Bukan Jokowi, Qodari Sebut Gibran Sosok Potensial Jadi Ketum Golkar
JAKARTA, investortrust.id - Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari turut menyoroti bursa ketua umum (ketum) Partai Golkar pada musyawarah nasional (munas) yang rencananya digelar pada Desember 2024 mendatang. Kontestasi ketua umum Partai Golkar kali ini sangat menarik karena munculnya nama Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai salah satu sosok yang disebut bakal turut memperebutkan kursi nomor satu di partai berlambang pohon beringin itu.
Qodari mengakui sebagai partai besar, kontestasi ketua umum Partai Golkar sangat menarik. Apalagi, dengan munculnya nama Jokowi. Namun, Qodari mengaku memiliki pandangan yang berbeda. Qodari menilai Jokowi akan tetap menjadi tokoh yang berada di atas partai politik koalisi pendukung pemerintah mendatang.
"Saya mungkin berbeda dengan beberapa pandangan atau analisis yang berkembang. Menurut saya Pak Jokowi tidak akan masuk ke Partai Golkar. Beliau tidak akan menjadi ketua umum dan beliau akan tetap menjadi tokoh yang berada di atas semua partai politik,” kata Qodari dalam keterangan pers yang diterima Rabu (13/3/2024).
Baca Juga
Sebelumnya, Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Bambang Soesatyo atau Bamsoet menyebut sejumlah nama pun muncul menjadi kandidat ketua umum Partai Golkar. Mereka adalah Ketua Umum Partai Golkar saat ini Airlangga Hartarto, Bamsoet, Menteri Investasi Bahlil Lahadalia, dan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kertasasmita.
Qodari menyebut satu nama potensial lainnya di luar nama yang disebutkan Bamsoet, yakni Gibran Rakabuming Raka.
"Menurut saya di luar empat nama yang disebutkan oleh Bambang Soesatyo, sesungguhnya menurut saya ada satu calon yang juga sangat potensial untuk menjadi ketua umum Golkar ke depan yaitu Gibran Rakabuming Raka,” ungkap Qodari.
Qodari mengungkapkan, terdapat dua alasan Gibran layak memimpin Partai Golkar. Pertama, Gibran bakal dilantik sebagai wakil presiden pada Oktober 2024. Selama ini, karakteristik Partai Golkar memiliki kecenderungan sebagai partai yang melekat dan menjadi bagian dari pemerintahan. Dengan demikian, karakteristik itu menjadi linear jika Gibran sebagai wapres sekaligus ketua umum Partai Golkar.
“Kita tahu bahwa Partai Golkar punya kecenderungan yang sangat kuat untuk memiliki kaki, memiliki akses di pemerintahan bukan hanya menteri tetapi juga atau bahkan wakil presiden karena Golkar adalah partai yang ideologinya karya dan kekaryaan dan selalu berorientasi untuk menjadi bagian dari pemerintahan,” jelasnya.
Qodari melihat pengalaman itu terjadi pada Jusuf Kalla (JK) saat menjabat pertama kali sebagai wakil presiden periode 2004-2009. Pada saat yang sama, JK juga berhasil menduduki ketua umum Golkar.
"Jadi saya kira pengalaman Pak JK itu menjadi sebuah pertanda suasana kebatinan yang sangat kuat di Partai Golkar untuk memiliki kaki atau akses di pemerintahan,” katanya.
Kedua, kata Qodari, Partai Golkar ke depan harus berorientasi anak muda. Hal ini mengingat pemilih terbanyak berasal dari kalangan muda. Untuk itu, Partai Golkar juga harus diisi oleh banyak anak-anak muda.
“Partai Golkar ini adalah partai yang tua, partai besar dan kalau kita bicara mengenai pemilih pada hari ini dan pemilih di masa yang akan datang, saya kira Partai Golkar mengalami tantangan bagaimana agar partai ini bisa menjadi partai yang punya orientasi kepada anak muda dan punya tokoh yang juga berasal dari anak muda,” katanya.
Menurut Qodari, peran penting anak muda sudah disadari oleh Partai Golkar. Hal ini terlihat dari regenerasi pengurus Partai Gplkar yang saat ini mulai didominasi anak muda.
"Kita lihat adanya regenerasi generasi kedua dan generasi ketiga dari pengurus Golkar kepada anak-anak mereka, misalnya begitu banyak sekali anak-anak muda di Golkar yang merupakan penerus dari orang tuanya yang sudah berkiprah lama di Partai Golkar,” lanjutnya.
Qodari mengatakan, akan sangat menarik jika Golkar memiliki tradisi baru yaitu dipimpin anak muda, dalam hal ini Gibran Rakabuming Raka, bukan lagi dari politisi senior sebagai pucuk pimpinannya.
“Dan kita lihat juga iklan media iklan politik, iklan pemilunya Partai Golkar juga ada satu versi khusus yang ditujukan kepada anak muda. Nah tentunya akan sangat menarik bagi Partai Golkar apabila Partai Golkar ini masuk kepada sebuah tradisi baru di mana ketua umumnya betul-betul anak muda dalam hal ini Gibran Rakabuming Raka setelah bertahun-tahun sebelumnya orientasinya selalu kepada tokoh yang berusia senior atau berusia lanjut,” paparnya.
Dengan dipimpin anak muda, Qodari menilai peluang Partai Golkar secara elektoral naik signifikan di masa depan akan terbuka lebar. Apalagi, melihat pemilih pasangan Prabowo-Gibran yang meraih kemenangan di Pilpres 2024 didominasi kalangan muda.
“Kita lihat dari berbagai survei dan exit poll memang pemilih Prabowo-Gibran itu mayoritas di semua kelompok usia, tetapi khusus untuk generasi milenial dan generasi Z proporsinya jauh lebih tebal dibandingkan dengan generasi baby boomers atau generasi X. Jadi itu satu indikasi menurut saya bahwa Gibran memiliki daya tarik yang sangat kuat pada anak-anak muda,” jelasnya.
Baca Juga
Kembali Maju Jadi Caketum Golkar, Airlangga: Munas Desember 2024
Qodari menilai Gibran merupakan sosok yang tepat untuk memimpin Golkar karena memiliki daya magnet untuk mendongkrak suara Golkar dengan paradigma dan orientasi membawa Indonesia maju pada 2045 mendatang.
"Di luar bahwa kemudian nanti program-program Partai Golkar juga akan diwarnai oleh alam pikir atau paradigma berpikir yang berorientasi kepada anak muda dan generasi masa depan serta orientasi pemikiran Indonesia maju 2045 yang akan datang,” kata Qodari.
