BRI-MI Sebut Ekonomi Indonesia Baik-baik Saja, Ini Alasannya
JAKARTA, investortrust.id – Chief Investment Officer PT BRI Manajemen Investasi (BRI-MI), Herman Tjahjadi memaparkan credit rating Indonesia berada pada kondisi baik-baik saja. Dengan kredit rating BBB dan defisit fiskal -1,7% pada tahun 2023, Indonesia dinilai masih bisa bertahan di tengah-tengah negara BBB+ lainnya.
Herman juga menyatakan, dari sisi neraca pembayaran, Indonesia telah melampaui Thailand dan Uruguay. “Dibandingkan dengan beberapa negara BBB+ lainnya, Indonesia doing good, gitu ya,” tandas Herman dalam seminar Investortrust Economic Outlook 2024, Jakarta, Kamis (25/1/2024).
Dia menambahkan, di sisi neraca pembayaran, Indonesia sudah mengalami transformasi dan sudah melampaui Thailand dan Uruguay. Bandingkan dengan Amerika yang pada bulan Juli dan Agustus 2023 mengalami credit rating downgrade menjadi AA+ dari sebelumnya AAA.
Baca Juga
BRI-MI Sebut Suku Bunga Akan Turun 2024, Terjadi Disinflasi?
“Kemudian, neraca berjalan Indonesia sudah mengalami transformasi, jadi dibandingkan dengan negara BBB+, Indonesia sebenarnya di atas Thailand dan Uruguay,” tambah Herman.
Dari sisi inflasi, Indonesia masih terbilang baik dibandingkan dengan negara BBB+ lain. Sedangkan yield spread Indonesia berkisar 2 – 2,5%.
“Inflasi Indonesia juga sangat-sangat terjaga dibandingkan dengan negara BBB+ lain, ini yang menyebabkan yield spread kita antara yield US Treasury 10 tahun sekarang cuma sekitar 2 – 2,5%,” katanya.
Dengan yield spread Indonesia yang berkisar 2 – 2,5% pada bulan Januari 2024, pasar saham Indonesia mendapat dana asing sekitar Rp7 triliun. sedangkan dana yang masuk ke pasar obligasi sekitar Rp6 triliun. “Jadi, dalam bulan Januari 2023, bisa dibilang kita mendapat (total) in flow sekitar US$0,8 triliun,” imbuh Herman. (CR-3)
Baca Juga
BRI-MI Proyeksi Pertumbuhan PDB RI Lampaui Jepang, Eropa, hingga Australia
