BSI Kejar Potensi Pendanaan dan Pembiayaan Industri Halal
JAKARTA, investortrust.id - Wakil Direktur PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) Bob T. Ananta mengatakan, pihaknya terus mengejar pendanaan dan pembiayaan industri halal di Indonesia.
Langkah ini dilakukan BSI karena melihat belum terjalinnya perbankan syariah dan industri halal Indonesia.
“Masih ada diskonektivitas supply dan demand, antara perbankan syariah dan industri halal yang menjadi tantangan,” kata Bob, saat memberi paparan di Seminar Nasional Sharia Economic & Financial Outlook (ShEFO) 2024, yang digelar daring, Senin (26/02/2024).
Baca Juga
Lampaui Industri, Sekuritas Ini Pasang Target Harga Saham Bank Syariah (BRIS) Rp 2.700
Bob mengatakan, saat ini indeks inklusi dan literasi keuangan syariah Indonesia masih terbilang kecil di banding keuangan secara nasional. Mengutip Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 2022 literasi keuangan syariah baru mencapai 9,14% dan inklusi keuangan syariah sebesar 12,12%. Bandingkan dengan literasi dan inklusi keuangan nasional yang mencapai masing-masing 49,68% dan 85,10% di tahun yang sama.
“Betapa rendahnya inklusi dan literasi keuangan syariah dibanding keuangan nasional,” kata dia.
Padahal, kata Bob, Indonesia sebagai salah satu negara dengan penduduk mayoritas muslim terbesar di dunia memiliki potensi keuangan syariah. Untuk itu, BSI dalam 4-5 tahun mendatang akan membidik potensi pendanaan dan pembiayaan untuk industri halal.
“Potensi funding ada Rp 212,14 triliun dan potensi untuk financing ada Rp 158,21 triliun,” kata dia.
Baca Juga
Luncurkan IndoFringe@Sekolah Tahun 2024, Menparekraf Bidik Rekor Dunia
Bob menyebut angka tersebut sebagai potensi yang menggiurkan. Untuk mencapainya, Bob berupaya menyisir sektor yang mampu didanai di berbagai sub-ekosistem.
Misalnya, halal healtcare. BSI mencatat saat ini terdapat sekitar 500 rumah sakit Islam yang dapat didanai. Selain itu, terdapat sektor makanan dan minuman halal, serta fashion halal yang digerakkan sekitar 650.000 UMKM.
Ada pula sekolah islam yang terdiri dari 82.000 sekolah, 27.000 pesantren, dan 800 universitas yang menjadi target BSI. “Dan sebetulnya yang menjadi fokus adalah ekosistem haji dan umroh dengan 1,5 juta jemaah per tahun. Yang menjadi salah satu terbanyak kunjungannya di Mekah,” kata dia.
Meski demikian, upaya untuk mencapai target tersebut tidaklah mudah. Bob mengatakan saat ini industri halal masih terhalang beberapa kendala.
Bob menyontohkan, di sektor industri makanan dan minuman halal. Saat ini baru terdapat 3,9 juta produk yang bersertifikasi halal. “Dari target 10 juta sertifikasi pada 2024,” kata dia.
Persoalan lain yang muncul yaitu masih tergantungnya industri halal Indonesia dari bahan baku impor. Terakhir, kata dia, upaya pengembangan sistem logistik halal yang masih minim.
