda.
"Ini juga kesalahan pertama dari mereka dalam menentukan Indonesia Emas 2045 bahwa kita akan diarahkan kepada yang isinya gimik ini gimik itu," katanya.
Sebagai anak muda, Habib Jafar berharap kontestasi politik kali ini bergerak dari hal yang sifatnya artifisial menjadi substantif. Menurutnya hal itu membawa kebaikan bagi semua pihamk. Kandidat akan dipilih karena gagasan dan programnya dan anak muda mendapat pendidikan politik yang substantif. Kualitas demokrasi Indonesia juga akan semakin baik.
Ditekankan, generasi muda sebagai penerus bangsa seharusnya mendapat pendidikan politik yang substantif. Gimik hanya sebagai media untuk berkomunikasi dengan anak muda.
"Yang dibicarakan itu apa? Sama saja dengan yang dibicarakan kepada orang tua dan anak muda, yaitu substansi dari visi misi, dan program-programnya," katanya.
Baca Juga
Wapres Ma'ruf Amin Minta Bawaslu Tak Ragu Tindak Pelanggaran Pemilu 2024
Menurutnya, program yang disampaikan tidak hanya yang berkaitan dengan anak muda. Para kandidat harus menyampaikan visi misi dan pogram secara menyeluruh. Hal ini penting bagi pendidikan politik generasi muda agar tidak hanya memikirkan sesuatu yang berkaitan dengan dirinya, tetapi juga terkait bangsa dan negara.
"Kita mendidik anak muda bukan hanya ego kepada kepentingam dirinya, tetapi berkontribusi bagi kepentingan bangsanya. Bukan hanya soal apa yang dilakukan kandidat kepada anak muda, tetapi apa yang dilakukan kandidat kepada bangsa. Kita ingin anak muda itu aware terhadap kepentingan publik bersmaa bagi bangsanya," paparnya.
