BRI Group (BBRI) Targetkan Jaring 8,4 Juta Nasabah Baru di 2024
JAKARTA, investortrust.id - Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Sunarso mengatakan, Holding Ultra Mikro (UMi) dibentuk untuk memperluas akses pendanaan. Setelah mendanai sekitar 36,6 juta nasabar, BRI Group menargetkan bisa meningkatkan menjadi 45 juta nasabah tahun ini.
"Spirit dibentuknya holding ultra mikro adalah agar seluruh institusi-institusi termasuk institusi bisnis di bawah BUMN itu dalam melayani masyarakat mikro bisa lebih efisien dan memiliki daya jangkau lebih luas," kata Sunarso dalam diskusi How Ultra Micro Holding Connects Finance to Millions in Indonesia di Jakarta, Jumat (12/1/2023).
Sejauh ini holding ultra mikro telah memperluas akses layanan keuangan kepada masyarakat mikro dan ultra mikro di Indonesia. Seiring dengan itu, Umi pun berperan menjadi sumber pertumbuhan baru yang berkelanjutan bagi bisnis BRI Group.
Tahun ini, BRI Group menargetkan bisa mendanai 45 juta pelaku usaha kecil menengah (UMKM). Sampai September 2023, total nasabah Holding UMi di bawah BRI, PT Pegadaian (Persero), dan Permodalan Nasional Madani (PNM) sebanyak 36,6 juta. Dengan demikian, untuk mencapai target, BRI Group perlu menjaring sebanyak 8,4 juta nasabah baru sepanjang 2024 ini.
Menurut Sunarso, potensi pembiayaan di segmen bisnis ultra mikro masih sangat besar, sehingga ada sumber pertumbuhan potensial dan melimpah di segmen tersebut.
Baca Juga
Namun, ada tantangan berupa operational cost dan operational risk yang tinggi karena melibatkan orang banyak dan banyak tempat. Untuk itu, digitalisasi menjadi salah satu solusi untuk mewujudkan efisiensi.
"Dengan digital kita bisa menyelesaikan persoalan operational risk yang tinggi dan operational cost yang tinggi," ujar Sunarso.
Pada 2018, terdapat 45 juta bisnis ultra mikro yang membutuhkan pembiayaan. Dari total tersebut, hanya 15 juta bisnis ultra mikro yang sudah terlayani oleh layanan keuangan formal, yang terdiri dari tiga juta bisnis UMi dilayani bank, tiga juta ke gadai atau pawn lending, enam juta ke group lending, 1,5 juta ke BPR dan 1,5 juta fintech.
Sementara, lima juta ultra mikro memenuhi kebutuhan pendanaan dari rentenir (loan shark) dan tujuh juta ke keluarga dan teman, sementara 18 juta tidak terlayani sama sekali.
"Di rentenir itu bunganya paling murah 100 persen di hitung tahunan dan sampai 500 persen setahun," tuturnya.
Selanjutnya, berdasarkan riset terakhir, Sunarso mengatakan bisnis ultra mikro yang membutuhkan pembiayaan meningkat menjadi 48 juta. Dari total tersebut, yang sudah tersentuh oleh layanan keuangan formal juga naik dari 15 juta menjadi 34 juta bisnis ultra mikro. (Antara/fi)
Baca Juga
BRI Peduli Dukung Kegiatan “Urban Farming” di Tengah Kota Medan
