Bursa Karbon Indonesia Resmi Beroperasi, Tapi Harga Empat Saham Ini Justru Anjlok
JAKARTA, Investortrust.id – Harga saham emiten yang berhubungan dengan kredit karbon ini justru berguguran, usai Presiden Joko Widodo, Selasa (26/9/2023), meresmikan Penyelnggara Bursa Karbon (PBK) di Indonesia.
Empat saham emiten yang berhubungan dengan kredit karbon terdiri atas PT Integra Indocabinet Tbk (WOOD), PT SLJ Global Tbk (SULI), PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), dan PT Kencana Energi Lestari Tbk (KEEN).
Baca Juga
Berdasarkan data penutupan perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (26/9/2023), penurunan terdalam melanda saham SULI mencapai Rp 39 (19,60%) menjadi Rp 160 dan disusul saham KEEN dengan pelemahan mencapai Rp 135 (12,74%) menjadi Rp 925.
Penurunan juga melanda saham PGEO mencapai Rp 120 (7,48%) menjadi Rp 1.485 dan WOOD melemah paling tipis senilai Rp 14 (2,94%) menjadi Rp 462.
Koreksi keempat saham perusahaan karbon tersebut sejalan dengan koreksi indeks harga saham gabungan (IHSG) BEI, Selasa (26/9/2023), ditutup anjlok 74,58 poin (1,07%) menjadi 6.923,80. IHSG bergerak dalam rentang 6.913 -7.019.
Baca Juga
Resmi Diluncurkan Jokowi, BEI Catat 459.953 Ton Unit Karbon Ditransaksikan di IDXCarbon
RHB Sekuritas sebelumnya menyebutkan Integra Indocabinet (WOOD) berpotensi mendapatkan tambahan pendapatan berkisar US$ 8-10 dari proyek karbon hutan alam dan berkisar US$ 9-10 juta dari proyek mangrove.
Sedangkan SLJ Global (SULI) selaku perusahaan manajemen kehutan dan dan perusahaan manufaktur kayu yang menguasai hutan alam seluas 625.000 ha berpotensi meraup tambahan pendapatan senilai US$ 30 juta.
RHB Sekuritas juga memperkirakan Pertamina Geothermal (PGEO) berpotensi meraup tambahan pendapatan senilai US$ 747.000 dari proyek Ulubelu dan Karaha.
Baca Juga
Sedangkan Kencana Energi (KEEN), perusahaan pembangkit listrik yang memiliki kapasitas 65 MW, berpotensi meraup tambahan pendapatan berkisar US$ 389.400-778.800 dari penjualan kredit karbon.
